
...༻♚༺...
"Aku tidak mau!" tolak Edward mentah-mentah.
"Mau sampai kapan anda mengharapkan bantuanku?" balas Jasmine. Mengalihkan pandangannya sejenak, lalu menatap Edward kembali. "Ayolah... aku yakin anda bisa melakukannya sendiri. Bisa di mulai dengan cara berjalan pelan saja," sambungnya.
Edward tetap diam di tempat. Nampaknya dia bersikeras tidak mau menaiki kuda sendirian. Sebab itu bukan hal yang mudah baginya.
"Ternyata anda tidak seberani yang aku kira. Ya sudah kalau begitu, aku masukkan saja kembali kudanya," ucap Jasmine sembari membawa kuda menuju kandang.
Edward berpikir keras. Dia tidak mau Jasmine menganggapnya sebagai pecundang. Di sisi lain rasa takutnya terus menggebu. Sebelum Jasmine memasukkan kuda ke kandang, akhirnya Edward bisa memutuskan hal yang tepat.
"Tunggu!" tanpa diduga Edward mencegah kepergian Jasmine. Ia berjalan mendekat dan segera menaiki kuda. Jasmine lantas mengembangkan senyuman tipis.
Edward memang menampakkan wajah takut. Akan tetapi dirinya mencoba untuk berani. Edward memulai dengan menjalankan kuda secara pelan. Semuanya memang berjalan lancar.
"Bagus, Tuan! Anda kelihatan hebat!" Jasmine bertepuk tangan untuk melakukan pujian. Ia senang bisa melihat Edward mulai mengalahkan rasa ketakutan.
Edward merasa terpacu dengan semangat yang diberikan Jasmine. Rasa takut seakan menghilang dalam sekejap. Alhasil Edward melajukan pergerakan kuda. Hewan tersebut sontak berlari dalam kecepatan tinggi.
"Berhati-hatilah!" ujar Jasmine seraya menangkup mulutnya sendiri. Sebab Edward kian menjauh dengan kudanya. Jasmine tiba-tiba merasa cemas. Jika sesuatu terjadi kepada Edward, maka dialah yang harus bertanggung jawab.
Edward menghilang ditelan oleh pepohonan rindang. Kini Jasmine menunggu dalam keadaan berjongkok. Gadis itu hanya bisa menggigit jarinya.
Beberapa menit berlalu. Edward tidak kunjung kembali. Jasmine berdiri sambil celingak-celingukan ke arah Edward terlihat terakhir kali.
"Jase!!!" suara seseorang yang memekikkan nama Jasmine terdengar. Tanpa pikir panjang, Jasmine segera menghampiri sumber suara tersebut. Dia yakin, pemilik suara itu adalah Edward.
'Aku harap Edward baik-baik saja. Kumohon..." harap Jasmine dalam hati. Ia terus berlari, hingga dapat menyaksikan Edward terduduk di tanah dalam keadaan memegangi tangan.
"Tuan! Apa anda terjatuh?" Jasmine mendatangi Edward dengan perasaan khawatir. Dia langsung memeriksa keadaan tangan Edward.
Edward perlahan berdiri, dan membiarkan Jasmine memeriksa tangannya. Lelaki itu memandang Jasmine dengan sorot mata yang berbinar-binar. Edward tersenyum tipis kala melihat kepedulian Jasmine.
"Tidak ada lebam atau pun luka?" Jasmine heran saat melihat keadaan tangan Edward baik-baik saja.
"Memang tidak ada yang terjadi. Kau bahkan tidak melihatku kesakitan!" ungkap Edward. Kemudian menarik Jasmine agar bisa semakin mendekat. Sekarang Edward tidak akan membuang waktu atau melakukan kejahilannya. Dia langsung saja masuk ke intinya.
Mata Jasmine terbelalak, ketika Edward menempelkan bibir ke mulutnya. Debaran jantung pun kembali menggema. Seperti sebelumnya, Jasmine membeku di tempat. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Gadis itu benar-benar kaku dengan sentuhan yang diberikan Edward. Terlihat jelas sekali, kalau Jasmine masih pemula dalam urusan berciuman.
Edward tidak peduli dengan kepayahan Jasmine dalam perihal berciuman. Ia terus saja bermain dengan bibir Jasmine. Apa yang dilakukannya sukses membuat kupu-kupu beterbangan di perut Jasmine.
Setelah cukup puas memberikan ciuman. Edward perlahan melepaskan tautan bibirnya. "Kau sangat kaku, Jase..." komentar Edward dengan nada berbisik. Lalu segera menaiki kudanya. Meninggalkan Jasmine yang masih mematung di tempat.
Jasmine memegangi bibirnya yang sedikit lembab akibat ciuman Edward. Jujur saja, jantungnya masih berdetak tidak karuan. Entah kenapa Jasmine tidak merasa marah seperti sebelumnya. Pipi Jasmine bahkan tampak bersemu merah.
Setelah mendapat ciuman tak terduga, Jasmine langsung bergegas memasuki kamar. Dia memegangi dada kirinya yang masih disibukkan dengan deguban kencang dari jantung.
