Jase Is Mine

Jase Is Mine
Bab 47 - I Got My Mind Set On You



...༻♚༺...


Suasana kembali menyepi. Hanya ada suara denting sendok yang mengenai piring. Jasmine baru saja menghabiskan hidangannya.


"Jase, aku punya sesuatu." Edward bangkit dari tempat duduk. Dia menghampiri alat vinyl yang ada di atas nakas.


Jasmine yang merasa tertarik, lantas mengekori Edward. Apalagi saat menyaksikan susunan piringan hitam yang ada di lemari.


"Apa semua ini milikmu?" tanya Jasmine. Mengamati sambil menyatukan tangan di balik punggung.


"Bukan. Ini semua milik ayahku," sahut Edward. Dia segera duduk ke lantai untuk bergumul dengan piringan hitam. Hal serupa juga dilakukan Jasmine. Sebagai penyukai piringan hitam, Jasmine tidak kuasa menahan diri untuk ikut andil.


"Aku sebenarnya menambahkan beberapa lagu-lagu baru terbaik. Lalu mengumpulkannya ke sini," tutur Edward. Dia melirik Jasmine yang ikut-ikutan sibuk melihat piringan hitam.


"Wah... ayahmu punya kompilasi lagu-lagu terbaik The Kinks. Ini persis seperti milikku yang ada di rumah," seru Jasmine. Dia terlalu bersemangat sampai lupa untuk menanggapi ucapan Edward. Jasmine terlihat kembali melihat-lihat koleksi piringan hitam milik Edward.


"Sesuka itukah kau dengan lagu klasik?" tanya Edward. Ia duduk dalam keadaan memeluk kedua lutut. Manik birunya terus saja memperhatikan gerak-gerik Jasmine. Keceriaan tersembunyi dari gadis itu perlahan muncul.


"Bukankah sudah jelas? aku bahkan berusaha mati-matian mencari lagu-lagunya di internet!" jawab Jasmine. Dia terlihat kembali mengambil salah satu piringan hitam. Apa yang diambilnya itu membuat pupil mata Jasmine seketika membesar. Namun belum sempat berucap, Edward sudah lebih dahulu merebut piringan hitam yang tadi dipegang Jasmine.


"Itu barang langka bukan?!" Mata Jasmine masih membulat.


"Aku tahu. Makanya aku mencoba mengamankannya darimu," pungkas Edward. Menyebabkan Jasmine reflek memicingkan mata sebal.


"Aku hanya ingin melihatnya. Itu saja. Kau pelit sekali!" ucap Jasmine seraya berupaya meraih piringan hitam yang ada pada Edward. Akan tetapi Edward malah semakin menjauhkan piringan hitam dari jangkauan Jasmine. Dia bahkan sempat-sempatnya mentertawakan Jasmine.


"Berikan kepadaku, Ed!" Jasmine merasa sangat penasaran. Jujur saja, dia telah lama mencari piringan hitam yang dipegang Edward sekarang. Kompilasi lagu yang ada di piringan itu sangat sulit dicari. Semua lagu di sana di isi oleh musik-musik terbaik tahun 1980 sampai 1990-an.


Akibat berupaya terlalu keras, Jasmine lupa kalau dirinya sudah terlalu dekat dengan Edward. Kedua kakinya dalam keadaan menyengkang di antara dua paha Edward.


Jarak wajah Jasmine dan Edward hanya berhelatkan beberapa senti. Keduanya saling bertukar pandang sejenak. Semuanya harus terhenti, ketika Edward berlaku jahil. Lelaki itu memajukan bibir ke arah Jasmine, seolah hendak memberikan ciuman.


Jasmine menghindari Edward secara spontan. Wajahnya memerah malu. Dia terduduk ke lantai. Matanya membuncah hebat saat Edward terus kian mendekat. Jantungnya berdetak penuh gebu. Jasmine semakin gugup ketika mengingat dirinya hanya berduaan bersama Edward di kamar. Pikirannya berlainan kemana-mana.


Kini kaki Edward yang menyengkang di antara pangkuan Jasmine. Dia sukses memojokkan gadis itu ke dinding.


"Aku belum siap untuk itu, Ed!" ungkap Jasmine dengan nada tegas. Matanya menutup rapat saat dirinya melihat bibir Edward hampir menempel ke mulutnya.


Edward mendadak memecahkan tawa. Dia perlahan menjauh dari Jasmine dan duduk kembali ke lantai. Kegugupan yang ditunjukkan Jasmine tadi, membuatnya tertawa sampai terpingkal-pingkal.


Jasmine menatap sinis ke arah Edward. Kemudian berdiri dan beranjak menuju meja trolly. Dia berniat pergi saja. Baginya, Edward benar-benar menyebalkan jika sedang bersikap jahil.


Saat melihat Jasmine sudah sibuk membereskan piring kotor di atas meja, Edward lekas berdiri. Dia berjalan menghampiri, lalu menyodorkan piringan hitam yang sedari tadi sangat di inginkan Jasmine.


"Ini, kau bisa memilikinya!" ujar Edward seraya tersenyum tipis.


