
...༻♚༺...
Jasmine sedang mengunjungi Selene ke rumah sakit. Ia hampir tidak pernah absen menjenguk ibunya. Terkadang Jasmine akan menghabiskan waktu seharian di sana. Apalagi jika semua pekerjaannya sudah selesai.
Selene terlihat lebih sehat dari sebelumnya. Membuat Jasmine merasa senang. Menurutnya keajaiban telah menimpa nasib Selene. Jasmine berharap ibunya bisa lebih baik lagi.
"Katakan kepadaku, Jase. Apakah kau betah tinggal di kost-kostan pilihanku?" tanya Selene dengan rekahan senyuman tipis.
"Em..." Jasmine bingung harus berkata apa. Sebab sudah lebih dari dua minggu dia meninggalkan kost-kostan. Selain itu, dia belum menceritakan mengenai kepindahannya kepada Selene.
"Aku sudah tidak tinggal di sana lagi, Mom. Tempat itu sebenarnya sangat nyaman. Aku sangat suka. Tapi orang-orang yang ada di sana tidak cocok denganku," ungkap Jasmine. Dia memilih jujur. Lagi pula mau sampai kapan dirinya terus berbohong kepada Selene.
"Benarkah? I'm so sorry, Jase." Selene menampakkan raut wajah penuh sesal.
"Kenapa Ibu meminta maaf? Kau sama sekali tidak salah. Akulah yang tidak pandai bergaul. Ibu tenang saja, aku sudah nyaman dengan tempat tinggalku sekarang." Jasmine memegangi jari-jemari Selene.
"Syukurlah... ngomong-ngomong, dimana itu?" belum sempat Jasmine menjawab, pintu terdengar dibuka. Nathalie terlihat muncul membawa tas karton cokelat. Dia langsung menyapa Jasmine dengan menawarkan sebungkus cokelat. Nathalie mengambil sebungkus cokelat itu dari tas karton yang dibawanya.
"Nenek sepertinya sedang bahagia. Aku dengar kau dekat dengan seorang lelaki bernama Gerry." Jasmine mencoba menggoda Nathalie.
"Apa-apaan, Jase." Nathalie menepuk pundak Jasmine. Dia tidak mampu menyembunyikan rona merah diwajahnya.
"Selene, kau racuni putrimu dengan cerita apa?" timpal Nathalie. Hingga membuat Jasmine dan Selene otomatis tergelak bersama.
"Ah, benar. Jase, tadi pangeran berkunjung ke sini. Dia memberikan banyak buah dan makanan." Selene memberitahu sambil menunjuk tumpukan makanan yang ada di atas meja.
"Benarkah? Apa dia datang sendiri?" Jasmine mengangkat kedua alisnya.
"Iya, dia..." Selene tidak meneruskan kalimatnya. Entah kenapa dia mendadak ragu untuk bicara.
"Dia kenapa?" Jasmine mendesak.
"Bukan apa-apa. Aku hanya ingin menyebut kalau keadaannya semakin membaik." Selene segera memberikan alasan.
"Aku pikir apa tadi." Jasmine memanyunkan mulutnya. Lalu menyandarkan kepala ke pundak ibunya.
Setelah melihat Selene tidur, Jasmine segera kembali pulang. Terpikir dalam benaknya untuk mencari hunian lain. Jasmine tidak bisa tinggal secara terus-menerus di rumah Edward.
Ketika mengingat hari sudah sangat sore, Jasmine lantas mengurungkan niat. Dia akan mencari tempat tinggal besok saja. Dirinya berniat meminta bantuan dari Joy nanti.
Kaki Jasmine baru saja melangkah memasuki rumah. Sosok Edward terlihat duduk dalam keadaan kaki yang menyilang.
"Kau sudah datang rupanya," celetuk Edward. Tanpa menoleh ke arah lawan bicara. Tegurannya menyebabkan pergerakan kaki Jasmine sontak terhenti.
"Iya, aku baru saja dari rumah sakit." Jasmine menjawab sambil mengaitkan helaian rambutnya ke daun telinga.
Edward menutup bukunya. Kemudian menatap Jasmine. Tatapannya tampak berisi. Begitu lekat, sampai membuat Jasmine merasa salah tingkah.
"Tu-tuan kenapa menatapku begitu?" gagap Jasmine. Dia enggan membalas tatapan Edward. Dirinya hanya bisa menundukkan kepala.
"Duduklah, Jase!" titah Edward seraya menunjuk kursi yang ada di depannya.
Jasmine dibuat kaget saat mendengar Edward memanggilnya dengan sebutan Jase. Bagaimana Edward tahu nama panggilan itu? Padahal seingat Jasmine, dia tidak pernah memberitahukannya mengenai nama panggilan khusus tersebut.
"Kenapa kau masih diam? Aku mau bicara serius denganmu," desak Edward.
"Kenapa kau penasaran? Apa kau melarangku untuk memanggilmu begitu?" sahut Edward. Tidak bersedia menerangkan.
Sebenarnya setelah berdebat dengan Jake tadi, Edward pergi ke rumah sakit. Dia penasaran kenapa Jake memanggil Jasmine dengan sebutan Jase. Sebab Jasmine belum pernah menceritakan apapun mengenai hal itu.
