Jase Is Mine

Jase Is Mine
Bab 58 - Keseriusan Edward



...༻♚༺...


Jasmine memeluk Edward dari samping. Tubuhnya masih terasa lemas. Hal serupa juga dirasakan oleh Edward.


"Jase, kau akan kembali ke London bukan?" celetuk Edward. Perlahan menoleh ke arah Jasmine.


"Entahlah..." jawab Jasmine lirih.


Edward memutar mata malas kala mendengar jawaban ambigu. Dia ingin memastikan Jasmine kembali ke London bersamanya.


"Kumohon... setidaknya lakukanlah untukku. Aku ingin menjalani hubungan yang lebih serius denganmu." Edward mengungkapkan.


"Secepat itu? Bukankah kita baru beberapa minggu berpacaran?" tanggap Jasmine sembari merubah posisi menjadi duduk. Ia segera mengenakan pakaian.


"Kau tidak serius denganku?" Edward menyimpulkan.


"Bukan begitu. Hanya saja, aku belum siap menghadapi keluargamu. Belum lagi respon orang-orang terhadap hubungan kita," ungkap Jasmine.


"Ya sudah. Kita jalani pelan-pelan. Tetapi aku tidak mau terlalu lama menyembunyikan hubungan kita. Apalagi setelah kepergian ibumu. Aku tidak mau kau merasa kesepian sepertiku dahulu," tutur Edward. Dia baru saja memakai baju dan celananya.


Jasmine mengangguk lemah. Selanjutnya, Edward menggenggam erat jari-jemari Jasmine. Mereka lantas saling melemparkan senyuman.



Hari menjelang malam. Jasmine sibuk membantu Nathalie memasak di dapur. Mereka akan menyajikan hidangan khusus untuk Edward.


Tanpa disangka, terdengar suara mobil dari halaman rumah. Jasmine berlari untuk melihat siapa yang datang. Betapa kagetnya dia, ketika menyadari kemunculan Ratu Evelyn.


Jasmine bergegas membuka pintu. Menyambut kedatangan Evelyn dengan cara membungkuk hormat. Kemudian mempersilahkan masuk.


Nathalie yang baru mengetahui kedatangan Ratu, sama terkejutnya dengan Jasmine. Dia reflek memegangi dadanya. Lalu segera menenangkan diri.


Untung saja hidangan makan malam sudah hampir selesai. Jadi Nathalie dan Jasmine bisa menyuguhkannya kepada Evelyn. Sedangkan Edward, sedari tadi belum kunjung keluar dari kamar. Sepertinya lelaki itu tengah sibuk membersihkan diri.


"Kamu yang namanya Jasmine bukan?" tanya Evelyn seraya memegangi pundak Jasmine.


"Iya, Yang Mulia." Jasmine tersenyum tipis. Bersamaan dengan anggukan pelan.


"Ayo kita bicara, Jasmine. Ronald tadi siang baru memberitahukanku tentang sesuatu." Evelyn mengajak Jasmine duduk bersamanya di sofa. Sebelum duduk, Evelyn sempat meminta izin terlebih dahulu.


"Aku boleh duduk di sini kan?" ujar Evelyn.


"Tentu saja, Yang Mulia. Kenapa anda repot-repot meminta izin?" tanggap Jasmine.


"Aku juga harus menghormati Tuan rumah bukan?" Evelyn mengembangkan senyuman. Lalu segera duduk ke sofa.


Jasmine sebenarnya merasa gugup. Terutama saat mendengar mengenai pemberitahuan Ronald kepada Evelyn. Mungkinkah Ronald memberitahu tentang hubungan Jasmine dengan Edward? Jika begitu, apakah Jasmine akan kena marah Ratu?


Jasmine memainkan jari-jemarinya tanpa alasan. Sedangkan Evelyn justru memandang teduh kepada gadis itu.


Beberapa saat kemudian, Edward terlihat turun dari tangga. Matanya terbelalak ketika menyaksikan kehadiran Evelyn.


"Nenek! Kenapa Nenek bisa ada di sini?" tanya Edward sembari berlari kecil untuk duduk ke sebelah Jasmine.


Ronald yang sejak tadi berdiri di belakang Evelyn, memberikan kode kepada Edward. Dia hendak memberitahukan kalau Ratu sudah mengetahui hubungan khusus yang terjadi di antara Edward dan Jasmine.


"Apa Nenek ingin menanyakan sesuatu?" Edward memastikan.


"Benar, aku penasaran kenapa kau sangat peduli kepada Jasmine. Bahkan mengabaikan panggilanku untuk kembali ke kerajaan. Apakah ada sesuatu dibalik semua itu. Aku ingin mendengar penjelasan secara langsung darimu, Ed." Evelyn menuntut jawaban.


Edward terdiam sejenak. Dia mencoba berpikir baik-baik. Kalimat ketidaksiapan Jasmine tadi sore benar-benar terlintas dalam benak. Namun Edward juga tidak mau berbohong kepada Evelyn. Apalagi mengenai hubungannya dengan Jasmine. Hal terbaik mungkin memberitahukan kebenaran.


