Jase Is Mine

Jase Is Mine
Bab 42 - Kau Akan Pergi Ke Istana



...༻♚༺...


Jasmine terpaksa keluar dari kamar Edward. Dia tidak lupa untuk menutup pintu. Dirinya tahu betul kalau Edward sedang merajuk.


Jasmine berderap menuju dapur. Dia segera menyelesaikan sajian makan malam. Akan tetapi setelah semuanya sudah rampung, Edward justru menolak untuk makan.


"Kau makan saja bersama Ronald. Aku ingin cepar-cepat tidur!" begitulah kalimat penolakan dari Edward. Dia membenamkan wajahnya di bantal.


Nafas dihela cukup panjang oleh Jasmine. Dirinya tidak menyangka, sikap Edward akan begitu manja. Jasmine mencoba tidak peduli. Lagi pula dia memang belum bersedia pergi ke istana. Jika Edward marah, ya sudah. Mungkin bagi Jasmine itu justru lebih baik.



Satu malam berlalu. Jasmine sudah rapi untuk pergi ke kampus. Ketika dia keluar dari pintu depan, penglihatannya langsung disambut dengan James dan Ronald. Kedua orang itu terlihat seperti membicarakan sesuatu yang penting.


James melemparkan senyuman kepada Jasmine, lalu langsung pergi dengan mobilnya. Sedangkan Ronald tampak menekuk wajahnya. Seakan bingung terhadap sesuatu yang ada dipikirannya.


"Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Jasmine yang sudah berdiri di dekat Ronald.


"Pangeran keras kepala tidak mau pergi ke istana. Keputusannya bisa membuat Ratu Evelyn marah. Jika Ratu marah, kemungkinan Edward tidak akan mendapatkan fasilitas dan pelayanan lagi sebagai anggota kerajaan." Ronald memberitahukan dengan memasang semburat kekhawatiran diparasnya.


Jasmine merasa tertohok. Dia tak menyangka Pangeran benar-benar nekat tidak mau pergi karena dirinya. Jasmine sekarang bingung. Bila dia bersedia pergi ke istana, lalu apa yang dia lakukan di sana? Tetapi andai tidak pergi, apakah Edward akan tetap keras kepala?


'Mungkin aku harus memberi waktu lebih lama. Bisa saja Edward merubah pikirannya bukan?' pikir Jasmine. Ia memanggut-manggutkan kepala. Kemudian beranjak pergi.


Kini Ronald sendirian. Ia bergegas menemui Edward. Membicarakan baik-baik agar Edward dapat merubah keputusannya. Namun tetap saja, Edward memilih tidak ikut.


"Apa Tuan tidak takut dengan kemarahan Ratu?" tanya Ronald.


Edward terlihat tenang dan menjawab, "Aku akan ikut, jika Jasmine ikut."


"A-apa?" Ronald membulatkan mata. Dirinya tentu terkejut.


"Bisakah kau melakukan sesuatu?" Edward memandang Ronald penuh harap. Dia mendengus sejenak. Kemudian melanjutkan, "aku punya ide. Bagaimana kau memberikan alasan kepada kerajaan, kalau Jasmine harus mendapat didikan untuk menjadi pelayan yang baik. Selama persiapan ulang tahun Ratu nanti, dia bisa belajar sambil ikut membantu."


Ronald tertegun dalam sesaat. Memikirkan saran yang diberikan Edward kepadanya. Menurutnya itu ide yang bagus, bila Pangeran benar-benar mau membawa Jasmine ke istana.


"Apa Tuan sesuka itu kepada Jasmine? Sampai berniat membawanya pergi ke istana?" Ronald memastikan. Tetapi Edward malah menanggapi pertanyaannya dengan senyuman ambigu.


"Aku tidak tahu kenapa. Tapi, dia membuatku bersemangat," ungkap Edward. Memberikan alasan. Cinta memang sulit dijelaskan dengan kata-kata.


Di waktu yang sama, Jasmine banyak menghabiskan waktu bersama Joy. Temannya yang berambut pendek sebahu itu langsung memeluk Jasmine ketika pertama kali bertemu. Dia senang Jasmine baik-baik saja. Terutama setelah insiden pesta kemarin malam.


"Kau kenapa tidak membalas semua pesanku?" tanya Joy penuh selidik. Dia dan Jasmine duduk di rerumputan yang ada pada halaman bangunan kampus. Joy terlihat memegangi sekotak susu cokelat di tangannya. Dengan santainya dia menyedot cairan manis itu melalui sedotan.


"Maafkan aku, Joy. Aku agak sibuk." Jasmine menjawab asal. Dia sibuk menggambar rancangan baju di buku gambar.


"Maksudmu, sibuk memacari Edward?" Joy menebak dengan nada sinis.


Jasmine melebarkan kelopak mata. Jantungnya tiba-tiba berdegub kencang, gara-gara tebakan asal sebut dari Joy. Jasmine merasa seakan tertangkap basah. Dirinya yang merasa malu, tidak dapat menyembunyikan rona merah diparasnya.


Joy menyadari semburat yang ditunjukkan oleh Jasmine. Dia yang mengerti menarik sudut bibirnya ke atas. Kemudian memegang pelan pundak Jasmine.


