Jase Is Mine

Jase Is Mine
Bab 23 - Bertemu Ratu Evelyn



...༻♚༺...


Edward mendengus kasar saat mendengar ucapan Jasmine. Dia segera berdiri, lalu beranjak pergi. Raut wajahnya tampak merengut.


Jasmine ikut berdiri. Tetapi dia hanya diam di tempat. Menatap Edward yang berjalan kian menjauh darinya. Jasmine bergegas mengambil ponsel. Berniat memberitahukan Ronald mengenai segala hal yang sudah terjadi.


Kini Jasmine memutuskan untuk pergi ke rumah sakit saja. Lagi pula dirinya yakin, Edward pasti tidak ingin bertemu dengannya dalam waktu sementara. Sepanjang perjalanan entah kenapa ada banyak sekali pertanyaan tentang Edward dibenaknya. Bahkan saat tiba di kamar Selene, Jasmine memilih duduk diam. Pandangannya terpaku ke arah luar jendela.


"Jase, apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Selene. Ia baru terbangun dari tidur. Dirinya tentu penasaran kala menyaksikan Jasmine melamun.


"Hanya memikirkan tentang sikap Pangeran," tutur Jasmine, memberitahu.


"Benarkah?" Selene nampak cemas. Dia perlahan merubah posisi menjadi duduk menghadap Jasmine. "Dia tidak memarahimu kan?" tanya-nya.


Jasmine menggeleng tegas. Dia sebenarnya hendak menceritakan segalanya kepada Selene. Akan tetapi Jasmine merasa tidak tega. Apalagi akhir-akhir ini keadaan ibunya semakin memburuk. Semuanya dapat terlihat jelas dari wajah pucat yang ditunjukkan Selene. Alhasil Jasmine memutuskan untuk mengajak sang ibu mendengarkan musik. Memasangkan headset miliknya ke salah satu telinga Selene. Sehingga dua ibu dan anak tersebut bisa mendengarkan lagu yang sama.


Kala sedang asyik-asyiknya mendengarkan lagu, tiba-tiba masuk sebuah panggilan telepon. Pupil mata Jasmine membesar ketika menyadari panggilan itu berasal dari Ronald.


"Angkatlah, Jase. Sepertinya Ronald mau memberitahukanmu mengenai hal penting!" ujar Selene.


"Yes, Mom." Jasmine melangkah keluar kamar Selene. Dia langsung bicara melalui telepon.


"Jasmine, apa kau sibuk sekarang?" tanya Ronald dari seberang telepon.


"Tidak. Apa ada sesuatu yang terjadi?" balas Jasmine yang mendadak khawatir.


"Bisakah kau mendatangi istana? Ratu ingin bertemu secara pribadi kepadamu. Ini mengenai Pangeran!" ucap Ronald. Membuat jantung Jasmine berdegub kencang. Dia merasa gugup saat mendengar Ronald menyebutkan kata Ratu.


"A-aku? Tapi--"


"Datanglah sebelum jam tujuh malam!" potong Ronald. Ia memang bicara dalam keadaan tergesak-gesak.


Jasmine menghembuskan nafas dari mulut. Jari-jemarinya bergerak tidak karuan. Pertanda perasaan gugupnya semakin melanda. Meskipun begitu, Jasmine akan pergi ke istana. Takut kalau-kalau dirinya terlibat dengan sesuatu hal buruk. Toh Jasmine juga ingin tahu kabar Edward sekarang. Mungkin saja semuanya tidak seburuk yang dia kira.


Setelah meminta izin dengan Selene dan Nathalie, Jasmine segera berangkat. Seperti biasa, dia selalu menggunakan transportasi umum. Jujur saja, Jasmine tidak mengatakan tujuan kepergiannya kepada Selene atau pun Nathalie.


'Aku akan memberitahu mereka lain kali,' batin Jasmine.


Setelah memakan waktu sekian menit, Jasmine akhirnya tiba di istana. Sekarang Jasmine berdiri tepat di depan gerbang. Berdecak kagum serta menelan ludahnya beberapa kali. Kakinya segera bergerak untuk masuk ke wilayah istana. Atas bantuan Ronald, langkah Jasmine tidak terhalang oleh para pengawal yang berjaga.


"Tunggulah di sini. Tepat jam tujuh nanti, Ratu akan menemuimu!" ujar Ronald. Lalu pergi meninggalkan Jasmine. Ronald mengatakan, kalau dirinya harus menyusul Edward ke rumah. Jadi, kini Jasmine ditinggal sendirian di sebuah ruangan mewah nan luas.


Jasmine benar-benar merasa ciut. Kepalanya mendongak, hanya untuk mengamati ukiran seni yang terukir indah di langit pelafon. Bagaimana bisa pelafon bisa sangat indah? Detail dari gambarnya pun bisa dibilang sempurna. Jasmine yakin, bangunan yang dipijak kakinya lebih mahal dibanding pakaian miliknya sendiri.


Ceklek...


Jasmine langsung bangkit dari tempat duduk. Ia membungkuk hormat ke arah Ratu. "Aku merasa sangat terhormat, Yang Mulia..." sapanya lembut.


