
...༻♚༺...
Edward memutuskan menghindari Jasmine untuk sementara. Terutama setelah insiden malam berbagi rahasia yang tentu saja membuat seluruh badannya gemetaran. Edward memberi alasan kalau dirinya akan mulai ikut makan malam bersama keluarga kerajaan.
Kini semua orang berkumpul di meja makan. Termasuk Edward sendiri. Dia baru saja menarik salah satu kursi, lalu mendudukinya.
"Wow, akhirnya kau bergabung juga dengan kami." Claris menatap Edward dengan memasang raut wajah serius.
"Kemarin aku hanya berusaha istirahat. Apa yang ada di istana ini, membuatku mengingat hal-hal yang tak seharusnya kuingat." Edward memberikan alasan sekenanya.
"Alasan tidak masuk akal," sarkas Laura sembari memutar bola mata jengah.
"Terima kasih, Bibi Laura." Edward menanggapi dengan tenang. Padahal dirinya tengah mencoba bersabar sebisa mungkin.
"Senang melihatmu sudah bergabung lagi bersama kami." Evelyn bicara sambil mengangkat segelas sampanye ke depan wajah. Kali ini Edward hanya merespon dengan senyuman tipis. Selanjutnya, semua orang segera menyantap makanannya masing-masing.
Suasana hening menyelimuti dalam sekian menit. Rose yang duduk di seberang Edward tidak berhenti mencuri-curi pandang. Gadis itu sesekali akan mengaitkan anak rambutnya ke daun telinga.
"Ah, benar. Aku lupa mengatakan ini. Besok adalah hari ulang tahun pernikahan kami. Aku dan Laura kemungkinan akan mengadakan sedikit perayaan kecil." Christian mendadak mengumumkan suatu hal yang menarik perhatian. Terutama bagi Evelyn.
"Kenapa perayaan kecil? Aku akan mengadakan perayaan pesta dansa romantis untuk semua orang. Kenapa menyia-nyiakan perkumpulan kita di sini?" pungkas Evelyn.
"Apa Ibu yakin?" Christian mencoba memastikan.
"Tentu saja aku yakin. Perintahkan semua pelayan dan penjaga untuk bersiap. Kau bisa mengatur segalanya, Christian," tutur Evelyn lembut. Pembicaraan berakhir di sana. Setelahnya, semua keluarga kerajaan segera melakukan aktifitas masing-masing.
Menyaksikan para keluarga kerajaan telah pergi, Jasmine segera menghubungi Edward. Dia hendak membicarakan sesuatu hal. Namun anehnya Edward menolak untuk ditemui.
Jasmine mendudukkan dirinya ke kursi. Dia mendengus kasar saat baru saja mendapatkan penolakan dari Edward.
Akibat tidak tahu harus berbuat apa, Jasmine membuka semua pesan masuk dari Joy semenjak dua hari lalu. Ada puluhan pesan lebih dari Joy yang sebagian besar menanyakan kepergian Jasmine.
'Aku cuti untuk menjaga ibuku yang sedang sakit, Joy.' Begitulah balasan pesan Jasmine terhadap Joy.
Beberapa saat kemudian, ponsel Jasmine berdering. Jasmine sontak dibuat kaget. Dia langsung mencari tempat sepi untuk mengangkat telepon.
"Jase, kau keterlaluan. Kau selalu saja mengabaikan pesan dan teleponku! Apa benar kita berteman?!" omel Joy dari seberang telepon.
"Maafkan aku, Joy. Aku tidak sempat. Aku benar-benar sibuk." Jasmine bicara sambil meliarkan bola matanya ke segala arah.
"Kau menyembunyikan sesuatu dariku bukan? Aku dapat menciumnya dari sini." Joy lagi-lagi mendeteksi hal yang tepat. Membuat Jasmine tidak tahu harus berbuat apa selain ingin cepat-cepat mematikan telepon.
"Kita akan bicara nanti. Aku harus melakukan sesuatu. Bye!" Jasmine mengakhiri panggilan secara sepihak. Dia sekarang dapat mendengus lega.
Dengan banyaknya pihak profesional yang bertugas, ruangan untuk pesta dansa telah siap sepenuhnya. Dengan balutan warna putih kemerahan. Undangan yang datang pun hanyalah orang-orang terpilih. Pastinya berasal dari keluarga bangsawan dan pengusaha kaya.
Berbeda dengan orang yang menikmati suguhan pesta, Jasmine malah sibuk bekerja. Dia harus mengantarkan makanan dan minuman kesana kemari. Akan tetapi Jasmine tidak melewatkan kesempatan emasnya untuk mengamati busana orang-orang di pesta. Dia memilih busana terbaik di antara semua orang.
