Jase Is Mine

Jase Is Mine
Bab 48 - Sikap Kasar Edward



...༻♚༺...


Jasmine hendak berdiri. Namun Edward dengan sigap memegangi lengannya. Gadis itu sontak menoleh.


"Jase, bisakah aku menceritakan sesuatu kepadamu?" ungkap Edward. Raut wajahnya tampak serius. Menyebabkan Jasmine percaya, dan tidak berani bicara lagi.


"Kau bisa beritahu aku tentang apapun. Tapi biarkan aku mematikan musiknya terlebih dahulu." Jasmine beranjak untuk mencabut piringan hitam dari alat vinyl. Kemudian kembali duduk ke sebelah Edward. Dia menatap lelaki itu. Seakan mendesak Edward untuk segera angkat bicara.


"Setelah kedua orang tuaku meninggal... aku merasa kehilangan segalanya. Apapun yang kumiliki rasanya tidak bermakna," tutur Edward. Ia menatap kosong ke arah pintu balkon yang terbuka. Satu tangannya tampak diletakkan ke lututnya yang sedang dilipat.


Jasmine menundukkan kepala sembari menghela nafas. "Aku juga merasa begitu saat ayahku meninggal. Aku tahu bagaimana rasanya ditinggal oleh orang tersayang. Rasa sakitnya butuh waktu beberapa tahun..." jawabnya lirih.


"Setidaknya kau masih mempunyai ibu dan seorang nenek yang baik," tanggap Edward.


"Kau juga memiliki nenek yang baik. Kau hanya tidak pernah melihat segala kebaikan yang Ratu berikan kepadamu." Jasmine mencoba merubah cara pandang Edward terhadap Evelyn.


"Kau berkata begitu, karena tidak tahu apa yang sudah pernah dia lakukan kepada ibuku." Edward membalas tatapan Jasmine. Menegaskan kalau yang diucapkannya dapat dipercaya.


"Memangnya apa yang sudah dia lakukan kepada ibumu?..." Jasmine bertanya dengan perasaan meragu.


"Sebenarnya ada banyak hal yang tidak kupahami. Terutama terkait insiden kecelakaan yang menimpa ibuku. Tapi aku sudah lelah mencari tahu kebenaran. Aku hanya ingin sembuh dari rasa sakitku sekarang." Edward mengepalkan tinju di salah satu tangannya.


"Maafkan aku, Ed..." Jasmine menunjukkan empatinya.


Edward menoleh ke arah Jasmine. Dia terkekeh. Apalagi saat menyaksikan semburat kesedihan yang ada pada wajah gadis tersebut. "Kenapa kau malah minta maaf. Kau tidak--"


Tok!


Tok!


Tok!


Terdengar suara ketukan dari pintu. Edward yang tadinya ingin bicara, harus mengurungkan niat. Dia bergegas meraih ponsel yang ada di atas nakas. Lalu langsung menghubungi Ronald.


"Aku harus bagaimana?" tanya Jasmine yang tiba-tiba merasa panik. Dia dan Edward telah sama-sama berdiri.


"Tenanglah, Jase. Aku akan menelepon Ronald terlebih dahulu," sahut Edward. Ia terkesan lebih santai.


"Ronald, bisakah kau mencari tahu siapa orang yang ada di depan pintu?" tukas Edward sambil meletakkan salah satu tangan ke pinggangnya.


"Itu aku, Tuan." Ronald menyahut santai dari seberang telepon. Jawabannya membuat Edward melangkah untuk membukakan pintu. Benar saja, sosok Ronald berdiri tegak dalam keadaan dua tangan yang menyatu. Entah kapan lelaki paruh baya itu menyimpan ponselnya.


"Sudah waktunya Jasmine pergi." Ronald memperingatkan dengan senyuman tipis.


"Kau--"


"I'm on the way." Suara halus Jasmine menanggapi. Mengharuskan Edward menjeda kalimat yang hendak di ucapkannya.


Jasmine terlihat membereskan piring kotor, lalu membawa meja trolly ikut bersamanya. "Sampai jumpa nanti, Ed!" ujarnya sembari berjalan melewati Edward.


"Besok! Kau harus menemuiku lagi di sini." Perkataan Edward menyebabkan Jasmine sekaligus Ronald berbalik secara bersamaan.


"Tapi, Tuan--"


"Kau mau melihatku menggila sendirian di istana yang membosankan ini?" timpal Edward. Sengaja memotong ujaran Ronald.


"Baiklah kalau begitu." Ronald menurut saja.



Malam berganti siang. Matahari bersinar cerah dari balik pepohonan. Hawa yang sedikit memanas, menandakan bahwa musim panas akan segera berlangsung.


Edward tengah menikmati sarapan di teras belakang. Dia bangun lebih pagi dibanding keluarga kerajaan yang lain.


