Jase Is Mine

Jase Is Mine
Bab 13 - Saling Benci



...༻♚༺...


Mata Jasmine membulat saat mendengar pernyataan Jake. Dia tentu langsung menggelengkan kepala, dan lekas-lekas mengambil uangnya.


"Tidak perlu, Jake. Aku hanya berusaha menawar saja. Sebenarnya aku punya uang yang cukup untuk membayarnya," ujar Jasmine.


"Aku memaksa." Jake bersikeras. Dia lebih dahulu menyerahkan kartunya kepada sang kasir. Sedangkan Jasmine terlambat hanya beberapa detik.


Pundak Jasmine melemah. Dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi, ketika Jake telah berhasil membayarkan belanjaannya. Gadis itu hanya diam terpaku, sambil memperhatikan kasir membungkus semua belanjaannya.


"Anggap saja ini sebagai peresmian pertemanan kita. Aku mau kita lebih dekat, Jase." Jake berbisik ke telinga Jasmine. Dia mengedipkan salah satu matanya. Senyumannya mengembang simpul. Menampakkan lesung pipit di kedua pipinya.


Jasmine hanya mengangguk canggung. Tiba-tiba dia merasa jantungnya berdebaran. Sekali lagi, Jake sukses membuatnya merasa nyaman. Bagi Jasmine hanya Jake-lah satu-satunya yang memperlakukannya dengan baik. Terutama setelah kedatangannya ke kota London.


"Terima kasih, Jake. Aku akan membayarnya nanti," tutur Jasmine seraya berjalan berbarengan bersama Jake keluar dari super market.


"Baiklah, tapi aku tidak mau dibayar dengan uang!" Jake memposisikan diri berdiri ke hadapan Jasmine. Menyebabkan kedua alis Jasmine otomatis terangkat dalam satu waktu.


"Traktir saja aku di sebuah tempat makan, oke?" Jake menjentikkan jarinya. Kemudian menunjukkan jari telunjuknya ke wajah Jasmine. Dia tersenyum ceria, sampai menampakkan deretan giginya yang rapi.


Jasmine mengaitkan helaian rambut ke daun telinga. Dia tersenyum dan mengangguk setuju. "Tentu saja. Kalau begitu aku akan mentraktirmu nanti," balas Jasmine. Dia meneruskan obrolan santainya bersama Jake. Keduanya berbicara di area parkiran.


Dari pintu depan super market, Edward, Eva dan Hayley baru melangkah keluar. Atensi mereka langsung tertuju ke arah Jasmine dan Jake. Raut wajah Eva seketika merengut. Dia bergegas menghampiri.


Sementara Edward, dia hanya membeku sembari menatap serius Jasmine. Tangannya merogoh saku celana, untuk mengambil ponselnya. Dia segera menghubungi Jasmine.


Drrt...


Drrt...


Ponsel Jasmine bergetar. Gadis tersebut sontak mengangkat panggilan telepon. Panggilan itu terjadi saat Eva dan Hayley datang untuk bergabung.


"Cepat pergilah lebih dulu. Hari sudah larut, aku punya janji penting nanti malam. Aku akan menjemputmu di jalan trotoar nanti," saran Edward dari seberang telepon. Padahal jaraknya tidak begitu jauh dari posisi Jasmine berada.


Jasmine menoleh ke arah Edward berada. Melemparkan tatapan herannya kepada lelaki tersebut. "Baiklah, aku akan pergi," sahutnya.


"Jake, aku harus pergi!" imbuh Jasmine. Berpamitan kepada Jake.


Jake yang sedari tadi harus menanggapi pembicaraan Eva, langsung menghentikan interaksinya. Perhatiannya teralih ke arah Jasmine. Jake dengan cepat memegangi lengan Jasmine.


"Biarkan aku mengantarmu!" ucap Jake.


Pupil mata Jasmine membesar. Dia sebenarnya sangat ingin menerima tawaran Jake. Akan tetapi dirinya tidak bisa, karena dari kejauhan Edward masih memperhatikan. Seakan mendesak Jasmine untuk lekas pergi.


"Maafkan aku, Jake. Ada seseorang yang sedang menungguku. Bye!" Jasmine memilih berlari, sebelum Jake memaksanya lagi seperti saat di meja kasir tadi. Gadis itu beranjak pergi dari lingkungan super market.


Jake hanya mematung. Matanya mengerjap beberapa kali. Dia merasa bingung dengan gelagat Jasmine. Eva lantas mengambil kesempatannya untuk melanjutkan pembicaraan dengan Jake.


"Begitulah Jasmine. Menurutku dia sangat tertutup kepada orang lain, bukankah begitu?" ungkap Eva. Hayley menyetujui pendapatnya dengan anggukan kepala.


"Entahlah, tetapi aku juga sepertinya saat pertama kali datang ke kota London. Aku hanya berusaha membantu," terang Jake.


