
...༻♚༺...
Kening Jasmine mengernyit. Dia sebenarnya merasa risih dengan pesta yang diadakan di kost-kostannya. Hal itu dikarenakan dirinya sedang merasa lelah sekarang. Tujuan Jasmine pergi ke kostnya hanya ingin beristirahat.
Karena sudah terlanjur sampai, Jasmine melangkah pelan memasuki area kost-kostannya. Musik EDM dengan bas yang mendominasi, menyambut indera pendengarannya. Ada beberapa pasang mata yang berhasil tertarik untuk menatap Jasmine. Tetapi gadis itu tak peduli. Dia hendak lekas-lekas masuk ke kamarnya.
Jasmine tahu, cepat atau lambat dirinya pasti akan berhadapan dengan budaya anak kota London. Seperti halnya pesta yang dihadapinya sekarang.
"Jase!" suara bariton seorang pria berhasil menghentikan pergerakan kaki Jasmine.
"Kau terlambat!" sosok pria itu mendekat. Ternyata dia adalah Jake. Ditangannya terdapat gelas berwarna merah.
Jasmine tersenyum kecut. Entah kenapa yang terlintas dalam kepalanya adalah ketidak pedulian Jake saat di bar tempo hari. Jasmine tidak melupakan momen tersebut. Baginya Jake sama saja seperti yang lain.
"Aku baru pulang bekerja." Jasmine memberikan jawaban seadanya.
"Kau bekerja dimana?" tanya Jake sembari mencondongkan sedikit wajahnya. Mungkin keantusiasan yang dia tunjukkan merupakan perwujudan rasa penasarannya.
Jasmine menggaruk bagian belakang kepala tanpa alasan. Dia agak malas memperpanjang pembicaraan. Hingga tanpa sengaja, matanya menangkap sosok Edward. Lelaki pirang tersebut berinteraksi dengan Eva. Mereka tampak sangat asyik mengobrol. Semuanya terlihat jelas dari tawa yang dinampakkan Edward dan Eva secara bergantian.
"Di rumah bibiku, aku membantunya untuk mengurus cafe yang baru saja dibangunnya." Jasmine kembali fokus kepada Jake.
"Ah... busy girl. Baru beberapa hari kau di sini, jadwalmu sudah begitu padat," komentar Jake sembari tersenyum tipis. Kemudian menyesap minuman yang ada dalam gelasnya.
Jasmine balas tersenyum. Dia terpaku melihat Jake meneguk minuman dalam gelas. Jujur saja, semenjak dirinya membuatkan kopi untuk Edward tadi pagi, Jasmine hanya sempat meminum segelas air. Gadis tersebut memang tidak terbiasa minum atau makan disela-sela melakukan pekerjaannya. Baginya itu mengganggu konsentrasi.
Menyaksikan Jasmine terus memperhatikannya, Jake segera berkata, "Kau mau? Aku akan mengambilkannya untukmu."
"Tidak, terima kasih." Jasmine bergegas menaiki tangga. Dia memilih meminum air putih saja di kamar nanti. Toh, Jasmine yakin minuman yang ada di pesta pasti mengandung alkohol. Seumur hidupnya, Jasmine tidak pernah meminum minuman seperti itu.
Edward akhirnya menoleh ke arah Jasmine. Dia baru sadar kalau gadis tersebut sedari tadi berada di pesta yang sama dengannya. Akan tetapi Edward tidak mau terlalu memikirkannya. Lagi pula, dia telah mengatakan semua aturannya kepada Jasmine. Sekarang hubungannya dengan Jasmine hanya seperti orang asing.
Setibanya di kamar, Jasmine membasuh wajahnya terlebih dahulu. Kemudian berganti pakaian. Dia mengambil ponsel dan memasang headset ke telinga. Latar musik dari pesta yang terputar, sudah tidak terdengar lagi dikedua kupingnya. Jasmine perlahan telentang dan memejamkan mata. Dia tenggelam dalam lagu berjudul Help! dari The Beatles.
...🎶...
...Help me if you can, I'm feeling down...
...And I do appreciate you being 'round...
...Help me get my feet back on the ground...
...Won't you please, please help me......
...🎶...
Jasmine menutupi seluruh badannya dengan selimut. Bahkan wajahnya sekaligus. Dia tanpa sengaja melupakan pesta yang terjadi di lingkungannya sendiri.
Bruk!
Jasmine dapat merasakan adanya getaran pintu. Dia yakin ada seseorang yang membantingnya. Gadis tersebut lantas memastikan. Pupil matanya membesar, tatkala menyaksikan pria dan wanita yang asyik berciuman. Jasmine meringiskan wajah. Apalagi ketika dua orang itu merebahkan diri ke kasur milik Eva.
