
...༻♚༺...
Matahari semakin turun ke ufuk barat. Hari sudah tambah gelap. Jasmine baru saja memasukkan kuda ke dalam kandang. Sedangkan Edward sudah masuk ke rumah lebih dahulu. Membiarkan Jasmine mengurus segalanya.
Setelah membersihkan diri dan menutup semua jendela. Jasmine melanjutkan kegiatan untuk memasak makan malam. Gadis itu membuat hidangan spesial. Dia merasa sangat senang bisa berhasil membuat Edward berani menaiki kuda.
Drrrt...
Drrrt...
Drrrt...
Ponsel Jasmine bergetar. Dia memeriksanya, selagi menunggu rebusan kentang mendidih. Jasmine melihat ada pesan masuk dari Joy.
...'Jase, apa kau mendengar kabar selanjutnya dari Jake dan Edward? Pihak keluarga Jake sama sekali tidak menuntut Edward. Keributan yang terjadi kemarin, seolah tidak pernah terjadi!'...
Begitulah bunyi pesan yang dikirim oleh Joy, dan Jasmine sama sekali tidak terkejut. Sebab Jasmine yakin, keluarga kerajaan pasti melakukan sesuatu kepada pihak keluarga Jake.
"Kau memasak apa?" Edward mendadak muncul. Ia tampak menyembunyikan kedua tangan dari balik punggungnya. Kedatangannya menyebabkan kelopak mata Jasmine melebar.
"Kentang dan daging sapi. Tuan menyukainya bukan?" jawab Jasmine. Dia lekas-lekas memasukkan ponsel ke dalam saku.
"Buatkan aku kopi!" perintah Edward sembari duduk ke kursi. Dia lalu membuka buku yang sedari tadi dibawanya.
"Baik, Tuan." Jasmine bergegas mengambil gelas mug untuk menyiapkan kopi. Setelah jadi, dia langsung menyuguhkannya ke hadapan Edward.
Ketika Jasmine kembali ke hadapan kompor, bola mata Edward diam-diam melirik. Jujur saja, Edward masih bingung dengan apa yang dirasakannya sekarang. Apalagi semenjak aktifitas berkuda sore hari tadi. Rasanya Edward ingin menemui Jasmine terus-menerus.
Edward menggeleng tegas. Dia tidak mau menyimpulkan begitu saja mengenai perasaan anehnya. Lagi pula Edward merasa tidak percaya, jika dirinya tiba-tiba menaruh perasaan kepada Jasmine.
"Makanannya sudah siap!" seru Jasmine bersemangat. Dia baru saja meletakkan hidangan makan malam ke hadapan Edward. Ucapannya membuat Edward harus menutup dan meletakkan bukunya.
"Silahkan dimakan, Tuan." Jasmine tersenyum sambil berdiri memperhatikan Edward dari samping. Sebagai seorang pelayan, Jasmine merasa tahu diri. Semuanya bisa terlihat jelas semenjak kedatangannya pertama kali ke rumah Edward. Jasmine belum pernah sekali pun duduk di kursi yang ada di meja makan.
"Makanlah bersamaku!" celetuk Edward seraya menunjuk kursi yang ada di depannya dengan dagu.
"A-apa?" Jasmine sedikit mencondongkan badannya. Seakan tidak mempercayai perkataan Edward.
"Kau juga harus makan. Duduklah di kursi mana yang kau suka!" ucap Edward tanpa menoleh ke arah Jasmine. Dia tampak sibuk memotong daging untuk segera dimakan.
"Ti-tidak perlu, Tuan. Aku akan makan nanti saja." Jasmine mencoba menolak. Hal itu karena dia benar-benar merasa tidak pantas.
Edward mengerutkan dahi. Perlahan mengalihkan pandangannya ke arah Jasmine. "Ini perintah! Cepat makan sekarang!" desaknya. Hingga mengharuskan Jasmine tidak punya pilihan selain menurut.
Jasmine menghela nafas seraya meletakkan daging dan kentang ke piring. Selanjutnya, Jasmine menghampiri meja makan. Dia terdiam dalam selang beberapa detik. Saat Edward kembali menatapnya, barulah Jasmine langsung mendudukkan diri ke kursi.
Edward dan Jasmine menikmati hidangan dalam hening. Hanya ada suara dentingan garpu yang memecah kesunyian. Suasana benar-benar terasa canggung. Terutama untuk Jasmine. Dia merasa sikap Edward agak berbeda.
Suara kursi bergeser terdengar. Edward terlihat sudah berdiri. Makanan yang ada di piringnya nampak habis. Tanpa menoleh dan mengatakan sepatah kata pun, Edward beranjak begitu saja meninggalkan Jasmine.
Keesokan harinya, Jasmine berangkat ke kampus. Sebelum pergi, dia tentu menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Langkahnya sempat terhenti sejenak, saat berada di depan tangga. Jasmine mengamati pintu kamar Edward yang masih tak bergeming.
'Aku harap keadaannya bisa membaik,' batin Jasmine. Kemudian benar-benar beranjak keluar rumah.