Jasmine memegangi wajahnya sendiri dengan kedua tangan. Perasaannya seolah berada dalam keadaan terbaik. Namun di sisi lain, Jasmine juga terpikir tentang kalimat yang dilontarkan Edward terakhir tadi kepadanya.
'Kaku? Apakah aku seburuk itu?' Jasmine bertanya-tanya. Rasa malu kembali menggerogotinya. Merah diwajahnya terlihat telah menjalar ke telinga.
Jasmine menghentak-hentakkan kaki tidak karuan ke lantai. Kemudian menghempasktan tubuhnya ke kasur. Dia berguling-guling tidak karuan sembari mengacak-acak rambutnya sendiri.
"Aaah! Sangat memalukan!" Jasmine sekarang dalam keadaan telentang. Ia menutupi wajahnya dengan tangan rampingnya yang putih bersih.
Ponsel Jasmine mendadak berdering. Tanpa basa-basi dia langsung mengangkat panggilan yang ternyata dari Joy itu.
"Ada apa Joy? Kenapa kau menghubungiku sore-sore begini?" tanya Jasmine.
"Bisakah kita bertemu? Aku pikir, aku sangat membutuhkanmu sekarang..." lirih Joy dari seberang telepon.
"Kau dimana?" Jasmine merubah posisinya menjadi duduk. Dia segera berdiri ke depan cermin untuk merapikan rambut brunette-nya.
"Aku menunggumu di Giant Cafe. Jangan membuatku menunggu lama!" begitulah ucapan Joy sebelum benar-benar memutuskan sambungan telepon. Dia memaksa Jasmine untuk datang.
Jasmine mendengus kasar. Ia lantas bersiap-siap untuk pergi. Lagi pula dirinya memang merasa harus mejauh dari Edward. Setidaknya dalam beberapa waktu setelah insiden berciuman tadi.
Jasmine melangkahkan kakinya memasuki cafe dimana Joy berada. Pandangannya memindai ke segala arah. Sampai seorang gadis dengan rambut pendek sebahu, melambaikan tangan dari tempat duduk. Alhasil Jasmine berjalan menghampiri gadis yang tidak lain adalah Joy itu.
"Ada apa?" tanya Jasmine seraya menarik kursi. Lalu mendudukinya.
"Ayah dan ibuku bertengkar hebat. Aku pikir, sebentar lagi mereka akan bercerai," jawab Joy. Raut wajahnya terlihat sendu. Menandakan kalau perkataan yang diucapkannya sekarang bukanlah omong kosong.
"I'm so sorry, Joy. Kumohon jangan berprasangka buruk. Orang tuamu belum tentu akan bercerai." Jasmine memegang lembut lengan Joy.
"Lupakan! Aku tidak mau berlarut-larut memikirkannya. Tujuanku menemuimu adalah untuk bersenang-senang." Joy memasang senyuman simpul.
Jasmine hanya diam. Karena atensinya tanpa sengaja teralih pada seorang gadis yang tampak mencium lelaki berkacamata. Adegan tersebut mengingatkannya dengan ciuman Edward satu jam yang lalu. Lelaki berkacamata itu tampak kaku seperti dirinya tadi. Secara alami Jasmine memegangi bibirnya.
Joy ternyata juga menyaksikan adegan yang sedang dilihat Jasmine. Berbeda dengan Jasmine, dia justru terkekeh geli.
"Aku yakin itu adalah ciuman pertama untuk pria berkacamata. Dia terlihat seperti robot!" komentar Joy. Ia tidak tahu kalau dirinya juga sedang mengkritik temannya sendiri.
"Apa dia sangat buruk?" Jasmine bertanya dengan nada canggung. Dia kini mengulum bibir merah mudanya yang tanpa lipstik itu.
"Sangat buruk!" sahut Joy yakin. Menyebabkan Jasmine menundukkan kepala.
"Aku pikir... aku juga seburuk lelaki berkacamata itu," imbuh Jasmine. Dia terlihat memainkan jari-jemarinya tanpa alasan.
"A-apa?" Joy tercengang. Lalu lanjut melepaskan tawa lepasnya. Dia merasa gemas dengan Jasmine.
Setelah puas tertawa, Joy menatap Jasmine sambil melipat tangan di atas meja. "Memangnya siapa orang yang telah menciummu? Apa dia membuatmu merasa menyesal, karena kau melakukannya dengan buruk?" tukasnya.
"Joy! Bu-bukannya begitu... aku..." semburat wajah Jasmine memerah bak kepiting rebus. Tebakan Joy benar seratus persen. Entah kenapa Jasmine merasa buruk. Terutama ketika dirinya mengingat momen dikala Edward menciumnya.
"Jase, aku akan mengajarimu! Dan bukan hanya perihal berciuman, tapi juga banyak hal tentang trend anak muda di kota London!" seru Joy bersemangat. Dia bangkit dari tempat duduk. Lalu membawa Jasmine keluar dar cafe.