
...༻♚༺...
Waktu berlalu hingga dua jam lebih. Semua orang telah menyelesaikan sketsa rancangan baju. Jasmine yang sudah lama selesai, terlihat sibuk membantu Joy untuk membuat sketsa.
"Kau harus mengikuti kata hatimu, Joy. Aku yakin hasilnya pasti akan bagus," ujar Jasmine sembari memperhatikan gambaran Joy.
"I don't care. Aku hanya ingin jam mengajar Miss Kelly bisa secepatnya berakhir." Joy menghembuskan nafas kasar. Ia menggeleng kecewa dengan hasil sketsa buatannya.
"Ayolah, Joy. Aku ingin kamu serius." Jasmine mencoba memberikan sedikit semangat.
"Aku tidak memiliki bakat apapun dihidupku, Jase." Joy mengangkat kedua tangan ke udara. Kemudian kembali menatap Jasmine. "Hal-hal yang aku sukai hanyalah, tidur, menonton film, mendengarkan lagu, dan mengganggu adikku..." terang Joy.
"Itu menyenangkan!" komentar Jasmine sembari terkekeh.
"Menyenangkan pantatmu! Aku menderita, Jase. Aku tidak punya pilihan selain mengganggu adikku saat di rumah." Joy berhenti sejenak untuk mendekat. Lalu meneruskan dengan nada berbisik, "aku pernah membuat adikku menangis semalaman."
"Oh my god, Joy." Jasmine kehilangan kata-kata. Dia juga tidak mau mempercayai begitu saja ucapan Joy. Bagi Jasmine terkadang Joy berbicara melantur karena berusaha melucu.
Jam mengajar Miss Kelly akhirnya selesai. Dia menyuruh semua mahasiswanya untuk menghentikan kegiatan yang ada.
"Oke, guys. Dengarkan!" Miss Kelly meminta perhatian semua orang. Ia memposisikan dirinya ke depan kelas. "Aku ingin kalian segera memberitahuku mengenai bahan kain serta pernak-pernik untuk kebutuhan rancangan. Kalian harus memberitahuku sebelum pertemuan kita selanjutnya, mengerti?" Miss Kelly berucap sembari memegangi beberapa buku. Selanjutnya dia berpamitan, lalu beranjak keluar dari kelas.
Jasmine dan Joy duduk saling berhadapan di kantin. Keduanya sedang sama-sama menikmati hidangan makan siang.
Joy baru tahu kalau gadis yang disukai Jake adalah Eva. Dia mengetahuinya ketika melihat Eva duduk satu meja bersama Jake.
"Eva? Kenapa kau tidak memberitahuku?" timpal Joy kepada Jasmine.
"Itu tidak penting." Jasmine menjawab singkat. Jujur saja, perhatiannya tidak bisa lepas dari tawa ceria yang ditampakkan Jake kala berbicara dengan Eva.
"Ya, aku tahu. Tapi aku merasa sedih melihatmu begini." Joy mendengus kasar sejenak. "Kau tahu, Jase? Orang yang terus menyimpan perasaannya terus-menerus dalam hati, adalah manusia yang paling menderita. Kau harus mengungkapkannya walau itu menyakitkan," lanjutnya. Joy sangat peduli kepada temannya. Akan tetapi Jasmine hanya tersenyum tipis dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
Dari kejauhan Edward tampak baru saja memasuki area kantin. Dia memesan menu makanan, kemudian bergabung bersama Jasmine dan Joy. Edward berniat duduk di samping Jasmine. Bersamaan dengan kedatangannya, Jake mendadak datang menghampiri.
"Aku tidak percaya. Jase, sepertinya dugaanku benar. Mereka berdua menyukaimu..." Joy berbisik kepada Jasmine. Matanya kembali memperhatikan Edward dan Jake, yang terlihat saling memancarkan tatapan kesal.
"Joy!" Jasmine mengerutkan dahi. Ia bergegas bangkit dari tempat duduk. Mencoba berbicara kepada Edward dan Jake. Namun dirinya urung bicara, karena Jake dan Edward tiba-tiba berlalu pergi keluar dari kantin.
Kini Edward dan Jake berdiri saling berhadapan. Mereka berbicara serius di tempat yang jauh dari keramaian.
"Ed, aku peringatkan kau untuk tidak main-main dengan Jasmine!" tegas Jake sembari mengukir raut wajah serius.
Edward memutar bola mata jengah. "Kenapa kau peduli? Harusnya kau fokus mengurus pacar baru, bukankah begitu?!" balasnya tak ingin kalah.
"Kau pikir aku membicarakan siapa?!" Edward menyilangkan tangan didada. Memalingkan wajahnya dari Jake sejenak. Entah kenapa dirinya tiba-tiba merasa kesal dengan temannya tersebut.
