
...༻♚༺...
Joy merasa lega dengan keputusan Edward. Setidaknya dia bisa bertanggung jawab dengan apa yang telah menimpa Jasmine. Joy sangat menyesali perbuatannya. Seharusnya dia tidak memaksa Jasmine meminum alkohol.
"Joy, kaukah itu?..." Jasmine tiba-tiba kembali meracau. Dia dalam keadaan setengah sadar. Matanya masih tertutup rapat.
"Iya, Jase. Ini aku!" seru Joy sambil mengusap pelan pundak Jasmine.
"Apa kau masih ingin tahu lelaki yang aku suka?" ujar Jasmine. Nada suaranya terdengar parau dan sayup.
"Sudahlah, Jase. Kau lebih baik beristirahat," saran Joy. Mencoba menghentikan gumaman Jasmine.
"Dia bukan Jake. Tapi Ed-- Mmphh!" Joy dengan cepat membekap mulut Jasmine. Dia sebenarnya sudah tahu siapa lelaki yang disukai Jasmine sekarang. Joy mengetahuinya saat berada di pesta tadi. Jasmine dengan jelas menyebut nama Edward berkali-kali. Bahkan memanggil Edward dengan sebutan Pangeran? Joy sama terherannya seperti orang-orang yang ada di pesta. Cuman bedanya, Joy sama sekali tidak mencibir Jasmine. Dia hanya merasa aneh, itu saja.
Meski telah mengetahui Jasmine menyukai Edward, Joy tetap tidak mau percaya dengan mudah. Dia merasa Edward lelaki yang patut di waspadai. Apalagi dengan perangainya yang dingin, jahil dan pemarah.
Tidak lama kemudian mobil berhenti di depan kediaman Joy. Rumah tersebut berada di salah satu gang elit yang ada di London. Kebanyakan penghuni-penghuninya adalah para pengusaha kaya.
"Kau ternyata kaya juga," komentar Edward. Namun Joy sama sekali tidak hirau. Gadis itu malah bergegas keluar dari mobil.
Belum sempat membawa Jasmine, seorang perempuan paruh baya mendadak membuka pintu. Dia adalah ibunya Joy yang bernama Kathrine.
"Apa-apaan, Joy! Kenapa kau pulang selarut ini?!" Kathrine mendatangi Joy dengan raut wajah marah.
"Kau tidak perlu tau, lagi pula sejak kapan kau peduli?" balas Joy yang merasa sengit.
Kathrine lekas-lekas menutup hidungnya. Sebab dia mencium bau alkohol yang begitu menyengat saat Joy bicara. "Apa kau mabuk?!" kini mata Kathrine menyalang.
"Memangnya kenapa?! Bukankah kau juga selalu mabuk setiap hari?" cetus Joy dengan nada tinggi. Perseteruan terus terjadi di antaranya dan Kathrine.
Edward yang dapat menyaksikan dari mobil hanya bisa mendengus kasar. Ia berpikir, mungkin bukan pilihan yang tepat membiarkan Jasmine berada di rumah Joy. Alhasil Edward berpikir untuk membawa Jasmine ikut bersamanya.
Sebelum menjalankan mobil, Edward menoleh sebentar ke belakang. Dia melihat pintu belakang mobil masih terbuka. Sementara Joy masih sibuk berdebat dengan ibunya sendiri.
Edward bergegas keluar dan menutup pintu belakang mobil. Selanjutnya dia langsung menjalankan mobil tanpa sepengetahuan Joy.
Setelah suara mesin mobil terdengar, barulah Joy tersadar. Dia langsung berlari mengejar mobil Edward.
"Edward! Aku belum sempat menurunkan Jasmine! Edward!!" Pekikan Joy dapat terdengar dari belakang. Akan tetapi Edward terus menginjak pedal gas mobil. Sehingga lama-kelamaan Joy tertinggal di belakang.
"Berhentilah, Edward!!!" begitulah teriakan terakhir yang terdengar dari Joy. Ia terdengar frustasi. Bukan saja karena ibunya, tetapi juga karena tidak bisa menjaga Jasmine dengan baik.
Sesampainya di rumah, Edward langsung membawa Jasmine ke kamar. Merebahkannya ke kasur kecil milik Jasmine. Edward mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Sekarang dia tersadar, betapa kecilnya kamar milik Jasmine selama ini.
'Lelaki macam apa kau, Ed? Membiarkan gadis yang kau suka tidur di kamar seperti ini? Sementara kau dengan nyamannya tidur di kamar yang luas dan mewah." Edward mengkritik dirinya sendiri sambil geleng-geleng kepala.
Edward otomatis menggendong Jasmine kembali. Dia memindahkan gadis itu ke kamar tamu. Menyelimutinya dengan selimut tebal yang nyaman. Edward akhirnya bisa tersenyum, kala melihat Jasmine tidur di tempat yang lebih pantas.
