
...༻♚༺...
Bersamaan dengan perayaan ulang tahun Evelyn, saat itu juga identitas Edward diumumkan. Ternyata Evelyn sudah menyiapkan rencananya jauh-jauh hari. Tidak heran dia bersikeras menyuruh Edward datang ke istana. Apa yang dilakukan Evelyn sangat tiba-tiba. Bahkan membuat Edward merasa terkejut.
Edward tidak bisa berbuat apa-apa. Semuanya terlanjur terjadi. Ia hanya bisa menghadapi respon positif dan negatif dari seluruh rakyat Britania Raya. Dirinya juga harus lebih sering menjalani kegiatan kerajaan.
Edward duduk termenung menatap rintik air hujan. Dia beberapa kali mencoba meninggalkan istana, tetapi Evelyn selalu saja mencegat. Sehingga Edward harus mengubur rasa rindunya terhadap Jasmine.
Hanya mengirimkan bantuan semaksimal mungkin, itulah yang bisa dilakukan Edward untuk Jasmine. Mulai sekarang Edward akan tinggal di istana. Meskipun begitu, dia akan tetap melanjutkan kuliah. Bedanya jadwal keseharian Edward akan lebih padat dari biasanya.
'Harusnya aku tidak berjanji kepada Jasmine. Aku tidak menyangka Nenek akan langsung membeberkan identitasku,' batin Edward.
Jam menunjukkan jam delapan pagi. Edward telah bersiap untuk berangkat ke kampus. Dia berharap kali ini bisa bertemu Jasmine. Sebab di hari-hari sebelumnya gadis itu sama sekali tidak terlihat batang hidungnya.
Mobil sedan berhenti pelan di halaman kampus. Edward segera keluar dari mobil. Semua pasang mata tertuju ke arahnya. Semua orang menatap kagum. Apa yang pernah dilakukan Edward seketika sirna begitu saja. Reputasi jahil dan pemarah tenggelam dalam identitas mengagumkan sosoknya sekarang.
Menjadi dua kali lipat lebih tampan. Begitulah pandangan orang-orang terhadap Edward. Belum lagi dengan nilai tambah prestasinya yang cukup gemilang.
"Hai, Ed!"
"Ed..."
Orang-orang yang kebetulan dilewati Edward, menyapa dengan ramah serta senyuman. Mereka berharap bisa dekat dengan sosok Edward. Segalanya benar-benar berubah drastis.
Dari kejauhan, Joy tampak sedang rebahan di bangku panjang. Tanpa basa-basi, Edward langsung menghampiri. Kemudian menanyakan perihal Jasmine.
"Joy, apa Jasmine hari ini kuliah?" tanya Edward sembari mengambil buku yang menutupi wajah Joy.
Joy reflek menutupi matanya dari sinar matahari. Kebetulan hujan sudah reda. Joy perlahan merubah posisi menjadi duduk. Menatap lelaki berambut pirang yang nekat mengganggunya.
"Ah... Pangeran sepertinya sedang kehilangan kekasihnya." Joy melipat tangan di depan dada.
Edward memutar bola mata malas. "Jangan memperpanjang waktu. Apa Jasmine ke kampus hari ini?" ujarnya lagi. Tak peduli dengan kalimat Joy yang terdengar seperti ejekan.
"Itulah yang aku tanyakan setiap hari. Jasmine sangat misterius bukan? Dia tidak menjawab telepon dan pesan dariku selama beberapa hari. Apa dia juga melakukannya kepadamu?!" Joy menuntut jawaban.
Edward hanya diam. Kedua alisnya hampir bertautan. Dia berpikir, ternyata tidak hanya dirinya yang kena pengabaian Jasmine. Alhasil Edward beranjak kembali menuju mobil. Ia tidak punya pilihan selain turun tangan sendiri menemui Jasmine.
Tanpa sepengetahuan Edward, Joy mengikuti dari belakang. Lalu ikut masuk ke mobil bersama Edward.
"Kau kenapa mengikutiku?" timpal Edward tak percaya.
"Karena aku yakin, kau akan mencari Jasmine. Kita temui dia bersama-sama! Aku akan memarahinya habis-habisan." Joy menggerutu sambil memasang sabuk pengaman.
"Kau tidak bisa memarahinya. Jasmine sedang kesusahan sekarang. Penyakit yang diderita ibunya bertambah parah," jelas Edward seraya menjalankan mobil.
"Benarkah?" raut wajah Joy langsung berubah menjadi masam. Rasa khawatir mendadak menyelimuti.