Jasmine lantas mengirim pesan kepada Edward. Tetapi dia tidak mendapatkan balasan apapun. Padalah menurut tanda pada ponselnya, Edward jelas sudah membaca pesannya. Mimik wajah Jasmine seketika muram. Dirinya tidak tahu kenapa Edward tiba-tiba menghindar.
"Bisakah kau mengambilkanku segelas wine?" suara yang tidak asing menyadarkan Jasmine dari lamunan. Dia langsung mendongak dan menemukan Edward telah berdiri di hadapannya. Lelaki tersebut mengenakan setelan jas rapi serta dasi kupu-kupu.
Jasmine membungkuk, lalu segera mengambilkan minuman untuk Edward. Hilang sudah kekhawatiran yang sempat dirasakannya tadi.
"Ini, Yang Mulia..." Jasmine dan Edward saling tersenyum. Sebab keduanya sadar dengan kepura-puraan. Selanjutnya, Edward segera berbaur dengan keluarga kerajaan yang lain.
Di waktu yang tak terduga, semua tamu undangan menatap kepada seseorang secara bersamaan. Semua orang terpesona akan gadis tersebut. Sama halnya dengan Jasmine, dia juga ikut merasa terpukau.
Putri Rose. Dialah yang sekarang menjadi pusat perhatian semua orang. Penampilannya bisa dibilang nyaris sempurna. Membuat siapapun merasa iri kala melihatnya.
Rose melangkah pelan sambil menggandeng lengan sang ayah. Melenggang sambil menyapa beberapa orang dengan ramah. Dia melepaskan gandengannya, saat ingin mengambil minuman terlebih dahulu.
Pemusik perlahan memainkan lagu. Aransemen orchestra yang romantis mengalir mengisi suasana. Hal itu menjadi pertanda kalau pesta dansa telah di mulai.
Laura dan Christian menjadi orang yang lebih dahulu berdansa. Sebagai penyelenggara pesta, sudah jelas mereka akan menjadi sorotan utama. Setidaknya begitulah yang mereka kira.
Jasmine berdiri sembari menyatukan tangan. Dia mengamati betapa romantisnya Christian dan Laura saat berdansa. Jasmine kebetulan berada di belakang Rose, dan posisinya tidak begitu jauh dari para keluarga kerajaan.
Edward berjalan kian mendekat. Dia langsung menjadi pusat perhatian ketika duduk berlutut di lantai. Telapak tangannya terbuka lebar ke arah Jasmine.
"Maukah kau berdansa denganku?" tawar Edward sambil menundukkan kepala.
Deg!
Suasana sontak menjadi tegang. Semua orang menatap tajam kepada Edward. Bagaimana tidak? Edward seolah tidak tahu malu, mau mengajak seorang pelayan berdansa bersamanya.
Selain Edward, Jasmine juga harus ikut-ikutan mendapatkan tatapan sinis semua orang. Pemusik bahkan menghentikan permainannya akibat merasa penasaran.
Keringat panas dingin mengalir deras di pelipis Jasmine. Dia merasa dikeroyok oleh ratusan bola mata yang mengancam. Keadaan seakan berubah menjadi sesuatu yang sangat mencekam.
Jasmine menggigit bibir bawahnya. Dia menggeleng beberapa kali. Edward sempat melirik selintas ke wajah Jasmine.
Edward lekas-lekas berdiri. Kemudian berkata, "Maaf... sepertinya aku salah orang." Edward tidak lupa menambahkan tawa hambar.
Suasana tegang langsung mencair dalam sekejap. Semua orang bahkan tertawa kecil secara bersamaan. Sedangkan Edward, terpaksa harus berpura-pura meminta maaf kepada Jasmine.
"Aku pikir Pangeran Edward terlalu grogi," ucap Laura seraya berjalan mendatangi Edward. Lalu menariknya ke hadapan Rose yang berada tidak jauh dari Jasmine.
"Kau sebenarnya ingin mengajak Rose berdansa bukan?" tebak Laura, yang merasa yakin. Ucapannya membuat Rose tersipu malu. Sementara Edward agak terkejut.
"A-apa?" Edward reflek menatap Laura. Ia ingin marah, tetapi rasanya tidak bisa. Apalagi saat berada di depan orang banyak.
"Benarkah itu, Ed?" Rose tiba-tiba ikut bertanya. Karena dirinya memang mengharapkan Edward mengajaknya berdansa.