"Omonganku dahulu salah. Gadis sepertimu justru sangat cocok menjadi seorang putri," ungkap Edward seraya beranjak pergi.
Ronald merupakan orang yang pertama kali mengetahui kedatangan mobil tersebut. Dia bergegas membangunkan Edward dan Jasmine. Sebab orang yang datang adalah Pangeran James dan Putri Claris.
Ronald hendak membangunkan Jasmine. Tetapi dia mengetuk pintu kamar yang salah. Dirinya tidak mengetahui, kalau Jasmine tengah tertidur di kamar tamu.
James dan Claris sudah melangkah masuk. Claris yang gelagatnya selalu mendominasi James, berjalan lebih dahulu sambil mengangkat dagunya.
Claris memindai rumah Edward ke segala arah. Jika kebetulan melihat sesuatu yang tidak disukainya, maka dia reflek meringis jijik. Claris memang keturunan murni bangsawan. Ia dan James menikah berdasarkan perjodohan yang dilakukan pihak kerajaan. Tidak heran, tingkah Claris sedikit berlebihan dibanding suaminya.
Edward yang sudah bangun sejak lama, segera menemui paman dan bibinya. Raut wajahnya terlihat datar. Tidak memasang ekspresi apapun.
Ronald datang dengan larinya yang tergopoh-gopoh. Dia panik karena tidak menemukan Jasmine dimana-mana. Ronald perlahan mendekati Edward dan berbisik, "Jasmine menghilang. Apa dia sudah pindah?"
"Dia ada di kamar tamu." Edward balas berbisik. Kemudian melemparkan senyuman tipis untuk James dan Claris yang telah duduk tenang.
Ronald sontak berlari menuju kamar tamu. Tetapi langkahnya terhenti, ketika Jasmine mendadak membuka pintu lebih dahulu. Jasmine tampak berantakan. Wajahnya sembab, tubuhnya bahkan mengeluarkan bau alkohol yang menguar jelas.
"Ja-jasmine. Kau!" Ronald segera membawa Jasmine pergi. Dia melakukannya agar Jasmine tidak kena marah oleh dua keluarga kerajaan yang sekarang sedang berkunjung.
Ronald dan Jasmine berjalan memutar dari luar. Mereka kembali masuk ke rumah lewat pintu belakang. Mimik wajah Ronald terlihat cemberut. Setibanya di dapur, Ronald langsung berbalik menghadap Jasmine.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau bisa tidur di kamar tamu dalam keadaan mabuk?! Apa kau main-main dengan pekerjaanmu? Jika benar, maka lebih baik kau mengundurkan diri saja dari sekarang!" timpal Ronald dengan nada penuh penekanan. Meskipun begitu, suaranya masih terkendali.
"Maafkan aku, Mr. Ronald. Aku tidak tahu dengan apa yang telah terjadi kepadaku tadi malam. Kepalaku masih terasa pusing. Aku mohon maafkan aku..." sesal Jasmine dalam keadaan menundukkan kepala.
Ronald memutar bola mata sebal. Ia sangat terganggu dengan rambut panjang Jasmine yang terlihat acak-acakan. Gadis itu bahkan masih belum melepas jaket kulit pembelian Joy.
"Kita akan lanjutkan pembicaraan ini lain kali. Sebaiknya kau rapikan dulu rambut dan lepaskan jaket kulitmu itu!" ujar Ronald. Kemudian berlalu pergi menuju ruang tengah.
Jasmine mengikat rambut dan melepas jaketnya. Seterusnya dia segera membuatkan minuman untuk tamu yang datang. Tidak lupa juga menyediakan kue kering yang kebetulan dibuatnya dua hari lalu.
Nafas dihela cukup panjang oleh Jasmine. Dia merapikan dirinya terlebih dahulu sebelum menemui James dan Claris. Setelah benar-benar siap, barulah Jasmine melenggang tenang ke ruang tengah.
Claris terkejut saat pertama kali melihat Jasmine. "Apa dia pelayanmu di sini?" tanya-nya kepada Edward.
"Benar, dia adalah putri dari Selene." Edward memberikan penjelasan singkat.
"Apa dia seumuran denganmu?" Claris kembali bertanya.
"Yang jelas aku lebih tua darinya." Edward menyimpulkan sendiri. Padahal dia tidak tahu sama sekali tanggal lahir Jasmine. Edward hanya mengira sebisanya.
Claris lantas menilik Jasmine dari ujung kaki hingga kepala. "Dia sepertinya tidak bisa dipercaya. Bagaimana kau bisa mempercayainya begitu saja?" pungkasnya sinis.
"Nona tidak perlu meragukanku. Aku pandai menjaga rahasia. Jadi--"
"Beraninya kau ikut masuk ke dalam pembicaraan!!" Claris memekik lantang dengan aksen british-nya yang kental. Sengaja memotong penuturan lembut dari Jasmine. Suaranya berhasil membuat Jasmine tersentak kaget.