Jasmine sekarang tidak punya pilihan lain selain pergi keluar kamar. Dia berjalan menyusuri banyaknya orang. Meskipun begitu, headset masih tertempel ditelinganya. Lagu yang terputar, benar-benar mengimprestasikan kesulitan Jasmine.
Seseorang mendadak melepas salah satu headset yang tertempel dikuping Jasmine. Dia bertanya, "Apa kau baik-baik saja?"
Jasmine sedikit terkejut. Dia langsung menoleh ke arah pemilik suara yang baru saja bersuara di dekat telinganya. Orang itu tidak lain adalah Jake.
"Ini, aku membawakanmu minuman." Jake memberikan minuman yang memang telah diambilkannya untuk Jasmine.
"Thanks," ungkap Jasmine. Memasang mimik wajah datar. Dia tidak kuasa menolak minuman pemberian Jake.
"Minumlah!" balas Jake. Dia tersenyum tipis.
Jasmine sengaja membisu. Suasana hatinya memang terasa buruk sekarang. Dia sama sekali tidak berminat mengajak Jake untuk mengobrol.
"Apa yang kau dengarkan?" Jake menggeser dirinya lebih dekat kepada Jasmine. Kemudian memasang salah satu headset yang tadi sempat dilepasnya. Lelaki tersebut bisa mendengar lagu yang didengarkan Jasmine.
"The Beatles?" Jake terkekeh. Dia menganggukkan kepala beberapa kali. Mencoba memahami selera musik Jasmine.
"Kau tahu?" Jasmine bertanya balik. Dia bersemangat ada seseorang yang berhasil mengenali musik kesukaannya.
Jake melebarkan kedua kelopak mata. "Ayolah, siapa yang tidak tahu The Beatles. Mereka adalah band legendaris!" ujarnya menjelaskan.
"Kau benar." Jasmine akhirnya bisa mengembangkan senyuman. Dia dan Jake bertukar pandang dalam sekian detik.
"Jake, ikut aku!" Eva tiba-tiba datang. Dia langsung menarik tangan Jake untuk ikut bersamanya.
"Maaf, aku harus pergi, Jase!" kata Jake sebelum benar-benar pergi meninggalkan Jasmine. Dia menghilang ditelan banyaknya orang bersama Eva.
Jasmine mendengus kasar. Dia bangkit dari sofa dan melangkahkan kaki. Kembali memasang headsetnya ke kedua telinga. Masih dalam keadaan memegang gelas yang berisi minuman. Dirinya berupaya keras melewati kerumunan orang yang menari tidak karuan. Saat itulah Jasmine berjalan tak tentu arah. Tujuannya hanya ingin bebas dari gerombolan manusia yang sekarang menjebaknya.
Akibat terlalu tergesak-gesak, Jasmine akhirnya tidak sengaja tersandung kaki seseorang. Dia kehilangan keseimbangan, hingga terjatuh menabrak seorang lelaki. Headsetnya tanpa sengaja terlepas dari telinga. Gelas yang dipegangnya bahkan ikut terkena tarikan gravitasi bumi. Menumpahkan air yang ada didalamnya. Air itu tumpah tepat ke wajah Jasmine dan sosok yang ditabraknya.
Jasmine terjatuh di atas badan seseorang yang masih belum diketahuinya siapa. Sebab matanya terpejam rapat saat merasakan badannya terhempas ke lantai. Apalagi ketika air dalam gelas berhasil menghantam wajahnya.
"Lihat gadis baru itu. Apakah dia mencoba menggoda Edward?"
"Dia nekat sekali?"
"Perlukah dia melakukannya di depan umum?"
"Aku harus merekamnya!"
Telinga Jasmine dapat mendengar pembicaraan beberapa orang disekitarnya. Jasmine yang merasa lemah, memang sengaja terdiam sejenak dalam posisinya. Dia sempat lupa, kalau dirinya sedang menindih badan seseorang.
Sosok yang ditabrak Jasmine tidak lain adalah Edward. Dia bergegas memegangi kedua tangan Jasmine, dan mendorong gadis itu menjauh.
Mata Jasmine membulat ketika dirinya menyadari sosok yang ditabraknya adalah Edward. Dia segera berdiri sambil meraih ponselnya yang sempat terjatuh.
"Aku tadi tidak sengaja tersandung," ucap Jasmine sebelum Edward beranjak dari hadapannya.
Edward sama sekali tidak merespon. Lelaki tersebut menghampiri perempuan yang telah nekat merekamnya dan Jasmine. Edward merebut ponsel perempuan itu, kemudian segera memasukkannya ke dalam gelas yang berisi air. Tingkat kejahilannya memang terkadang keterlaluan.