Jase Is Mine

Jase Is Mine
Bab 55 - Sadness In Funeral



...༻♚༺...


Semua orang dalam balutan pakaian hitam. Desa Devory diselimuti awan hitam serta gerimis. Seolah ikut sedih dengan kepergian Selene.


Ada banyak orang yang datang melayat. Selene memang dikenal sebagai orang yang baik hati. Para keluarga kerajaan bahkan ada yang datang. Termasuk, Edward, James bahkan Evelyn. Mereka datang secara rahasia.


Jasmine disuruh menyampaikan kalimat perpisahan sebelum Selene benar-benar dimakamkan. Dia berjalan pelan ke arah depan. Kemudian berdiri di podium yang telah disediakan.


Suasana yang tadinya dipenuhi oleh suara orang-orang bicara, berubah menjadi hening. Perhatian seluruh orang di ruangan tertuju kepada Jasmine.


Jasmine berusaha tenang dan membuka secarik kertas yang sudah disiapkannya. Dia mempersiapkan pesan untuk disampaikan kepada Selene dan semua orang yang hadir.


"Kehilangan seseorang untuk selamanya bukanlah suatu hal yang mudah. Rasanya sungguh berat. Tetapi, tak ada jalan yang lebih baik selain mengikhlaskannya." Jasmine terjeda sebentar. Sebab air matanya berjatuhan begitu saja. Dia terpaksa melanjutkan membaca sambil menangis. "Air mataku menetes di hari kepergianmu. Sungguh aku sangat kehilanganmu... terima kasih sudah selalu mengajariku banyak hal. Kau juga berusaha membahagiakanku dengan berbagai cara. Terima kasih telah bersedia menjadi ibu terbaik dalam hidupku. Aku tidak akan pernah melupakanmu. Sedetik pun. Aku meminta maaf sebesar-besarnya, kalau aku sering membuatmu marah, kecewa, bahkan menangis. Aku tahu diriku bukanlah seorang putri yang sempurna..." Jasmine lagi-lagi berhenti membaca. Tangisannya menular kepada semua orang yang berhadir.


"I'm so sorry..." ungkap Jasmine. Dia merasa buruk karena tidak bisa menyampaikan pesan perpisahan dengan baik. Entah sudah berapa kali Jasmine menghapus cairan bening yang menetes di pipi.


Edward bangkit dari tempat duduk. Dia berniat maju ke depan untuk menenangkan Jasmine. Namun usahanya didahului oleh Nathalie. Wanita tua itu tampak mengelus pelan pundak Jasmine.


"It's ok, Jase. Jika kau tidak sanggup, kau bisa berhenti saja," saran Nathalie.


Jasmine lekas menggeleng. Dia bersikukuh ingin terus membaca pesan perpisahan. Alhasil Nathalie mengalah dan mempersilahkan.


Jasmine memasang mimik wajah datar. Lalu melanjutkan, "Mother... kau adalah orang terkuat yang pernah kutahu. Kau bahkan menyembunyikan penyakit yang kau derita dariku. Aku yakin... dirimu akan bahagia di sana bersama Ayah."


Begitulah akhir pesan yang disampaikan Jasmine. Selanjutnya, semua orang segera pergi ke area pemakaman. Jasad Selene yang ditutupi dengan peti kayu berwarna cokelat, perlahan menghilang dimakan gundukan tanah.


Cuaca yang tadinya gerimis, lama-kelamaan berubah menjadi tetesan air lebih deras. Menyebabkan para pelayat yang ada, ingin bergegas pulang.


Satu per satu semua orang pergi. Hanya menyisakan, Jasmine, Nathalie, Edward, dan Ronald. Mereka sebenarnya ingin beranjak, namun Jasmine bersikeras tinggal.


"Jase, hujan semakin lebat. Kau juga harus beristirahat. Nanti kau sakit," ujar Nathalie. Membujuk Jasmine pulang. Dia berusaha memayungi Jasmine sebisa mungkin.


"Tinggalkan saja aku di sini. Aku masih ingin bersama ibu..." lirih Jasmine.


Edward yang merasa iba, langsung turun tangan. Dia menyuruh Ronald untuk membawa Nathalie pulang. Sementara dirinya akan menemani Jasmine.


"Yang Mulia tidak perlu repot-repot. Anda pasti lelah. Biar aku saja yang menemani Jasmine di sini." Nathalie awalnya menolak permohonan Edward.


"Tidak. Nenek harus beristirahat. Aku yakin anda lebih lelah dariku," tutur Edward.


"Tapi aku tidak bisa membiarkan--" ucapan Nathalie terhenti kala Edward memegang lembut tangannya.


Edward lantas berbisik kepada Nathalie, "Aku mencintai Jasmine. Izinkan aku menemaninya."


Pupil mata Nathalie membesar. Dia tidak menyangka seorang Pangeran jatuh cinta kepada cucunya sendiri. Terasa canggung tetapi juga terkagum.


