Jase Is Mine

Jase Is Mine
Bab 53 - Kabar Tentang Selene



...༻♚༺...


Jasmine menggeliatkan badan tidak karuan. Terutama saat Edward mulai mencumbu bagian dadanya. Lenguhan yang tadinya tertahan, akhirnya keluar dari mulut.


Drrrt...


Drrrt....


Ponsel Jasmine mendadak bergetar. Dia meletakkan alat komunikasi itu di saku roknya yang masih belum dilepas. Namun Edward mencoba mengabaikan gangguan kecil tersebut.


Drrrt...


Drrrt...


Ponsel Jasmine masih belum berhenti bergetar. Membuat Jasmine merasa harus memeriksa ponselnya sesegera mungkin. Bahkan mendorong Edward menjauh sebentar.


"Kau tidak seharusnya memperdulikan ponselmu!" protes Edward sembari mendengus kasar. Tetapi Jasmine bersikukuh meraih ponsel miliknya. Dia berjaga-jaga kalau panggilan tersebut berasal dari rumah sakit. Jasmine takut sesuatu yang tidak-tidak terjadi kepada ibunya.


"Hanya sebentar!" ujar Jasmine. Dia melihat-lihat layar ponsel.


Ternyata Jasmine mendapat telepon dari Ronald. Akibat panggilan itu, Jasmine ingin cepat-cepat mengenakan pakaiannya kembali.


"Kau kemana? Kita belum selesai!" Dahi Edward mengerut dalam.


"Ronald sepertinya mengamati kita. Mungkin dia tahu kalau kita ada di dalam sini," jawab Jasmine seraya menyematkan kancing baju atasannya.


Edward memutar bola mata. Ia memakai kemejanya dengan perasaan kesal. Lalu membuka pintu dengan raut wajah cemberut.


Ceklek!


Betapa terkejutnya Edward, ketika di depan pintu sudah ada Ronald. Lelaki paruh baya itu hampir mengetuk pintu.


"Apa kau sudah lama mengikutiku dan Jasmine?" timpal Edward dengan keadaan mata yang membulat.


"Ti-tidak juga. Aku hanya berhasil memergoki, saat anda dan Jasmine masuk ke kamar ini." Ronald memberikan penjelasan.


"Kau tidak menguping bukan?!" Edward bertanya sambil mengangkat dagunya satu kali.


Ronald lekas menggeleng. "Tidak! Aku tidak akan melakukan hal seperti itu."


Jasmine yang sedari tadi terdiam, masih disibukkan dengan ponsel. Tiba-tiba ada pesan masuk dari Nathalie. Dia mendapat kabar kalau Selene sedang dalam kondisi kritis. Jasmine yang dirundung perasaan cemas, langsung meminta izin untuk pergi meninggalkan istana.


"Aku boleh pergi bukan? Ada hal buruk yang menimpa ibuku!" seru Jasmine. Mimik wajahnya nampak panik.


"Ma-maksudmu Selene bukan?" Ronald ikut merasa khawatir. Hal serupa juga dirasakan oleh Edward.


"Kalau begitu, kau harus pergi. Biar aku yang mengantarmu ke rumah sakit!" usul Edward bertekad.


"Tidak, Pangeran. Anda tidak bisa pergi di saat acara penting begini. Biarkan aku saja yang mengantar Jasmine ke rumah sakit." Ronald mencegah kepergian Edward. Sebab keadaan benar-benar tidak memungkinkan. Apalagi jika Edward pergi meninggalkan istana.


"Tapi--"


"Ronald benar, Ed. Lagi pula kau sudah berjanji kepadaku, kalau kau akan menjadi anggota keluarga kerajaan yang baik. Doakan saja, agar ibuku bisa sehat," potong Jasmine. Dia dan Ronald segera beranjak pergi.


Edward menghela nafas berat. Dirinya memang tidak bisa membantah pernyataan Ronald dan Jasmine. Dia hanya bisa berharap Selene baik-baik saja. Edward tidak mau melihat ada kesedihan di wajah Jasmine.



Ronald yang juga merupakan teman dekat Selene, ikut duduk menunggu bersama Jasmine. Mereka menanti dengan perasaan gelisah.


Satu jam berlalu. Barulah dokter yang bertugas keluar dan memberitahukan keadaan Selene.


"Selene berada di titik terendahnya. Hal yang paling dia butuhkan saat ini adalah menghabiskan waktu dengan orang terdekatnya. Aku benar-benar minta maaf... aku dan rekan medis lainnya sudah melakukan yang terbaik." Dokter bertutur kata lembut. Meskipun begitu, fakta yang diberitahukannya membuat Jasmine memecahkan tangis.


