Jase Is Mine

Jase Is Mine
Bab 16 - "JASMINE!"



...༻♚༺...


Kini Jasmine dan Edward sudah tiba di tempat tujuan. Keduanya bergegas turun dari mobil. Edward tidak lupa membukakan bagasi mobil untuk Jasmine.


"Maaf sudah merepotkan..." lirih Jasmine. Menyempatkan diri bicara, sebelum Edward benar-benar beranjak pergi.


Edward memutar bola mata dan menyahut, "Aku kebetulan tadi belum pulang ke rumah. Makanya aku punya waktu untuk menjemputmu. Jadi jangan mengira aku sengaja menjemputmu dari mulai rumah!" Setelah berucap begitu, Edward segera masuk ke rumah lebih dahulu.


Jasmine hanya menggeleng maklum. Kemudian ikut menyusul Edward masuk ke dalam rumah. Jasmine disuruh Edward untuk tidur di kamar yang ada di bagian belakang. Tempatnya lebih kecil dibandingkan kamar tamu yang pernah ditiduri Jasmine sebelumnya.


"Tidak apa-apa, yang terpenting tidak ada Eva!" gumam Jasmine. Tersenyum dan berpikir positif.


Jasmine langsung merebahkan diri ke kasur. Lalu terlelap pulas. Indera penglihatannya ditutup rapat, sampai menampakkan bulu matanya yang lentik dan indah.



"JASMINE!"


Mata Jasmine langsung terbuka lebar saat seseorang meneriakkan namanya. Tanpa pikir panjang, Jasmine sontak berlari untuk menghampiri sumber suara.


Langkah Jasmine terhenti saat menyaksikan Edward berdiri di tengah tangga. Dia memegang banyak sekali pakaian, kemudian melemparkannya tepat kepada Jasmine.


"Sebentar lagi perkuliahan akan dimulai, aku ingin semua baju-baju itu harum dan rapi!" ujar Edward. Selanjutnya dia kembali masuk ke kamar. Menutup pintu dengan hempasan yang cukup kuat. Hingga sukses membuat Jasmine tersentak kaget.


Jasmine menghela nafasnya. Sebelum melaksanakan suruhan Edward, dia terlebih dahulu merapikan diri dan membasuh muka. Setelahnya, barulah Jasmine bergumul dengan mesin cuci. Tidak lupa juga untuk merebus air. Takut kalau-kalau Edward akan menyuruhnya membuatkan minuman hangat.


Selagi menunggu air mendidih serta mesin cuci berputar, Jasmine memanfaatkan waktu untuk menyapu kotoran yang ada di lantai.


"JASMINE!"


Sekali lagi, panggilan Edward menggema. Jasmine dengan cepat menghempaskan sapunya ke lantai. Lalu berlari secepat mungkin mendatangi Edward.


"Siapkan aku sarapan. Dan kali ini aku mau susu hangat!" titah Edward. Berdiri di depan pintu kamarnya. Posenya tampak angkuh dengan kedua tangan yang dimasukkan ke saku celana. Dagunya pun sedikit terangkat. Seakan menegaskan kalau dialah orang yang berkuasa atas Jasmine dan rumahnya.


"Baik, Tu-"


BRAK!


Perkataan Jasmine terjeda ketika Edward membanting pintu kamar. Sudah dua kali gadis tersebut terperanjat akibat kaget. Jantungnya serasa mau meledak.


Jasmine mengelus dada kirinya beberapa kali. Berharap jantungnya bisa menjinak dan kembali berdetak normal.


Sekarang Jasmine sibuk membuatkan sarapan. Berupa telur mata sapi, potongan tomat, selada dan roti. Saat air telah mendidih, Jasmine segera membuatkan susu untuk Edward. Pekerjaan yang dilakukannya terlihat tertata. Seakan dia adalah ahlinya. Jasmine memang sering melakukan pekerjaan rumah. Terutama kala tinggal di desa Devory.


"JASMINE!"


Panggilan dari Edward terdengar lagi. Jasmine memilih meninggalkan hidangannya terlebih dahulu. Dia menghampiri Edward yang sudah turun dari tangga. Lelaki itu terlihat sangat rapi. Dari pakaian sampai rambut pirangnya. Penampilannya begitu sesuai dengan reputasinya sebagai seorang pangeran. Jasmine bahkan mengakuinya dari lubuk hati. Meskipun dirinya selalu membantah, kalau perangai yang dimiliki Edward sangat jauh dari sikap seorang pangeran pada umumnya.


"Apa sarapan sudah siap?" tanya Edward sembari berjalan menuju meja makan. Dia menarik salah satu kursi dan langsung duduk di sana.


"Sudah, Tuan. Aku akan mengambilkannya," jawab Jasmine. Dia berlari kecil ke dapur. Mengambilkan sarapan yang sudah disiapkannya untuk Edward.


Susu hangat dan hidangan sarapan disuguhkan Jasmine. "Semoga Tuan menyukainya," ucapnya seraya merekahkan senyuman tipis. Akan tetapi Edward hanya menatap dingin ke arah Jasmine. Seolah tak peduli dengan keramah tamahan gadis itu. Dia mengabaikan, kemudian menikmati makanan yang ada di hadapannya.


"Kau juga harus sarapan. Aku tidak mau kerepotan mengurusmu jika kau sakit," celetuk Edward. Dia masih menikmati sajian makanannya.


"Ya sudah, kalau begitu kenapa kau masih diam di sini? Cepat sarapan dan kembali bekerja!" ujar Edward.


"Baik, Tuan." Jasmine menggerakkan kakinya menuju dapur. Namun kala dia sudah sampai di dapur, Edward malah memanggilnya lagi.


