
...༻♚༺...
Jasmine sudah dua hari ada di desa Devory. Sekarang dia sibuk merapikan kamar Selene. Terutama tas Selene yang belum dirapikan. Di sana Jasmine menemukan sebuah buku diary ibunya. Dia tentu bersemangat dan langsung membacanya.
Selene banyak menulis tentang Jasmine dan suaminya. Beberapa cerita membuat Jasmine mengembangkan senyuman. Namun ada salah satu cerita yang menarik perhatian Jasmine. Yaitu tentang Pangeran Stevan dan Putri Aramina. Jasmine tahu dua orang tersebut adalah orang tua Edward.
'Kebahagiaan. Itulah yang bisa aku lihat di mata Pangeran Stevan dan Putri Aramina. Cinta mereka terlihat tulus. Apalagi dengan lahirnya putra mereka yang bernama Edward. Mereka adalah pasangan dari keluarga kerajaan yang membuatku kagum. Mereka juga satu-satunya pasangan yang menikah karena cinta dan bukan perjodohan.'
Begitulah bunyi cerita yang ditulis dalam salah satu lembar buku diary Selene. Jasmine segera membalik lembar berikutnya. Lalu membaca lagi.
'Putri Aramina merupakan gadis biasa. Dia bertemu dengan Pangeran Stevan saat kuliah. Mungkin banyak yang tidak merestui hubungan mereka. Karena Putri Aramina diketahui adalah anak dari seorang kriminal. Ayahnya Aramina selalu berupaya mengambil keuntungan dari pernikahan anaknya. Suatu hari, Putri Aramina mengalami kecelakaan. Dia langsung meninggal di tempat bersamaan dengan suaminya. Satu-satunya orang yang masih hidup hanyalah Pangeran Edward. Anak malang yang tidak tahu apa-apa. Dia masih berusia sepuluh tahun kala itu.' Jasmine kembali membalik lembar selanjutnya.
'Ratu Evelyn terpaksa menyembunyikan identitas Pangeran Edward untuk perlindungan. Selain demi kondisi mentalnya, tetapi juga dari kejahatan ayahnya Aramina. Aku ditugaskan Ratu untuk menjaga Pangeran Edward. Anak keras kepala yang pernah kutemui. Tetapi yang aku harapkan darinya adalah kebahagiaan. Aku juga ingin melihat Pangeran Edward bahagia dengan gadis yang dicintainya. Bahkan lebih dari yang dirasakan Pangeran Stevan dan Putri Aramina. Umur mereka memang tidak panjang, tetapi setidaknya mereka memiliki kebahagiaan saat berada di akhir hayat.'
Jasmine menutup buku diary Selene. Cerita yang baru dibacanya terasa seperti teguran. Apakah keputusannya sekarang salah?
Setelah mengetahui kebenaran tentang hidup Edward, Jasmine merasa luluh. Dia tahu alasan dibalik sikap menyebalkan Edward. Para anggota keluarga kerajaan tidak ada yang benar-benar memperhatikannya. Ratu Evelyn yang sibuk, tentu tidak bisa meluangkan waktu untuk Edward. Apalagi James. Pantas saja Edward sempat marah dengan semua orang.
Jasmine berlari keluar dari kamar Selene. Dia segera menemui Nathalie. Menanyakan perihal ayahnya Aramina yang jahat.
"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan ini, Jase?" tanya Nathalie sembari sibuk membuat pie.
"Aku baru membaca cerita tentang orang tua Edward," jawab Jasmine. "Cepat ceritakan kepadaku," desaknya gelisah.
Nathalie terkekeh. "Apa alasanmu mengatakan ini karena khawatir dengan Pangeran Edward?" timpalnya.
Jasmine membisu. Dia tidak bisa membantah karena apa yang dikatakan Nathalie memang benar. Jasmine hanya memastikan keamanan Edward.
"Ayahnya Putri Aramina yang bernama Holmes telah dihukum mati. Eksekusinya dilakukan beberapa minggu lalu. Tepat sebelum identitas Edward dibeberkan ke publik," jelas Nathalie.
"Begitukah? Pantas saja Ratu mengumumkan identitas Edward tanpa memberitahu apapun." Jasmine menyimpulkan.
"Aku yakin Ratu Evelyn sudah tidak tahan terus-terusan menyembunyikan Edward dari semua orang." Nathalie kembali menerangkan.
Jasmine melingus keluar dari dapur. Dia duduk melamun di rumah pohon. Yang ada dalam pikirannya hanyalah, 'Edward! Edward, dan Edward!'
Bagaimana Jasmine bisa melupakan Edward dengan mudah? Terutama ketika mengingat apa yang pernah dilakukannya bersama Edward di rumah pohon.