Jasmine terkesiap. Ia berhenti dari kegiatannya. Matanya menatap lurus ke piringan hitam yang diserahkan Edward. "Benarkah?" tanya-nya memastikan. Kekesalan yang dirasakannya tadi seketika sirna.


"Ya sudah kalau kau tidak--"


"Tentu saja aku mau!" Jasmine lekas-lekas menyambut piringan hitam yang diberikan kepadanya. Tepat sebelum Edward berubah pikiran.


"Kau serius bukan?" Jasmine sekali lagi memastikan.


Edward berbalik dan kembali merekahkan senyuman. Dia membuka pintu balkon dengan pelan. Kemudian berdiri sambil melipat tangan ke dinding balkon.


"Bolehkah aku mencoba memutar piringan hitamnya? Aku akan memutar volumenya dengan pelan," cetus Jasmine.


"Mainkan saja, Jase. Kau bahkan tidak perlu memelankan volume suaranya. Kamar ini luas, apapun yang terjadi di sini tidak akan terdengar sampai keluar." Edward menjawab sembari menoleh ke belakang. Jasmine tampak berdiri di depan alat vinyl. Lagu I Got My Mind Set On You yang dinyanyikan oleh George Harrison menggema.


...🎶...


...I got my mind set on you...


...I got my mind set on you...


...But it's gonna take money...


...A whole lotta spending money...


...🎶...


Tanpa sadar, salah satu kaki Jasmine mulai bergerak mengikuti irama. Dia menikmati musik sambil mengamati daftar lagu yang ada di wadah piringan hitam.


Edward dapat melihat gerakan kecil Jasmine dari kejauhan. Dia senyum-senyum sendiri menyaksikannya. Menurut Edward, Jasmine masih terlalu malu menunjukkan jati dirinya. Alhasil Edward melenggang mendatangi Jasmine. Lalu membawa gadis itu ke tengah ruangan. Dimana dia dan Jasmine dapat bergerak dengan leluasa di sana.


"Menarilah sesuka hatimu, Jase. Aku juga akan melakukannya," pinta Edward seraya melepaskan tangan Jasmine.


"Aku pikir kau tidak menyukai musik klasik," imbuh Jasmine.


"Aku menyukai semua jenis musik." Edward menyahut santai.


"Benarkah? Lalu, apa kau lupa perdebatan yang pernah terjadi di antara kita. Katamu, kau lebih menyukai musik modern." Jasmine masih ingat pernyataan Edward beberapa waktu lalu.


"Kalau begitu, aku menarik ucapanku saat itu. Apa kau puas sekarang?" balas Edward seraya mengangkat kedua tangan. Dia yang tadinya berniat ingin menari, justru kehilangan minat akibat pertanyaan Jasmine. Edward tampak memasang mimik wajah datar.


Jasmine dan Edward saling terdiam dalam sesaat. Suasana yang terjadi, membuat Jasmine sadar bahwa Edward merajuk. Gadis itu tersenyum tipis, kemudian melangkah lebih dekat ke arah Edward.


"Ayo! Kau tadi mau mengajakku menari bukan?" Jasmine mulai merasa nyaman. Dia bahkan menggerakkan badannya lebih dahulu dari Edward.


Awalnya memang terasa sangat canggung. Wajah Jasmine dan Edward sama-sama memerah malu. Tetapi keduanya terus menari mengikuti irama lagu.


Jasmine dan Edward menari tanpa saling menyentuh. Mereka menikmati musik dengan cara sendiri-sendiri. Meskipun begitu, tatapan keduanya terus terhubung satu sama lain. Lama-kelamaan mereka terbawa suasana, hingga akhirnya mulai menari dengan leluasa.


Jasmine dan Edward harus berhenti saat nafas sudah mulai memburu. Sekarang keduanya duduk bersebelahan menyandar di kasur. Menselonjorkan kaki yang terlihat masih mengenakan sepatu.


"Aku ingin memberitahumu satu hal. Ini mengenai lagu yang kita dengar tadi," ujar Edward. Ia menyandar dalam keadaan mendongakkan kepala.


"Maksudmu Lagu I Got My Mind Set On You?" tebak Jasmine. Menatap Edward dengan sudut matanya.


"Ya, aku hanya ingin memberitahumu, kalau George Harrison bukan orang pertama yang menyanyikan lagu I Got My Mind Set On You." Edward duduk tegak. Bergerak perlahan menghadap gadis yang duduk di sampingnya.


Jasmine terkekeh. "James Ray!" serunya sembari mengukir senyuman puas. "Dia bukan? Orang yang menyanyikan lagu itu untuk yang pertama kali?" Jasmine kembali tergelak kecil. Dia lantas menyenggol Edward dengan sikunya. "Ayolah, Ed! Penggemar musik klasik sepertiku tentu tahu mengenai hal kecil begitu," lanjutnya.


Edward kalah telak. Dia yang tadinya ingin mengesankan Jasmine, justru harus menanggung malu sendiri. Walaupun begitu, Edward merasa sangat senang sekarang. Dia tidak pernah sebahagia ini selama satu dekade terakhir.