Jase Is Mine

Jase Is Mine
Bab 64 - Ending



...༻♚༺...


Proses belajar berenang Jasmine hanya menghasilkan secuil hasil. Baru beberapa menit berada di air, gadis itu sudah menggigil. Alhasil Edward tidak punya pilihan selain keluar dari danau. Untung saja cuaca cukup panas, jadi Edward dan Jasmine bisa mengeringkan badan dengan cara berjemur.


"Sebenarnya kepergian kita ke Paris, hanya untuk menjauhkan pikiran dari komentar-komentar buruk. Aku ingin kita fokus memperdalam hubungan, lalu mengejar mimpi bersama." Edward berucap sambil menatap lurus ke arah danau.


Jasmine merekahkan senyuman tipis. "Ide yang bagus, Ed. Mungkin kita harus beristirahat dari kota London sebentar. Entah seberapa banyak rasa suka kita terhadap kota itu," tuturnya sembari mengaitkan helaian rambut ke daun telinga. Jasmine menatap Edward dengan sudut matanya.


Edward segera membawa Jasmine masuk ke dalam rangkulan. Ia membiarkan kepala Jasmine menyandar ke pundaknya. Mereka sama-sama menikmati pemandangan alam yang menenangkan mata.


Setelah puas menghabiskan waktu di danau, Jasmine dan Edward langsung beranjak ke London. Mereka akan bersiap-siap melakukan penerbangan ke Prancis.


Sementara Nathalie, akan dijemput oleh pengawal kerajaan. Jasmine tentu tidak akan meninggalkan neneknya sendirian dalam waktu yang lama. Entah sampai kapan nanti dirinya akan menempuh pendidikan di kota Paris.


Sebelum pergi, Edward akan memperkenalkan Jasmine kepada seluruh anggota keluarga kerajaan. Jasmine dirias sedemikian rupa. Mengenakan dress selutut, serta diberi make up yang cocok. Rambut Jasmine bahkan di atur bergelombang. Dia terlihat lebih cantik dibanding biasanya.


Ceklek...


Pintu terbuka pelan. Sosok Edward terlihat masuk ke dalam ruangan Jasmine berada. Lelaki itu tidak berhenti tersenyum kala melihat Jasmine.


"Kau sangat cantik, Jase!" puji Edward. Matanya bahkan enggan mengerjap.


"Ed, aku sangat gugup." Jasmine memainkan jari-jemarinya akibat merasa gelisah. Tanpa sengaja, dia tidak menanggapi pujian Edward.


"Tidak apa-apa. Jika terjadi sesuatu, aku ada di sampingmu." Edward menggenggam lembut tangan Jasmine. Apa yang dilakukannya sedikit membuat Jasmine merasa lebih tenang.


Edward dan Jasmine berjalan berdampingan menuju pavilion. Saat itulah semua pelayan istana menatap serius kepada Jasmine. Mereka tidak menyangka, gadis yang disukai Edward adalah Jasmine.


"Silahkan duduk, Jasmine. Pilihlah kursi kosong yang kau mau," ujar Evelyn mempersilahkan.


Jasmine lantas duduk di kursi paling dekat dengannya. Dia sekarang menjadi pusat perhatian semua orang. Dari para pelayan, anggota keluarga kerajaan bahkan beberapa pengawal. Mereka nampaknya penasaran dengan sosok Jasmine. Kenapa gadis itu mampu membuat Edward tergila-gila?


"Aku dengar kau suka mendesain baju. Berapa banyak rancangan yang sudah kau buat, Jasmine?" Laura menjadi orang yang memulai pembicaraan.


"Aku tidak tahu. Aku tidak menghitung rancangan baju yang telah kubuat," jawab Jasmine.


"Itu karena Jasmine membuat sangat banyak rancangan baju. Makanya dia tidak bisa menghitungnya lagi." Edward berinisiatif memberikan jawaban lebih meyakinkan.


"Benarkah? Itu sangat bagus. Mungkin kau nanti bisa membuatkanku gaun yang indah," tanggap Laura. Tersenyum tipis.


"Itu bisa di atur." Jasmine menyahut dengan nada canggung.


"Tidak perlu serius untuk membangun keakraban. Lagi pula mereka masih berpacaran. Mungkin saja nanti sesuatu yang tak terduga terjadi," celetuk Claris. Dia memperlihatkan ketidaksukaannya terhadap Jasmine.


"Claris, jangan bicara begitu." James mencoba menegur istrinya. Namun Claris hanya membuang muka.


Jasmine mendengus kasar. Dia tahu betul kalau Claris akan membencinya. Akan tetapi Jasmine kali ini tidak mau goyah. Ia bertekad mempertahankan hubungan dengan Edward.


"Benar, kami memang masih berpacaran. Tuan Putri Claris tidak salah," ujar Jasmine. Dia memilih mengalah. Hingga Claris reflek menoleh ke arahnya.


"Tetapi aku dan Edward yang menjalani hubungan. Kami merasa saling membutuhkan. Apapun yang terjadi, kami memutuskan akan terus tetap bersama." Jasmine menuturkan pelan.


"Benar. Kalau perlu, kami akan memilih tinggal di desa. Jika kebersamaan lebih membuat kami bahagia," cetus Edward yang setuju dengan ucapan Jasmine.


"Selama kalian memiliki tujuan positif, aku dan yang lain akan selalu mendukung. Abaikan saja orang yang tidak suka. Toh dia hanya berjuang sendirian. Aku yakin kebencian orang itu tidak akan bertahan lama." Evelyn sengaja menyindir Claris. Usahanya tidak sia-sia. Sebab Claris langsung menundukkan kepala.