"Duduklah!" Ratu memegang pundak Jasmine. Kemudian mengajak Jasmine duduk bersamaan dengannya. Jasmine lantas hanya bisa mengembangkan senyuman tipis. Matanya memancarkan binar kagum terhadap sosok perempuan yang duduk di sampingnya.


Ratu Evelyn. Usianya terbilang tua. Hampir mencapai tujuh puluh tahunan. Tetapi badannya tampak sehat dan bugar. Dia adalah nenek kandung dari Edward. Sosok yang telah lama memimpin negeri Britania Raya selama beberapa tahun terakhir.


"Aku dengar kaulah orang yang menggantikan Selene untuk menemani Edward. Maafkan aku, baru bisa sekarang menemuimu," ungkap Ratu Evelyn. Ramah dengan kharisma yang meneduhkan.


"Tidak apa-apa, Yang Mulia." Jasmine sekali lagi tersenyum tipis. Berupaya membalas keramahan dari Ratu semaksimal mungkin.


"Alasanku menyuruhmu datang ke sini, karena aku mau membicarakan perihal cucuku Edward. Aku tahu insiden yang terjadi di kampus. Perkelahian yang terjadi hari ini, serta yang dilakukan Edward tempo hari kepadamu," kata Ratu Evelyn. Kalimat terakhirnya sukses membuat pipi Jasmine bersemu merah. Jasmine tahu betul Ratu Evelyn tengah menyinggung ciuman yang dilakukan Edward kepadanya.


"A-aku pikir Pangeran telah melakukan kesalahan kepadaku. Aku mohon, Yang Mulia jangan berprasangka apapun terhadap hubungan kami." Jasmine berbicara dalam keadaan menunduk. Tidak mampu membalas tatapan Ratu Evelyn.


"Aku lebih tahu sikap Edward seperti apa. Tentu aku tidak berprasangka apapun mengenai hubungan kalian. Aku harap kau bisa memaafkan Edward. Dia mengalami masalah yang berat sejak kecil. Edward seringkali bermain-main dengan banyak orang." Ratu Evelyn memegang lembut pergelangan tangan Jasmine.


Jasmine perlahan mendongakkan kepala. Siap mendengarkan cerita dari Ratu Evelyn.


"Edward mengalami gangguan emosional sejak ditinggal oleh ibunya. Dia juga lebih tertutup dari siapapun. Sebab itulah Edward harus meminum obat yang diresepkan oleh Dokter." Ratu Evelyn bercerita. Ia menghela nafas sejenak. "Aku pikir keadaan Edward akan membaik sejak kehadiran Selene disisinya. Padahal Edward sendiri pernah bilang, kalau dirinya sudah menganggap Selene seperti ibunya sendiri. Dan hari ini aku tidak menyangka, Edward kehilangan kendali. Dia bahkan memukuli temannya sendiri," sambungnya, panjang lebar.


Jasmine menekuk wajahnya. Ia merasa kasihan kepada Edward. Ternyata Edward adalah anak kandung dari Putri Sofia. Semua orang tahu betul betapa tragisnya kecelakaan yang menimpa Putri Sofia beberapa tahun lalu.


Setelah cukup lama saling mengobrol. Ratu Evelyn akhirnya tiba mengucapkan maksud pertemuannya dengan Jasmine. Dia ingin Jasmine mengawasi Edward.


"Selain menjaganya, aku juga ingin kau menjadi sahabat yang baik untuk Edward. Aku berjanji akan memberikan imbalan kepadamu." Ratu Evelyn masih memegang jari-jemari Jasmine.


"Sebenarnya Yang Mulia tidak harus memberiku imbalan. Karena aku memang ingin membalas kebaikan Pangeran Edward dan juga Yang Mulia. Jika bukan bantuan dari kalian, ibuku pasti akan kesulitan untuk menjalani pengobatannya," balas Jasmine.


"Kau gadis yang sangat baik hati." Ratu Evelyn mengusap pelan puncak kepala Jasmine.


"Apa Yang Mulia sudah menemui Pangeran hari ini?" tanya Jasmine.


Ratu Evelyn langsung menggeleng. "Aku adalah orang yang paling dibenci Pangeran dari semua keluarga kerajaan. Bila bertemu dengan orang lain saja Edward tidak mau, apalagi denganku?" Ratu Evelyn menunduk kecewa.


"Aku akan berusaha membuat Edward bangkit, Yang Mulia. Walaupun diriku tidak bisa memberikan janji yang pasti." Jasmine reflek menggenggam tangan Ratu Evelyn yang telah keriput.


"Terima kasih, Jasmine..." sahut Ratu Evelyn. Menatap dalam manik biru milik Jasmine.


Sebenarnya ada banyak pertanyaan yang bertengger dikepala Jasmine. Terutama mengenai alasan diasingkannya Edward dari keluarga kerajaan. Apakah hal itu memang keinginan Edward, atau perintah dari Ratu?


Jasmine berupaya menahan diri untuk tidak ikut campur. Apalagi mengenai masalah pribadi keluarga kerajaan. Dia hanya berniat melakukan tugasnya dengan baik. Sekarang yang harus dirinya fokuskan adalah mengurus dan mendekati Edward. Tetapi bagaimana caranya Jasmine mendekati singa yang sedang marah?