Jase Is Mine

Jase Is Mine
Bab 36 - Mengantar Jasmine



...༻♚༺...


Edward mengeratkan rahang. Kemudian berjalan menghampiri Jasmine dan Jake berada. Dia tidak mau Jasmine jatuh ke dalam permainan Jake.


Tangan Edward sudah terangkat ke arah Jake yang membelakanginya. Saat itulah Jasmine melepaskan tautan bibirnya dari Jake.


"Pangeran Edward!!!" pekik Jasmine sembari mencengkeram erat kerah baju Jake. Nada suaranya terdengar seperti marah. Ia sepenuhnya sudah mabuk. Padahal tadi dirinya tidak begitu banyak meminum alkohol. Itu mungkin karena efek pertama kali dirinya meminum alkohol, jadi Jasmine belum bisa mengendalikannya.


Edward perlahan menurunkan tangannya. Dia terkesiap mendengar teriakan Jasmine. Edward yang tadinya hampir melakukan serangan kepada Jake, kini membatalkan niatnya.


Semua pasang mata tertuju ke arah Jasmine. Sebab panggilan Jasmine terdengar sangat nyaring. Ben yang bertindak sebagai DJ, memilih untuk mematikan musik. Jasmine sepenuhnya telah menjadi pusat perhatan.


Jake yang berdiri tepat di depan Jasmine, tidak tahu harus merespon bagaimana. Dia mematung saat mendengar Jasmine menyebut dirinya dengan nama lelaki lain.


"Aku tidak tahu kau ada di pikiranku, akhir-akhir ini..." Jasmine meneruskan racauannya. Joy yang ada di belakang berusaha membawa Jasmine, namun langsung mendapat penolakan.


"Menjauhlah, Joy! Aku belum selesai bicara dengan Pangeran..." hardik Jasmine. Dia mendorong Joy sekuat tenaga.


Semua orang tertawa mendengar ucapan Jasmine. Terutama dibagian dirinya yang memanggil Edward dengan sebutan Pangeran.


"Dia benar-benar gadis desa yang udik!"


"Ini pasti pertama kalinya dia melihat lelaki tampan seperti Edward. Pangeran pantatmu!"


"Lucu sekali, dia memanggil nama pria yang disukainya dengan panggilan Pangeran. Bermimpi sekali dia. Aku yakin, Pangeran yang asli bahkan tidak berminat melirik gadis sepertinya."


Edward dapat mendengar pembicaraan semua orang di sekelilingnya. Dia merasa lega, tidak ada satu orang pun yang curiga tentang identitas aslinya. Tetapi di sisi lain, Edward merasa kasihan dengan Jasmine. Ia tidak bisa membiarkan Jasmine mempermalukan dirinya sendiri di depan orang banyak. Lagi pula siapa orang yang telah membuatnya mabuk?


"Aku pikir... aku menyukaimu, Pangeran. Tapi kenapa aku merasa sangat buruk... Aku tahu, aku tidak pantas merasa seperti ini kepada anda..." omongan Jasmine terpotong-potong, akibat rasa pusing yang begitu menyengat kepalanya. Jake lantas mencoba memeganginya, tetapi langsung mendapat tepisan dari Edward.


"Biar aku saja!" ucap Edward. Belum sempat dirinya memberikan bantuan, Jasmine tiba-tiba muntah.


"Huek!" isi perut Jasmine berhasil mengenai sepatu mahal Edward. Selanjutnya, Jasmine tampak sempoyongan. Gadis itu memegangi area kepalanya yang terasa pusing.


Semua orang yang ada di pesta berseru jijik secara bersamaan. Satu-satunya orang yang tersenyum puas hanyalah Jake. Bagaimana tidak? Dia tadi sudah menerima ciuman dari Jasmine, sementara Edward mendapatkan muntahan sisa makanan dari Jasmine.


"Sini, biar aku yang membawanya!" Jake memegangi tangan Jasmine.


"Tidak! Dia ikut denganku!" Edward dengan cepat memegangi tangan Jasmine yang satunya.


Jake memutar bola mata malas. "Ed, menyingkirlah! Bersikaplah seperti dulu. Kenapa kau sangat berubah drastis akhir-akhir ini? Kembalilah jahil, dan juga tidak peduli dengan gadis mana pun!" pungkasnya.


"Kaulah yang harusnya menyingkir!" Edward mendorong Jake menjauh. Namun Jake belum juga melepaskan genggamannya dari tangan Jasmine.


"Kalian kenapa memperebutkan gadis bodoh sepertinya?! Dia bukan apa-apa. Lihatlah dia!" Eva tiba-tiba berseru lantang seraya berkacak pinggang. Dia tidak habis pikir dengan keributan yang ditimbulkan Jake dan Edward.