Dari kejauhan, Peter dan Sean datang. Mereka langsung menghampiri Edward. Peter merasa puas saat mengetahui kedekatan Edward dengan Jasmine. Dia senang karena akan memiliki banyak kesempatan mendekati Rose.


"Aku senang dengan kabar baik ini, Ed. Aku harap hubungan kalian terus berjalan lancar." Peter menyalami Edward.


"Tidak biasanya kau baik kepadaku?" timpal Edward. Menatap selidik.


"Dia senang karena sudah kehilangan saingannya, Ed. Peter diam-diam menyukai Putri Rose." Sean berbisik memberitahu Edward.


"Sean! Bisakah kau hentikan?" Peter memukul pelan pundak Sean.


"Kau tidak perlu marah, Peter. Rasa sukamu terhadap Rose sudah menjadi rahasia umum anggota keluarga kerajaan!" pungkas Edward. Menyebabkan wajah Peter seketika memerah malu. Dia bergegas beranjak pergi.


Pertemuan Jasmine dengan semua anggota kerajaan berjalan lancar. Satu-satunya orang yang keras kepala hanyalah Claris. Dia butuh waktu untuk menerima Jasmine. Memang terkadang segalanya tidak akan selalu mulus. Dalam kehidupan pasti selalu ada orang yang suka dan membenci.



Jasmine sibuk mengemas pakaian ke dalam koper. Dari belakang Nathalie berjalan mendekat. Wanita tua itu memberitahu kalau dirinya tidak akan ikut Jasmine ke Paris.


"Kenapa, Nek?" Jasmine mengerutkan dahi.


"Aku lebih suka berada di desa Devory. Pikiranku lebih tenang di sana. Lagi pula kau harus fokus dengan pendidikan dan hubunganmu," jelas Nathalie.


"Tapi aku tidak mau meninggalkanmu sendirian!" Jasmine tidak terima.


"Aku tidak sendirian. Ada banyak orang yang menemaniku di Devory. Kita juga tidak bisa meninggalkan Freedy terus-menerus." Nathalie mencoba meyakinkan Jasmine. "Aku hanya ingin kau bahagia, Jase. Aku bahagia jika dirimu bahagia," tambahnya. Berhasil membuat Jasmne berpikir keras. Hingga akhirnya Jasmine terpaksa membiarkan Nathalie tidak ikut dengannya.


Perjalanan menuju Paris dilalui Jasmine dan Edward. Mereka tiba setelah melewati perjalanan dengan pesawat terbang.


Kini keduanya berada di dalam mobil. Ada Ronald dan James yang duduk di depan. Sementara Jasmine dan Edward duduk di kursi belakang. Mereka sibuk menyaksikan bangunan penuh akan ukiran seni yang ada di Paris. Belum lagi tampilan menara Eiffel yang tentu membuat Edward ingin singgah.


"Kami boleh singgah sebentar?" mohon Edward. Dia hendak membawa Jasmine melihat-lihat sekitaran menara eiffel.


"Baiklah..." Ronald menepikan mobil. Edward lantas melangkah pelan bersama Jasmine.


Edward menuntun jalan untuk Jasmine. Dia mengedarkan pandangan ke segala arah. Tangannya terus memegang erat jari-jemari Jasmine. Dirinya seolah tidak mau melepaskan.


"Kau yakin tidak pernah ke sini? Kau munutunku seakan sudah tahu jalannya," seru Jasmine.


"Aku sering melihat video dokumenter tentang Paris. Ada sebuah video yang membahas secara detail bangunan menara eiffel. Mereka membahas algoritma dan seni yang ada di menara eiffel," terang Edward. Dia akhirnya berhenti melangkah. Hal serupa juga dilakukan Jasmine. Mereka berdiri tepat di depan menara eiffel.


"Sekarang, apakah kita akan melakukan hal romantis?" tanya Jasmine sambil memposisikan diri berada di depan Edward.


"Romantis? Seperti apa?" bukannya menjawab Edward justru berbalik tanya.


"Seperti ini!" Jasmine memberikan kecupan singkat. Kedua tangannya melingkar ke tengkuk Edward.


"Menurutku itu masih kurang," ujar Edward. Lalu perlahan memagut bibir Jasmine dengan lembut. Tangannya sibuk memeluk pinggul Jasmine. Keduanya merasakan kebahagiaan di titik tertinggi. Setidaknya itulah yang mereka rasakan untuk sekarang. Edward berharap Jasmine akan selalu menjadi miliknya sampai akhir.


Jase is mine...


...TAMAT...


..._____...


Guys, novel ini sudah tamat ya. Kemarin itu sebenarnya aku mau tamatin di bab 62, tapi nggak jadi karena takut alurnya tergesak-gesak. Novel ini memang sengaja aku bikin dengan masalah yang sederhana. Makanya ceritanya juga nggak dibikin sampai seratus bab lebih.


Sebelumnya aku mau minta maaf kalau ada kesalahan penulisan. Dari typo, salah kata, dan sebagainya. Maaf juga kalau endingnya tidak memuaskan. Pokoknya aku ucapkan terima kasih buat pembaca yang setia sampai akhir. Terus buat yang nggak pernah lupa kasih like, komentar, vote dan hadiah. Love yang banyak buat kalian deh... 😘


Buat yang masih belum puas baca ceritaku, bisa mampir ke dua novel baruku. Kali aja kalian tertarik. Ini judulnya, bisa langsung cek dengan cara klik profilku atau cari di pencarian.


1. Jerat Cinta Sang Primadona


2. Sisi Gelap Dunia Anak SMA


Ya udah gitu aja guys, sekali lagi aku ucapkan terima kasih yaa... 🤗