Suara derap langkah kian mendekat. Seseorang menarik kursi yang ada di samping Edward, kemudian mendudukinya. Senyuman dari Rose yang mencondong dari samping, mengganggu atensi Edward dari kegiatan membaca buku.


"Hai, Ed. Kau tidak berubah. Selalu suka dengan suasana pagi," sapa Rose. Dia tampak mengenakan dress berwarna merah muda. Menggerai rambut pirang panjangnya.


Edward sama sekali tidak hirau. Dia memutuskan fokus dengan buka yang sedang dibacanya. Tulisan-tulisan kecil tentang seni dari Yunani, bergumul dalam pikirannya lagi. Rose lantas cemberut. Melirik sebal kepada Edward.


"Kenapa kau terus begini? Padahal aku tidak pernah melakukan kesalahan apapun..." lirih Rose yang merasa kecewa.


Untuk yang kedua kalinya, Jasmine berhasil memergoki Edward dan Rose saling bicara. Jasmine reflek menjeda pergerakan kakinya. Dia menyaksikan Rose berani memegang lengan Edward. Kebetulan Jasmine berada di posisi yang tidak begitu jauh. Jasmine bisa mendengar pembicaraan Edward dan Rose.


Edward bangkit dari tempat duduk. Kemudian melepaskan paksa pegangan Rose. Matanya langsung melotot kepada gadis yang tidak tahu apa-apa itu.


"Apa kau tahu hewan lalat?" tanya Edward.


"Ya?" Rose ikut berdiri. Dia dalam posisi saling berhadapan dengan Edward. Firasatnya memberitahu kalau lelaki di hadapannya akan mengatakan sesuatu hal buruk.


"Baguslah kalau begitu. Hewan itu persis sepertimu. Membuatku risih!" tukas Edward seraya beranjak meninggalkan Rose.


Rose menekuk wajahnya. Dia kecewa dengan ungkapan Edward. Semuanya dapat terlihat jelas dari semburat wajahnya.


Jasmine yang mendengar menggeleng kepala tak percaya. Dia tidak menyangka, Edward akan mengucapkan kalimat sekejam itu. Keberadaannya membuat langkah Edward berhenti sejenak. Namun keduanya hanya mampu bicara lewat tatapan mereka. Apalagi ketika sosok Evelyn muncul dari balik pintu.


Jasmine segera menyadarkan diri. Kemudian berjalan mendatangi Rose. Dia memberikan cemilan khusus pagi hari.


"Kau mau pergi, Ed? Tinggallah dahulu sebentar. Kita mengobrol sambil bersantai," ajak Evelyn. Jasmine bisa mendengarkan ucapannya dari belakang.


"Aku sudah melakukannya tadi. Kau sebaiknya bersantai dengannya!" Edward menjawab ketus. Dia menunjuk Rose dengan dagunya.


Jasmine mendengus kasar. Dia tidak habis pikir dengan sikap kasar Edward. Bahkan kepada Evelyn sekalipun. Pantas saja identitas Edward masih disembunyikan. Semuanya mungkin karena sikap buruk yang dimiliki Edward.


'Sekarang aku tahu kenapa banyak keluarga kerajaan mengharapkan perubahan Edward. Haruskah aku melakukan sesuatu?' batin Jasmine, yang telah selesai memindahkan kue dan susu ke meja. Ia terpaku menatap Edward seraya memeluk nampan kosong.


Evelyn mengernyitkan kening. Dia berhasil memergoki pelayan yang melamun sambil memandangi Edward.


"Hallo, my dear? Apa kau tidak apa-apa?" Evelyn menegur Jasmine. Tegurannya membuat Jasmine sontak merasa kaget.


"Aaa... ya! A-aku pikir begitu." Jasmine reflek menjawab. Ketika melihat sosok yang bicara dengannya, barulah dia membungkuk hormat. "Maafkan aku, Yang Mulia..."


Evelyn tertawa kecil. Dia melambaikan tangannya ke arah Jasmine. "Apa kau mendengar ucapan Pangeran Edward tadi?" tanya-nya.


"Dia memang selalu begitu. Aku pikir membiarkannya hidup sendiri akan membuat sikapnya berubah. Entahlah... setidaknya dia lebih baik dibandingkan dahulu," ungkap Evelyn.


"Kau benar, Yang Mulia. Dia memang sedikit berubah. Dulu Pangeran mengusirku dengan cara mendorong dengan kasar, tapi sekarang dia mengusirku dengan kalimat caciannya." Rose masuk ke dalam pembicaraan. Dia mengajak Evelyn untuk duduk bersama.


"Aku senang, dia berhenti mencaciku dengan kata kasar. Sepertinya kau sedang berada pada tahapku dulu, Rose. Pangeran Edward..."


Jasmine memutuskan beranjak. Ia melenggang menuju pintu dapur. Suara pembicaraan yang terjadi di antara Evelyn dan Rose, perlahan menghilang ditelan oleh jarak.