"Aku mencintai Jasmine. Dan akan selalu begitu sampai seterusnya," ungkap Edward. Menyebabkan Jasmine sontak menoleh tak percaya.


Jasmine ingin membantah. Akan tetapi apa yang bisa dia lakukan jika perkataan Edward adalah fakta. Jasmine lantas hanya bisa menundukkan kepala. Pasrah dengan respon dari Evelyn. Dia yakin Evelyn pasti menyuruhnya menjauh dari Edward. Jasmine tahu betul kalau dirinya bukan dari keturunan bangsawan.


"Benarkah?" Evelyn menatap penuh selidik. Bola matanya bergerak untuk memandang Jasmine. "Lalu Jasmine, apakah kau juga mencintai Edward?" tukasnya, penasaran.


"Iya, Yang Mulia. Maafkan aku..." lirih Jasmine merasa pesimis.


"Syukurlah kalau begitu. Ternyata kau gadis itu, Jasmine. Aku kira gadis yang telah membuat Edward berubah adalah Rose. Tetapi ternyata kamu. Aku sangat berterima kasih..." Evelyn tiba-tiba menggenggam lembut tangan Jasmine. Perlakuannya tentu membuat Jasmine tertegun. Ratu menerima dirinya begitu saja?


"Ya-yang Mulia, kenapa tidak memarahiku?" Jasmine memasang raut wajah bersalah.


Evelyn terkekeh sambil menutup mulut dengan satu tangan. Dia kemudian berkata, "Mana mungkin aku memarahi gadis baik sepertimu. Nampaknya kebaikan Selene memang menular kepadamu. Kau bisa menjaga Edward dengan baik. Segalanya bisa terbukti dari kinerja dan kesetiaanmu."


"Aku hanya melakukan tugas dengan baik." Jasmine membalas dengan kerendahan hatinya.


"Kau satu-satunya orang yang berhasil membuat cucuku Edward melihat dunia lagi. Aku lelah melihatnya terus-terusan menutup diri dan disembunyikan," terang Evelyn.


"Jadi Nenek tidak keberatan dengan hubunganku dan Jasmine?" Mata Edward tampak berbinar-binar penuh semangat.


"Bukankah sudah jelas? Aku bahkan datang ke sini untuk memastikannya. Tetapi..." Evelyn menjeda ucapannya sesaat. "Hanya aku yang baru mengetahui hubungan kalian. Meskipun aku yang berkuasa, tapi tetap saja persetujuan dari keluarga kerajaan lainnya juga penting. Jadi kalian harus menghadapi mereka satu per satu," lanjutnya menjelaskan panjang lebar.


"Termasuk Putri Claris?" tanya Jasmine. Dia membayangkan betapa kejamnya sikap Claris terhadapnya tempo hari.


"Iya, termasuk Putri Claris," sahut Evelyn. Menyunggingkan mulutnya ke kanan. Sedikit gemas dengan sifat ramah dan kepolosan Jasmine.


"Kau tenang saja, Jasmine. Bibi Claris tidak sejahat yang kau duga," ujar Edward. Mencoba merubah prasangka Jasmine terhadap Claris.


"Kalian tidak buru-buru untuk menikah bukan?" pungkas Evelyn.


Jasmine lekas menggeleng. "Tentu tidak. Lagi pula aku dan Edward harus menyelesaikan kuliah terlebih dahulu. Bukankah begitu?" Jasmine menatap penuh tanya kepada Edward.


Edward segera mengangguk. Dia juga sependapat dengan Jasmine. Sebab hubungan yang terjadi di antara dirinya dengan Jasmine terbilang masih seumur jagung. Mereka butuh waktu lebih lama untuk saling memahami dan mengenal.


Pembicaraan berakhir di situ. Saat itulah Nathalie muncul membawakan minuman. Jasmine yang melihat, bergegas membantu Nathalie menyajikan.


Evelyn dan Nathalie terlihat mengobrol. Dua wanita tua itu sepertinya memiliki topik pembicaraan yang cocok. Mereka cepat akrab seperti dua teman yang sudah lama tidak bertemu. Mengetahui hal tersebut, membuat Evelyn tambah yakin untuk menerima Jasmine dekat dengan Edward.


Evelyn memberitahukan bahwa rumah Edward yang dulu akan diberikan kepada Nathalie dan Jasmine. Apa yang diberikan Evelyn, merupakan salah satu hadiah atas jasa keluarga Jasmine terhadap keluarga kerajaan. Jadi Jasmine tidak perlu repot lagi mencari tempat tinggal di London. Nathalie bahkan juga bisa ikut menemani Jasmine.


Setelah bermalam satu malam di rumah Jasmine, Evelyn mengajak semua orang untuk ikut ke London. Mereka kembali ke kota bersama-sama. Menggunakan mobil pirbadi dari kerajaan.