Selene otomatis memberitahukan Edward segalanya. Mengenai panggilan Jase terhadap Jasmine. Panggilan khusus tersebut hanya dipakai oleh orang-orang terdekat Jasmine saja. Kenyataan itu tentu membuat Edward merasa iri dengan Jake. Kenapa Jasmine membiarkan Jake memanggilnya Jase, sementara dirinya tidak?
"Bukan begitu. Hanya saja..." Jasmine mengusap tengkuknya tanpa alasan. "Lupakan saja, Tuan. Anda bisa memanggilku dengan sebutan apapun," sambungnya. Jasmine akhirnya duduk ke kursi yang ada di depan Edward. Gadis itu menyatukan kedua tangan sambil meletakkannya di atas paha. Siap mendengarkan topik yang akan dibicarakan Edward.
"Apa kau ingat insiden ciuman yang aku lakukan terhadapmu?" imbuh Edward.
"Tentu saja! Menurutku anda sudah keterlaluan. Aku tahu Tuan sengaja mempermainkanku," ungkap Jasmine dengan dahi yang berkerut.
"Tapi bagaimana jika aku benar-benar serius?" balas Edward.
"Maksud anda? Mengenai ciuman atau..." Jasmine mencoba mencari tahu dengan cara berpikir.
"Aku tahu ciuman yang aku lakukan tidak tulus. Tapi aku sedang membicarakan tentang perasaan yang aku ungkapkan saat itu." Edward menjelaskan dengan ekspresi serius.
"Maksudnya, Tuan memiliki perasaan kepadaku?" Jasmine memastikan.
"Benar, aku--"
"Pffffft!" ucapan Edward terpotong, kala Jasmine tiba-tiba tergelak. Gadis itu terdengar berusaha menahan tawa, namun tidak mampu.
Edward buru-buru berdiri. Kemudian memposisikan diri tepat di hadapan Jasmine. Keberadaannya membuat Jasmie harus menghentikan tawa dan mendongakkan kepala.
"Ma-maaf... hanya saja, aku merasa tidak mungkin seorang bangsawan seperti anda tertarik denganku." Jasmine menciut. Matanya mengedip beberapa kali.
Edward sedikit membungkukkan badan ke arah Jasmine. Kedua tangannya menopang ke pegangan kursi. Sengaja mengurung Jasmine dengan cara begitu.
Edward menatap dalam manik biru milik Jasmine. Gadis dengan warna iris mata yang senada dengan miliknya tersebut, juga terpaku menatapnya.
"Aku memang sebelumnya main-main denganmu. Maafkan aku..." Edward menutup rapat matanya sejenak. Lalu melanjutkan, "tapi aku ingin memastikan kepadamu, kalau sekarang aku benar-benar memiliki perasaan yang istimewa denganmu."
Jasmine terperangah tak percaya. Dia dengan cepat mendorong Edward menjauh. "Kumohon jangan mempermainkanku lagi, Tuan! Aku tidak akan tertipu kali ini!" tegasnya.
"Aku tahu kau tidak akan mempercayaiku begitu saja. Tapi aku akan tunjukan kepadamu bahwa aku serius!" sahut Edward.
Jasmine mencoba menenangkan diri. Dia meyakinkan otaknya, agar segera melupakan segala yang dikatakan Edward tadi.
"Aku akan menganggap apa yang Tuan katakan tadi tidak pernah aku dengar. Aku harus membuat hidangan untuk makan malam dahulu." Jasmine sengaja mengubah topik pembicaraan. Kemudian segera beranjak meninggalkan Edward.
Edward menghembuskan nafas berat. Pernyataan cintanya bisa dibilang gagal total. Jasmine bahkan sama sekali tidak peduli. Semuanya gara-gara dirinya sering mempermainkan orang lain. Kini Edward harus menerima akibatnya.
'Aku tidak akan menyerah begitu saja. Lagi pula Jasmine tinggal satu atap denganku. Aku punya lebih banyak kesempatan dibandingkan Jake,' batin Edward. Mulutnya perlahan mengukir seringai. Bila dia sudah bertekad, maka tidak ada seorang pun yang bisa meruntuhkannya.
Edward berjalan memasuki area dapur. Dia diam-diam berdiri di belakang Jasmine. Mengamati gerak-gerik Jasmine yang sesekali sibuk melamun, dan kadang menggumamkan sebuah lagu.
Saat Jasmine tidak sengaja berbalik, dia sangat terkejut dengan kehadiran Edward. Jasmine langsung memegangi bagian dadanya. Matanya membulat sempurna. Sementara Edward hanya berdiri santai sembari menyilangkan tangan didada.
"A-apa yang Tuan lakukan?" tanya Jamsine. Ia masih merasa syok. Edward muncul bak sesosok hantu.
"Tidak ada. Ini rumahku, aku bisa berada di ruangan mana pun yang aku mau!" seru Edward tak acuh. Dia lalu mengedarkan pandangan ke meja yang berantakan dengan alat masak serta bahan makanan.