Nathalie sempat terdiam dalam sekian detik. Ia mencoba mencerna kebenaran yang baru saja dikatakan Edward.


"Aku bersungguh-sungguh." Sekali lagi Edward bicara. Ekspresinya yang serius, membuat Nathalie merasa percaya.


"Baiklah. Aku menunggu kepulangan kalian di rumah. Terima kasih banyak, Pangeran." Nathalie akhirnya setuju. Dia segera pulang dengan ditemani oleh Ronald.


"Pulanglah, Ed..." kata Jasmine. Dia merasa tidak enak.


"Aku akan menemanimu sampai kau selesai. Bahkan jika badai datang, aku akan tetap bersamamu," balas Edward. Dia menatap tempat yang sama dengan Jasmine. Yaitu makam Selene yang berhiaskan batu nisan.


Jasmine membisu. Dia tiba-tiba menangis kembali. Rasa sedihnya masih belum pulih. Jasmine memeluk tubuhnya sambil menundukkan wajah. Rambut cokelatnya terlihat sedikit basah akibat terkena cipratan air hujan.


Edward tidak kuasa untuk tidak ikut bersedih. Dia membawa Jasmine ke dalam dekapan. Rasa hangat seketika menjalar di antara mereka.


Jasmine menangis di pelukan Edward. Dia melingkarkan dua tangannya ke pinggul lelaki itu. Sedangkan wajahnya dibenamkan ke dada bidang Edward.


"Aku di sini bersamamu, Jase." Edward mengelus lembut punggung Jasmine. Sementara tangan yang satunya sibuk memegangi payung.


Jasmine dan Edward tenggelam dalam suasana cukup lama. Di waktu tak terduga, Jasmine mendadak melemah. Membuat Edward otomatis merasa khawatir. Jasmine hampir saja pingsan. Nampaknya dia sudah kelelahan.


"Kita sebaiknya pulang sekarang," ajak Edward sembari menuntun Jasmine untuk melangkah. Akan tetapi Jasmine tidak kuat lagi menopang tubuhnya. Gadis itu berakhir jatuh pingsan.


Edward langsung menangkap badan Jasmine. Ia reflek melepas payung dalam genggaman. Lalu bergegas menggendong Jasmine dengan ala bridal style.


Edward berlari melewati hujan yang deras. Dia berupaya keras melindungi Jasmine dari tetesan air dari langit. Nafasnya mulai memburu. Untung saja tenaga Edward terbilang kuat. Sehingga dirinya mampu membawa Jasmine ke mobil.


Tanpa pikir panjang, Edward langsung menjalankan mobil. Dia mengantarkan Jasmine pulang ke rumah. Edward juga tidak lupa menghubungi Dokter khusus untuk memeriksa Jasmine.


Dokter mengatakan bahwa Jasmine hanya kelelahan. Gadis itu perlu istirahat dan makan yang banyak. Dokter menduga Jasmine tidak makan selama beberapa hari terakhir. Terbukti dari bibirnya yang tampak pucat.


Edward memutuskan tinggal di desa Devory sampai Jasmine pulih kembali. Dia bahkan mengabaikan perintah dari Ratu yang menginginkannya untuk kembali ke istana.


Satu malam terlewati. Jasmine akhirnya terbangun. Sinar matahari menyambut penglihatan. Dia perlahan duduk ke pinggir kasur. Mencoba mengumpulkan semua kesadaran.


Ceklek...


Pintu terbuka pelan. Edward muncul dari balik pintu. Dia merasa senang dapat melihat Jasmine sudah siuman. Tanpa basa-basi, Edward memerintahkan Ronald untuk mengambilkan sarapan.


"Kau belum pulang?" tanya Jasmine tak percaya. Dahinya mengerut dalam.


"Kenapa kau bertanya? Jelas-jelas aku berada di depan matamu," sahut Edward seraya memasukkan kedua tangan ke saku celana. Ia segera duduk di sebelah Jasmine. Berlagak seperti mengamati tampilan kamar. Padahal hampir semalaman Edward menemani Jasmine di sana.


Jasmine mendengus kasar. Dia kehabisan cara untuk menyuruh Edward pergi. Belum sampai di sana, Jasmine tambah terkejut saat menyaksikan Joy juga ikut andil tinggal di rumahnya.


..._____...


Guys, author mau ucapkan terima kasih banyak buat yang masih setia baca cerita Jasmine ini. Semoga kalian betah terus ya... love you!


Btw, aku mau sekalian promosi novel baru. Buat kalian yang penasaran, silahkan mampir dan cek profilku.


Oh iya, karakter utama di novel ini berbanding terbalik sama karakter Jasmine. Alias tipe wanita pemberontak dan kuat. Tidak disarankan untuk yang di bawah umur 21 ya... hehe


Ya sudah itu aja... Makasihhh ♡