Jasmine mulai menangis. Terutama saat mendengar suara datar alat EKG. Hal itu menandakan bahwa jantung Selene sudah berhenti berdetak.
Dokter yang bertugas menggeleng lemah. Dengan berat hati dia mengumumkan kematian Selene Eden. Isakan tangis langsung terdengar dari Jasmine dan Nathalie.
"Tidak! Kumohon lakukan sesuatu, Dokter! Aku yakin--"
"Sudahlah, Jase. Dokter sudah melakukan yang terbaik." Nathalie mencoba menenangkan. Dia memeluk Jasmine dengan erat.
Cairan bening membanjiri sudut mata Jasmine. Rasa sakit yang tak tertahan di hati menyebabkan tangisannya menjadi tersedu-sedu. Apa yang bisa dilakukan, jika Selene memang sudah ditakdirkan pergi selamanya.
Jasmine segera memeluk tubuh Selene yang telah tidak bernyawa. Rasa hangat dari badan ibunya perlahan memudar. Jasmine ingin merasakan kehangatan tersebut di detik-detik akhir kepergian Selene.
"Kenapa Ibu sangat cepat menyusul Ayah? Padahal Ibu belum sempat melihatku menjadi seorang perancang baju yang sukses..." lirih Jasmine sembari terus merengek. Air matanya tidak berhenti melinangi kedua pipinya.
"Kumohon... izinkan aku bicara kepadamu untuk yang terakhir kalinya. Aku tidak peduli walau itu hanya sebentar..." wajah Jasmine sepenuhnya telah memerah akibat kesedihan yang dia rasakan.
Tidak ada yang abadi. Apalagi nyawa manusia. Sejak dahulu hingga sekarang, itu adalah kodrat yang harus di hadapi semua orang. Ilmuwan saja masih belum ada yang mampu memecahkan teka-teki sebuah kematian. Satu hal yang pasti, yaitu rasa sakit.
Hanya ada air mata dan kenangan yang tersisa. Meskipun kenangan tersebut hanya terlintas sebentar, tetapi entah kenapa rasanya begitu sakit. Mengingat orang bersangkutan tidak akan pernah muncul lagi di depan mata.
Jasmine sangat ingin kembali ke masa lalu. Tepat di waktu dirinya masih bisa tersenyum bahagia bersama Selene. Namun apalah daya, Jasmine tidak mampu melakukan apapun selain menerima kenyataan.
"Jase, kita harus bersiap kembali ke desa Devory. Ibumu ingin jasadnya dikubur di samping ayahmu," tutur Nathalie. Kedua tangannya mengelus lembut pundak Jasmine. Dia segera membawa cucunya itu duduk keluar ruangan.
Jasmine tidak kunjung berhenti menangis. Parasnya yang cantik berubah menjadi sembab. Edward dan Joy terlihat baru saja datang. Mereka langsung menghampiri Jasmine.
"Jase, apa yang terjadi?" tanya Edward cemas. Dia kebetulan mengenakan topi dan masker untuk menutupi sebagian wajah. Edward terpaksa melakukannya agar tidak menarik perhatian. Sebab berita tentangnya masih menjadi topik hangat di Inggris.
"Kau siapa?" Nathalie memicingkan mata. Wanita tua sepertinya tentu tidak dapat mengenali secara jelas wajah Edward yang setengah tertutup.
Edward lantas memperlihatkan wajahnya sebentar. Setelah Nathalie mengenalinya, barulah Edward kembali mengenakan topi dan masker.
Nathalie bergegas berdiri karena berniat membungkuk hormat. Akan tetapi Edward dengan cepat mencegah. Dia tidak mau Nathalie terlalu berlebihan.
"Apa yang terjadi kepada Jasmine? Apa ibunya baik-baik saja?" timpal Joy. Ia ingin tahu alasan dibalik tangisan Jasmine.
"Her mother..." Nathalie tidak kuasa melanjutkan. Dia langsung tertunduk dalam keadaan mata yang berembun.
Joy yang mengerti, segera duduk ke samping Jasmine. Memeluk sambil ikut menangis bersama sahabatnya tersebut.
Sementara Edward, berjongkok tepat di depan lutut Jasmine. Tanpa sadar, air matanya ikut berjatuhan. Edward tahu betul sakitnya ditinggalkan selamanya. Dia tidak tahu bagaimana cara menghadapi Jasmine. Sebab dirinya tidak pandai dalam hal menghadapi duka.
Edward hanya berharap, Jasmine dapat menjadi gadis yang kuat. Meskipun gadis itu sudah yatim piatu. Edward berjanji akan menjaga dan membahagiakan Jasmine.