"Jase, apa kau berubah pikiran? Jika benar, sebaiknya kau ke London sekarang. Aku baru melihat di berita, kalau Pangeran Edward akan berangkat ke Paris!" seru Nathalie. Ia tahu Jasmine sedang sibuk memikirkan hubungannya dengan Edward.
Jasmine bergegas turun dari rumah pohon. Dia mengakui perubahan keputusannya. Sebelum terlambat, Jasmine tidak mau kehilangan Edward. Apalagi setelah mengetahui cerita kelam lelaki itu.
"Aku akan pergi, Nek!" kata Jasmine seraya berlari ke kamar. Mengambil tas, kemudian keluar dari rumah.
"Pelan-pelan, Jase. Jangan--"
"Aku baik-baik saja, Nek. Aku tidak sabar untuk bertemu dengan Edward!" potong Jasmine sambil melajukan langkahnya ke rumah yang ada di seberang. Dia berniat meminjam mobil tetangganya, George.
"Berhati-hatilah!" seru Nathalie di akhir.
Setengah jam berlalu. Jasmine masih di perjalanan. Akibat tergesak-gesak, dia lupa membawa ponsel.
"Lupakan! Aku harus menemui Edward sekarang. Aku harus akui keegoisan dan kebodohanku. Maafkan aku, Ed..." gumam Jasmine.
Sementara itu, Edward memang akan pergi ke Paris. Sebelum pergi, dia berniat menemui Jasmine. Kebetulan Edward tidak membiarkan siapapun ikut dengannya. Edward berniat membawa Jasmine sendiri. Hal itu karena dia berniat mengajak Jasmine bicara empat mata terlebih dahulu.
"Kau mungkin bilang selamat tinggal kepadaku, Jase. Tetapi aku justru akan mengatakan hello," ungkap Edward bertekad. Dia memasukkan kaset ke pemutar musik di mobilnya. Lagu Hello Goodbye dari The Beatles menemani perjalanannya.
...[Disarankan mendengarkan lagu Hello Goodbye dari The Beatles]...
...🎶...
...You say, "Goodbye" and I say, "Hello, hello, hello"...
...I don't know why you say, "Goodbye", I say, "Hello, hello, hello"...
...I don't know why you say, "Goodbye", I say, "Hello"...
...🎶...
Jasmine dan Edward sama-sama dalam perjalanan. Mereka juga saling tidak tahu akan bertemu. Anehnya mereka memutar lagu serupa di mobil masing-masing. Musik Hello Goodbye bahkan terputar berulang kali.
Di titik jalan tak tertentu, mobil Jasmine dan Edward saling berselisih. Akan tetapi dua insan itu sama-sama tidak menyadari. Alhasil mereka kembali terpisah dengan jarak.
Edward terus melajukan mobil. Hal serupa juga dilakukan Jasmine. Bukannya cepat bertemu, mereka justru kian terpisah. Mungkin itulah akibatnya jika sesuatu hal dilakukan secara tergesak-gesak. Ingin cepat tetapi malah menjadi lambat.
Dua jam lebih terlewati. Sampailah Edward di rumah Jasmine. Nathalie sangat terkejut dengan kedatangan Edward. Terutama ketika Jasmine sudah terlanjur pergi.
"Dimana Jasmine, Nek? Apa dia bersama Freedy?" tanya Edward yang tidak sabar.
"Jasmine pergi ke London untuk menemuimu! Apa dia tidak ada menghubungi?!" Nathalie membulatkan mata.
"A-apa?!" Edward terperangah. "Apa dia baru saja pergi?" tanya-nya memastikan.
"Tidak. Dia sudah pergi dua jam yang lalu. Pangeran sebaiknya istirahat dahulu. Biar aku menelepon Jasmine untuk memberitahu," ujar Nathalie. Ia segera berjalan ke meja telepon. Saat itulah matanya tertuju ke arah meja makan. Di sana ada ponsel Jasmine. Sekarang dia sadar, bahwasanya ponsel Jasmine ketinggalan. Nathalie otomotis memberitahu Edward.
"Kalau begitu, sebaiknya aku mengejar Jasmine saja. Terima kasih, Nek." Edward beranjak kembali.
"Tapi--" Nathalie sekali lagi tertegun. Ia berusaha menghentikan Edward. Akan tetapi jalan pikiran Edward persis seperti Jasmine. Tidak peduli, jika ada yang mencoba menghentikan.
Edward dirundung perasaan didesak dan cemas. Ia berharap Jasmine baik-baik saja. Rasa lelahnya seakan sirna. Hal yang paling dia inginkan sekarang adalah bertemu Jasmine.