Setibanya di kampus, Jasmine langsung bertemu dengan Joy. Seperti biasa, Joy tidak pernah bisa berhenti berceloteh. Membicarakan topik mengenai perkelahian Jake dan Edward.
"Joy! Bisakah kau berhenti menduga-duga." Jasmine memasang ekspresi memelas. Berharap Joy dapat membicarakan hal lain.
"Oke, oke! Aku akan memberitahu hal lain kepadamu." Joy merangkul pundak Jasmine. "Tujuan utamaku datang ke kampus hari ini hanya atas dasar pelarian. Aku tidak akan masuk kelas. Aku belum siap merancang baju, Jase!" lanjutnya.
"Apa? Tidak! Kau--"
"Aku tidak mau mendengar ajakanmu. Pergilah ke kelas, Jase. Aku menunggumu di taman." Joy sengaja memotong ucapan Jasmine. Gadis itu bahkan menutup kedua telinga. Agar Jasmine tidak meneruskan kalimatnya.
Kini Jasmine hanya bisa menghela nafas berat. Lalu berjalan menuju kelas. Dalam perjalanan, Jasmine tidak sengaja bertemu dengan Jake. Wajah Jake sudah terlihat pulih.
"Jase!" Jake berlari mendekati Jasmine.
"Ya?" respon Jasmine seraya melirik getir ke arah Jake.
"Aku ingin bicara mengenai Edward. Aku--"
"Jake!" Eva tiba-tiba datang. Raut wajahnya tampak cemas. Tangannya segera memegangi pundak Jake. Akan tetapi Jake langsung menolak mentah-mentah sentuhan gadis tersebut.
"Dengarkan aku!" Eva berusaha kembali mencuri perhatian Jake. Namun tak kunjung berhasil. Entah apa yang terjadi kepada pasangan baru itu.
"Aku tidak mau bicara denganmu lagi, oke?" tegas Jake. Tangannya dengan sigap menarik Jasmine untuk ikut bersamanya. Tindakan yang dilakukan Jake, sukses membuat Eva menghentakkan kaki kesal. Eva semakin membenci Jasmine.
"Jake!" panggil Jasmine. Ia berupaya menegur Jake, agar segera melepaskan tangannya. Jasmine merasa risih, karena dirinya dan Jake sedang menjadi pusat perhatian banyak orang.
Merasa telah jauh dari Eva, Jake bergegas menghentikan langkahnya. Dia langsung melepas tangan Jasmine dan meminta maaf.
"Aku hanya ingin menjauh dari Eva. Kau menyelamatkanku tadi," terang Jake. Menghembuskan karbon dioksida dari mulutnya.
"Kenapa kau ingin menjauhinya, aku kira kalian dekat?" balas Jasmine. Bertanya dengan nada meragu.
"Awalnya benar. Tapi saat sedang di rumah sakit kemarin, aku mengetahui bagaimana jati diri Eva sebenarnya. Dia hanya ingin bermain-main denganku." Jake menjelaskan sambil menarik tas ransel yang hanya dia gantungkan di salah satu bahu.
"Emm... aku tidak bisa membantahnya. Eva memang agak..." Jasmine enggan meneruskan kalimat akhirnya. Dia hanya memiringkan kepalanya. Sebab Jasmine yakin, Jake pasti tahu maksud dari perkataannya yang tidak lengkap.
"Aku dengar kau sempat satu kamar dengannya. Baru beberapa minggu, kau sudah pindah dari kost-kostan. Apa semua itu gara-gara Eva?" timpal Jake. Entah dari mana dia mendapat informasi tersebut.
"Begitulah..." Jasmine menggedikkan bahu. Dia memilih tersenyum dibanding harus mengiyakan. Meskipun dirinya membenci Eva, bukan berarti Jasmine menilai buruk Eva sepenuhnya.
"Kau sangat naif, Jase!" komentar Jake sambil tergelak kecil.
Suasana tiba-tiba sunyi. Jasmine dan Jake sontak sama-sama terheran. Pandangan mereka mengedar ke sekitar, dan menyaksikan orang-orang saling berbisik.
Kening Jasmine mengernyit heran. Dia menyadari semua orang menatap ke arah yang sama. Yaitu tepat kepada sosok yang sedang berjalan di koridor. Dia ternyata adalah Edward. Kedatangannya tentu menarik perhatian. Termasuk Jasmine sendiri.
"Aku pikir dia sedang cuti."
"Ya, dia tidak tahu malu. Kalau itu aku, kemungkinan aku akan memilih berhenti kuliah."
"Dia tampan, tapi sangat mengerikan. Kau ingat bukan? Kemarin dia seperti hewan buas yang mengamuk!"
"Kasihan, Jake. Keluarganya tidak kaya, makanya kalah dengan uang yang diberikan oleh keluarga Edward. Aku dengar dia sangat kaya!"
Jasmine dapat mendengar beberapa bisikan orang-orang terhadap Edward. Matanya terfokus pada lelaki itu.
'Kenapa Edward tiba-tiba pergi ke kampus? Padahal kata Ronald, dia jelas sudah mengurus cuti.' Benak Jasmine bertanya-tanya.