Jake otomatis menoleh ke arah Eva. Edward memanfaatkan kelengahan Jake sebagai peluang untuknya. Edward sekali lagi mendorong Jake. Dia melakukannya lebih kuat dari sebelumnya. Pegangan Jake dari Jasmine akhirnya terlepas. Akan tetapi Jasmine malah ikut-ikutan tumbang.


Jasmine sudah kehilangan kesadaran. Untung saja Edward dengan cepat menangkap tubuhnya sebelum menghantam lantai.


"Dia hanya mabuk! Lebih baik dibawa pulang saja, dari pada menghancurkan pesta yang sekarang diadakan!" imbuh Eva sinis.


"Kau bukan?" Edward menatap tajam Joy.


"Aku hanya mencoba mengajaknya untuk bersenang-senang. Itu saja," jawab Joy yang merasa menyesal. Dia tanpa sengaja menitikkan air mata, akibat merasa sangat khawatir dengan Jasmine.


"Teman macam apa kau!" komentar Edward. Kemudian segera menggendong Jasmine dengan gaya bridal style. Dia berjalan membelah kerumunan orang yang ada di pesta.


Kini Jake tidak bisa lagi menghentikan Edward. Dia mengaku kalah. Jake tidak menyangka tekad Edward terhadap Jasmine bisa sampai setinggi itu.


Ketika Edward telah berada di luar, musik terdengar kembali dinyalakan. Pertanda tidak ada orang yang peduli dengan kejadian yang menimpa Jasmine tadi. Mereka bahkan terkesan mencemoh Jasmine dengan ejekan dan remehan tak berguna.


"Edward!" Joy berlari mendatangi Edward. "Biarkan aku yang bertanggung jawab. Aku akan membawa Jasmine ke rumahku!" mohonnya sembari berupaya mengikuti langkah Edward dari samping.


"Tidak perlu. Biar aku saja yang mengurusnya!" sahut Edward tak acuh. Ia memasukkan Jasmine ke dalam mobil.


"Bagaimana aku bisa mempercayaimu?! Kau bahkan pernah mempermainkan Jasmine! Aku tahu itu!" timpal Joy dengan dahi yang mengerut dalam.


Edward mendengus kasar. Lalu membalikkan badan menghadap Joy. "Aku lebih tahu Jasmine dari pada dirimu!" tegasnya.


"Tidak!" Joy mendorong Edward menjauh. Dia bergegas membuka pintu mobil untuk bicara dengan Jasmine.


"Jase, sadarlah! Kau harus ikut denganku!" Joy mengguncang badan Jasmine. Berharap temannya tersebut bisa cepat sadar. Dia terus-menerus melakukannya, sampai membuat Edward merasa jengah.


"Bisakah kau hentikan?!" tegur Edward. Joy lantas berhenti mengguncang badan Jasmine.


"Masuklah! Kau bisa duduk di belakang bersamanya!" titah Edward. Ia segera masuk ke mobil, dan duduk di kursi kemudi.


Joy tertegun sejenak. Ia merasa kaget dengan sikap Edward. Ternyata sikap Edward tidak seburuk yang dirinya bayangkan selama ini. Alhasil Joy menurut saja, dan duduk menemani Jasmine di kursi belakang.


"Aku akan mengantarmu lebih dulu," celetuk Edward. Dia akhirnya bersuara, setelah sekian menit berlalu.


"Lalu Jase? Kau akan membawanya kemana?" tanya Joy, yang masih tidak mempercayai Edward.


"Sudah kubilang, aku lebih mengetahui perihal Jasmine dibanding dirimu. Aku mengenal ibunya. Kau tenang saja, aku akan mengantarkan Jasmine kepada ibunya," tutur Edward dengan nada bicara datar. Tidak ramah, namun juga tidak dingin.


"Awas saja kalau terjadi apa-apa kepada Jasmine. Aku tidak akan segan-segan melaporkanmu kepada polisi!" ancam Joy dengan tatapan membunuhnya.


Edward menghela nafas berat. Dia memilih tidak meneruskan pembicaraannya dengan Joy. Keheningan terjadi dalam selang beberapa saat.


"Biarkan aku ikut denganmu mengantar Jasmine!" imbuh Joy sambil menyilangkan tangan di dada.


"Apa?! Tidak! Aku--"


"Kenapa? Apa kau takut?" timpal Joy. Sengaja memotong kalimat Edward. "Jika kau takut, bukankah itu berarti kau sedang memiliki niat jahat?" tambahnya lagi. Menyebabkan Edward tidak mampu berkata-kata lagi.


"Ya sudah, bawa saja Jasmine ke rumahmu!" geram Edward sembari menggertakkan gigi. Dia sangat kesal menghadapi Joy. Mengalah mungkin adalah satu-satunya cara untuk membuat Joy diam. Lagi pula, tidak mungkin Edward mengantar Jasmine yang mabuk kepada Selene. Dia juga tidak bisa membawa Joy ikut ke rumahnya. Jadi pilihan terbaik adalah menuruti keinginan Joy.