"JASMINE!"


Jasmine sudah mencoba bersabar. Tetapi sekarang, dia membentuk bogem ditangannya begitu erat. Hingga menyebabkan badannya gemetar penuh amarah. Walaupun begitu Jasmine berupaya tenang, dan tetap mendatangi Edward.


"Cuci piring dan gelas kotor ini!" suruh Edward sambil mengelap sudut bibirnya dengan serbet berwarna putih.


Kali ini Jasmine menatap sebal Edward. Dia tentu melakukannya diam-diam. Tanpa sepengetahuan lelaki berambut pirang tersebut. Jasmine bahkan mengarahkan kepalan tinjunya saat berjalan di belakang punggung Edward. Setidaknya apa yang dilakukannya itu berhasil melegakan rasa kesal dihatinya.


Jasmine memilih sarapan dengan roti bakar dan selai saja. Baginya itu sudah cukup untuk mengisi perutnya di pagi hari. Apalagi ditambah dengan segelas susu hangat. Tenaga Jasmine semakin terasa penuh.


Edward tampak sibuk membaca buku di ruang tengah. Kegiatannya tersebut, membuat Jasmine lebih leluasa membereskan sisa pekerjaannya. Dari mulai menyiram tanaman, membersihkan lantai, dan terakhir mengatasi pakaian Edward untuk kuliah nanti.


Setelah menjemur semua pakaian Edward, Jasmine mengepel lantai di seluruh penjuru rumah. Tidak lupa juga lantai yang ada di ruang tengah. Tempat Edward sedang berada.


Jasmine iseng menatap ke arah Edward. Lelaki itu sudah tidak membaca buku lagi, dia tampak asyik menggeser layar ponsel-nya. Seolah menyaksikan sesuatu yang menarik. Tanpa diduga Edward mengalihkan pandangannya ke arah Jasmine. Sukses menangkap basah Jasmine yang tadi sempat memandanginya secara diam-diam.


Jasmine sontak membuang muka dari Edward. Dia terlihat gelagapan, lalu berpura-pura sibuk dengan alat pel yang ada dalam genggamannya. Tingkahnya menyebabkan Edward reflek tersenyum geli.


"Jasmine..." Kali ini Edward memanggil Jasmine dengan nada pelan.


"Iya, Tuan?" Jasmine menghentikan kegiatannya. Dia langsung memfokuskan perhatian kepada Edward.


"Apa kau pernah berciuman?" tanya Edward tiba-tiba.


Deg!


Pertanyaan Edward berhasil membuat jantung Jasmine berdegub tidak normal lagi. Sebab pertanyaan tersebut agak tabu baginya. Jika Jasmine hampir tidak pernah dekat dengan seorang lelaki, maka otomatis dirinya belum sama sekali merasakan yang namanya ciuman. Jujur, dia tidak berpikir hal itu adalah sesuatu yang penting dalam hidupnya. Tujuan utama hidup Jasmine hanyalah menjadi seorang designer sukses, dan bisa membahagiakan keluarganya. Sedikit pun tidak ada terlintas dalam kepalanya untuk mencari seorang kekasih. Saat masih SMA pun Jasmine memilih menyukai seorang lelaki secara diam-diam. Dia benar-benar tidak mempunyai minat yang kuat untuk berpacaran.


"Ke-kenapa Tuan menanyakan perihal ini?" bukannya menjawab, Jasmine malah berbalik tanya.


"Tidak ada. Aku sedang tertarik dengan seseorang, dan aku ingin menciumnya. Tetapi... Ah, sudahlah. Lanjutkan saja pekerjaanmu!" Edward memilih menarik ucapannya. Dia kembali sibuk dengan ponselnya. Terutama ketika ponsel tersebut mengeluarkan dering. Pertanda seseorang sedang menelepon. Edward otomatis berdiri dan mengangkat panggilan telepon. Ia sengaja berderap jauh dari Jasmine. Meninggalkan gadis itu untuk beberapa lama.


"JASMINE!" setelah sekian menit berbicara melalui telepon. Edward kembali memekikkan nama Jasmine.


"Yes!" Jasmine menyahut sembari menyandarkan alat pel ke dinding. Dia beranjak dan berhenti di hadapan Edward.


"Bisakah kau mengeluarkan kuda yang ada dikandang? Aku ingin menjual semuanya!" ujar Edward dengan kening yang mengernyit dalam. Dia terlihat mengatur nafas. Seakan baru saja menerima sesuatu yang sukses membuatnya kesal.


"Aku?" Jasmine menunjukkan tangan ke dadanya sendiri. Dia menoleh sejenak ke arah kandang kuda. Merasa tidak tega, namun dirinya juga enggan menolak perintah Edward. Karena dilihat dari gelagatnya, Edward nampak kesal. Jika Jasmine menolak, kemungkinan Edward akan marah besar.


"Bagaimana dengan Mr. Ronald? Apa dia belum datang semenjak mengantar kepergian Pangeran James?" tanya Jasmine. Mencoba mencari opsi lain untuk melakukan penolakan secara lembut.


"Tentu saja belum! Jika dia sudah datang, aku tidak mungkin menyuruhmu untuk melepas kudanya. Katakan saja, kau bisa atau tidak melakukannya? Jika tidak aku akan melakukannya sendiri!" geram Edward. Menatap tajam Jasmine.


"Aku bisa! Tetapi bolehkan aku tahu, kenapa Tuan mendadak ingin menjualnya?" Jasmine membalas tatapan Edward dengan binar nanar.


"Aku sudah tidak mau berurusan dengan yang namanya kuda!" jawab Edward. Dia memasang gaya berkacak pinggangnya.