"Bukan itu yang ingin aku bicarakan kepadamu, oke? Tetapi tentang Jasmine! Aku tidak mau gadis sepertinya menjadi bahan mainanmu!" Jake mendorong kasar pundak Edward.
"Justru kaulah yang bermain-main! Aku tahu, kau selalu memanfaatkanku terhadap nilai-nilai akademik yang kau dapat! Aku tahu kau sengaja menjadikanku teman, agar dirimu bisa belajar tentang ilmu yang sudah kupelajari!" kemarahan Edward berada di luar batas. Ia kini mencengkeram erat kerah baju Jake. Kekesalan Edward bukan hanya karena Eva, namun juga segala hal licik yang pernah dilakukan Jake kepadanya.
Jaka hanya mematung. Berbeda dengan Edward, dirinya malah terkesan santai. Dia lantas menanggapi ucapan Edward, "Tapi kau harus tahu satu hal, tanpa aku, kau tidak akan pernah bisa memiliki banyak teman seperti sekarang!"
Mendengar perkataan Jake, kemarahan Edward semakin bertambah. Rahangnya mengerat kesal, hingga akhirnya dia melayangkan sebuah bogem ke wajah Jake. Tidak berhenti di sana. Edward menambahkan pukulan yang beringas. Lelaki tersebut benar-benar merasa tersinggung dengan semua ucapan Jake.
"Lebih keras, Ed! Hanya itukah kekuatanmu?!" tantang Jake. Padahal wajahnya terlihat babak belur dan sedikit mengeluarkan darah.
Pitam Edward semakin terpacu. Ia otomatis memukuli Jake dengan beringas, persis seperti orang kesetanan. Keributan yang dilakukannya bersama Jake sukses menarik perhatian banyak orang. Tempat yang tadinya sepi, kini dipenuhi oleh banyak pasang mata. Beberapa orang juga tampak berupaya melerai ketegangan yang terjadi. Akan tetapi, kemarahan Edward seolah tak terbendung. Dia terus mencoba melakukan serangan kepada Jake.
Jasmine dan Joy segera bergabung masuk ke dalam kerumunan. Melihat Edward mengamuk, Jasmine sontak merasa khawatir. Tanpa pikir panjang, Jasmine berlari menghampiri Edward. Meskipun ada rasa takut, namun dia tetap memaksakan diri.
"Jase!" Joy yang tadinya hendak menghentikan kenekatan Jasmine, hanya bisa mengurungkan niat. Membiarkan temannya berlalu untuk menghampiri Edward dan Jake.
Jasmine berhenti berlari tepat di hadapan Edward. Menghalangi lelaki itu agar tidak memukuli Jake lagi. Jasmine memancarkan binar getir. Usaha yang dilakukannya sukses membuat Edward membeku dalam sesaat.
"Kumohon hentikan..." lirih Jasmine.
Eva ikut-ikutan bergabung. Ia tentu mencemaskan kekasihnya yang telah terluka parah. Kemudian menyalangkan mata ke arah Edward.
"Dasar pengacau! Kau seharusnya dilaporkan saja ke polisi!" pungkas Eva dengan tatapan jijiknya.
Edward lantas mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Saat itulah dia menyadari, kalau dirinya sedang menjadi pusat perhatian semua orang. Edward melangkah mundur sambil terus mengontrol nafas yang naik turun dalam tempo cepat. Selanjutnya, dia berbalik dan lekas-lekas berlari dari keramaian.
Dari kejauhan, seorang dosen lelaki terlihat membelah kerumunan. Dia berjalan dengan mimik wajah yang panik. Dosen tersebut mengarahkan mahasiswanya untuk membantu Jake pergi ke rumah sakit.
Jika semua orang mencemaskan Jake, maka berbeda dengan Jasmine. Gadis itu sangat khawatir terhadap keadaan Edward. Jasmine berupaya mencari keberadaan Edward kemana-mana.
Jasmine berlari mengelilingi area kampus yang luas. Memindai penglihatannya kesana-kemari. Dengan harapan bisa menemukan Edward. Setelah memakan waktu cukup lama, akhirnya Jasmine dapat melihat sosok yang dicarinya.
Edward terlihat duduk di lantai. Dalam keadaan menyandar ke dinding. Ia duduk di tengah lorong yang gelap. Lokasinya berada di bangunan belakang kampus.
Jasmine segera mendatangi Edward. Lalu duduk di sampingnya. Jasmine tidak mengucapkan apapun. Dia hanya diam seperti halnya Edward. Menatap ke arah jendela tanpa kaca yang ada di depan.
"Pergilah! Sebelum aku menjadikanmu korban kedua untuk dipukuli." Edward mengusir sembari mengepalkan tinju di salah satu tangannya.
"Aku memilih berada disisi anda." Jasmine berucap tanpa menoleh ke arah Edward. Dari raut wajahnya dia tampak tidak main-main dengan perkataannya.