Edward lewat dengan mengendarai mobilnya. Dia menyapa semua temannya dengan satu lambaian tangan. Kemudian berlalu pergi.


"Sampai jumpa lusa nanti, Ed!" ucap Jake. Membalas lambaian tangan Edward.


"Ya!" jawab Edward seraya menutup jendela kaca mobilnya.


Jasmine berjalan sendirian menyusuri jalanan trotoar. Dia terus menatap kedua kakinya yang tengah bergerak maju. Perlahan sebuah mobil berhenti di sampingnya. Siapa lagi kalau bukan Edward.


Jasmine menghela nafasnya. Lalu segera masuk ke mobil Edward. Dia menghempaskan pantatnya saat duduk. Raut wajahnya tampak masam.


"Apa kau kesal kepadaku? Bukankah harusnya aku yang kesal?!" timpal Edward sambil menjalankan mobil ke jalan raya.


Jasmine lagi-lagi memilih menutup mulutnya. Dia mengabaikan timpalan Edward.


"Apa kau menyukai Jake?" bukannya ikut diam. Edward justru kembali bertanya.


"Bukan urusan anda." Jasmine menjawab ketus. Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Edward.


"Sikapmu sama sekali tidak sopan!" komentar Edward. "Apa kau tidak kasian dengan kekasihmu yang ada di desa?" lanjutnya. Berniat tidak ingin kalah dari Jasmine.


"Apa?!" Jasmine kali ini reflek menatap Edward. Keningnya mengernyit penuh tanya.


"Kekasihmu, aku tahu, karena Ronald yang memberitahuku. Namanya Freedy bukan?" Edward tampak memutar setirnya. Berbelok ke jalan yang ada di sebelah kanan.


Jasmine sontak merasa geli. Dia berupaya menahan tawanya, namun tidak bisa. Hingga akhirnya gadis itu memecahkan tawa. Satu tangannya memegangi bagian perutnya sendiri. Jasmine tergelak sampai cairan bening dimatanya hampir keluar. Dia tentu merasa geli, mendengar Edward menyebut Freedy sebagai kekasihnya. Mendekati pun tidak, karena Freedy hanyalah seekor kuda.


Mendengar tawa Jasmine, Edward tentu merasa kesal. Dia menghentikan mobil secara mendadak. Hingga membuat dirinya dan Jasmine tersentak ke depan bersamaan.


Jasmine yang tadinya terlena dengan tawanya, otomatis dibuat kaget. Raut wajahnya berubah menjadi tegang. Untung saja gadis itu mengenakan sabuk pengaman, jadi kepalanya selamat dari benturan dashboard mobil. Matanya terbelalak dalam keadaan mulut yang sedikit menganga.


Edward menarik pergelangan tangan Jasmine. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah gadis tersebut. Mata Edward membuncah hebat. Seakan dirinya bersungguh-sungguh terhadap kemarahannya.


"Kau pikir perkataanku tadi itu lucu?" pungkas Edward dengan keadaan rahang yang mengerat kesal.


"Ma-maaf..." Jasmine menciut. Dia menenggelamkan wajahnya dibalik rambut cokelat panjangnya. Tidak berani membalas tatapan Edward.


"Jadi, jangan coba-coba berani lagi mentertawakanku!" tegas Edward sembari melepas kasar tangan Jasmine. Setelahnya, Edward kembali menjalankan mobil. Melaju dalam kecepatan tinggi. Menyebabkan Jasmine merasa semakin tegang.


Jasmine menyandarkan dirinya ke kursi lebih erat. Matanya terpejam rapat, karena takut sesuatu hal buruk akan terjadi. Dia berharap Edward bisa segera memelankan mobilnya. Kedua tangannya berpegangan kuat di tali sabuk pengaman.


Edward menatap Jasmine selintas. Dia seketika tersadar, kalau perbuatannya sudah keterlaluan. Edward berupaya menenangkan diri, kemudian menurunkan kecepatan mobilnya.


Jasmine perlahan membuka mata. Dia dapat merasakan, kalau mobil sudah berjalan pelan. Gadis itu kini dapat mendengus lega.


"Maaf..." lirih Edward. Tanpa menoleh ke arah Jasmine. Dia mengatakannya dengan nada datar. Masih bersikap dingin kepada gadis yang duduk di sebelahnya.


Jasmine menatap Edward. Dia sangat bingung dengan sikap lelaki tersebut. "Aku rasa kita impas," jawabnya tak acuh. Membuang muka dari sosok lelaki yang sangat menyebalkan baginya.


Edward hanya mendengus kasar. Dia diam-diam melirik ke arah Jasmine. Menyaksikan semburat kesal yang ditunjukkan oleh gadis tersebut. Edward mencoba tidak peduli.