"Mother..." panggil Jasmine. Di sela-sela tangisannya yang kian menjadi-jadi.


Nathalie hanya bisa membawa Jasmine ke dalam dekapan. Dia juga tidak kuasa menahan derai air mata kesedihan.


"Katakan kepadaku, Nek. Ibu akan sehat kembali bukan?" Jasmine mencoba berpikir positif.


Untuk yang pertama kalinya, Nathalie menundukkan kepala. Dia terdiam seribu bahasa. Sebab dirinya tahu betul, kalau Selene telah kehilangan harapan untuk bisa sehat kembali.


Melihat diamnya Nathalie, Jasmine berlari. Dia berhenti di tempat nan sepi. Di sana Jasmine berjongkok untuk meneruskan tangisnya.


Hati Jasmine terasa sangat sakit. Membayangkan hidupnya tanpa kehadiran Selene rasanya dia tidak mampu. Karena Jasmine merasa masih belum bisa menjadi putri yang baik.


"Jangan... tinggalkan aku... Ibu... kumohon..." lirih Jasmine. Tangisnya mulai mencapai sesegukan. Dia cukup lama dalam posisi begitu. Semilir angin malam, tidak membuat kekalutannya memudar begitu saja.


Setelah puas menangis, Jasmine melenggang masuk ke rumah sakit. Dia menyaksikan keadaan ibunya yang lemah dan tak berdaya. Selang oksigen serta infus tampak menghiasi tampilan Selene.


Jasmine memutuskan untuk tetap tinggal di rumah sakit. Dia tidak peduli lagi terhadap pekerjaan dan kuliahnya. Segala panggilan telepon dari Edward, Joy dan lainnya benar-benar diabaikan oleh Jasmine.


"Jase, sudah tiga hari kau ada di sini. Sebaiknya kau pergi kuliah meski hanya sebentar. Lagi pula aku bisa menjaga ibumu sendirian. Ditambah aku tidak sendiri, ada banyak perawat yang berjaga." Nathalie duduk di sebelah Jasmine. Dia memegang pelan pundak cucunya tersebut.


"Aku ingin bersama ibuku. Aku tidak ingin melewatkan waktu sedetik pun tanpa dia." Jasmine menjawab sambil merebahkan kepala di satu tangannya yang terlipat. Ia menatap Selene yang masih belum siuman paska menjalani proses operasi.


Kini Nathalie hanya dapat mengelus kepala Jasmine. Dia merasa kasihan kepada gadis yang sudah menginjak usia dua puluh satu tahun itu.


Hening berselang dalam waktu lama. Suara berisik yang berasal dari perut Jasmine, mengalihkan perhatian Nathalie.


"Jase, lihat dirimu. Kau sepertinya perlu mengisi perut. Pergilah keluar dan belilah makanan yang kau inginkan!" ujar Nathalie.


"Tapi, aku--"


"Kau tidak bisa membantah. Toh membeli makanan tidak akan membutuhkan waktu yang lama. Kau bahkan bisa membawanya ke sini untuk dimakan." Nathalie memaksa. Dia tidak tahan melihat cucunya terus memasang wajah murung di samping Selene.


"Baiklah..." Jasmine setuju dengan berat hati. Dia menyeret kakinya secara paksa. Berjalan keluar, hingga langkahnya harus terhenti ketika tidak sengaja melewati televisi umum.


Jasmine terpaku menyaksikan berita yang tersiar. Dari berita tersebut, dia bisa mengetahui kalau identitas tentang Edward telah diumumkan ke publik.


Sekarang setidaknya Jasmine tahu, kenapa Edward terus berusaha memanggilnya melalui telepon. Lelaki itu juga tidak lupa mengirimkan pesan.


Jasmine sebenarnya sudah tahu lebih dahulu, sebelum berita tentang identitas Edward diumumkan ke publik. 'Kau terlihat sangat luar biasa, Ed' batinnya kala menatap wajah Edward di televisi.


"Bukankah Pangeran Edward sangat tampan?"


"Kau benar! Dia katanya juga sangat jenius. Bolehkah aku mengharapkan dia untuk menjadi jodohku?"


"Jangan gila kau! Seorang Pangeran sepertinya mana mau dengan gadis biasa seperti kita."


Jasmine dapat mendengar pembicaraan yang terjadi di antara dua perawat muda. Harga dirinya seketika mengecil. Jasmine berjalan dengan ekspresi sendu. Dia semakin merasa tidak pantas untuk menjadi kekasih seorang Pangeran.