"Apa itu benar?" tukas Joy. Tatapannya tampak seperti mengejek.


"Em... aku..." Jasmine meliarkan matanya. Ia memang tak pandai berbohong. Apalagi kala berhadapan dengan gadis seperti Joy. Insting kuat yang dimiliki Joy, nyaris seperti seorang detektif handal.


"Kau pasti sudah berpacaran dengannya. Kau tidak bisa membantah lagi!" Joy menyimpulkan sendiri.


"Jangan bilang ini kepada siapa-siapa? Sebenarnya aku hanya memberikan kesempatan dengan perasaanku," terang Jasmine pelan.


"Kenapa begitu? Memangnya ada yang salah dengan Edward, sampai kau merasa ragu begitu?" Joy mengernyitkan kening.


"Aku merasa tidak pantas dengannya. Karena dia adalah..." Jasmine menjeda ucapannya, saat menyadari dirinya hampir saja membeberkan identitas Edward kepada Joy.


"Dia apa?" desak Joy, serius.


"Dia terlalu kaya." Jasmine lekas memberikan alasan lain. Senyumannya nampak kecut. Lalu lekas membuang muka dari Joy.


"Apa-apaan itu! Jangan terlalu merendah, Jase. Menurutku, Edwardlah yang harus sadar diri sebelum memacarimu." Joy melambaikan tangannya ke depan wajah. Ia tidak habis pikir dengan pemikiran Jasmine.


Dari kejauhan, Jake tampak berjalan kian mendekat. Joy yang menyaksikan lebih dahulu, sontak memberitahu Jasmine. Dia menyenggol Jasmine menggunakan siku.


"Ada apa?" tanya Jasmine. Manik birunya sedikit membesar.


"Lihat!" Joy menunjuk Jake dengan dagunya. Jasmine lantas menoleh ke arah Jake. Tidak lama kemudian, Jake ikut duduk bergabung bersama Jasmine dan Joy.


"Mana Edward? Apa dia tidak kuliah?" Joy memulai pembicaraan.


"Entahlah. Hari ini dia sama sekali tidak terlihat," sahut Jake. Dia kembali memfokuskan perhatiannya kepada Jasmine.


Mendengar Edward tidak datang ke kampus, Jasmine lantas gelisah. Dia yang tadinya asyik menggambar, perlahan menutup buku gambarnya. Jasmine kembali memikirkan Edward. Dirinya mengira Edward sepertinya serius dengan perkataannya.


"Apa kau baik-baik saja?" Jake mencondongkan kepala dari samping Jasmine. Sementara Joy hanya bisa mengulum senyum ketika melihat ekspresi wajah dari Jasmine.


"Ya..." Jasmine menjawab singkat.


Ponsel Jasmine mendadak mengeluarkan bunyi dering. Dia otomatis memeriksa, dan menyaksikan ada nama Ronald di layar ponsel. Tanpa basa-basi Jasmine bergegas berdiri, kemudian menjauh dari posisi Joy dan Jake.


"Jase, kau harus bersiap-siap. Kita akan segera berangkat ke istana!" ucap Ronald dari seberang telepon.


Mata Jasmine terbelalak. Dia tentu dibuat begitu kaget terhadap seruan dari Ronald. "Kenapa tiba-tiba sekali? Apa Pangeran Edward yang menyuruhku untuk pergi?" tanya-nya seraya mengedarkan pandangan ke sekitar. Memastikan tidak ada yang mendengar pembicaraannya.


"Bukan. Ini perintah Ratu. Dia ingin mengajarimu cara menjadi pelayan yang baik. Sepertinya Putri Claris sudah melaporkan cara kinerjamu kepada Ratu," jelas Ronald.


"Benarkah?..." tanggap Jasmine lirih.


"Ya, pulanglah sekarang. Jangan cemaskan masalah kuliahmu. Pihak kerajaan akan mengurusnya." Begitulah perkataan Ronald sebelum benar-benar memutuskan panggilan telepon.


Jasmine segera bersiap untuk pulang. Dia tidak lupa untuk berpamitan dengan Joy dan Jake.


"Kenapa mendadak sekali?" timpal Joy. Tak terima Jasmine pulang lebih dulu darinya.


"Apa ada sesuatu yang mendesak?" Jake yang penasaran, ikut-ikutan menimpali.


"Tidak ada." Jasmine menggelengkan kepala. Dia hanya ingin cepat-cepat pergi.


"Biarkan aku yang mengantar!" tanpa diduga Joy dan Jake berseru dalam waktu bersamaan. Sebuah kebetulan yang tak terduga. Dua insan itu reflek saling menatap. Mereka nampaknya ingin menjadi orang yang dipilih Jasmine untuk mengantar.


"Aku sahabat baiknya. Jadi biarkan aku saja," kata Joy sambil menepuk pelan pundak Jake.


"Kau sudah sering bersamanya. Biarkan kali ini aku yang mengantar Jase!" Jake tidak mau mengalah. Dia terus berdebat bersama Joy. Namun ketika keduanya menoleh ke arah gadis yang ingin mereka beri tumpangan, Jasmine justru sudah menghilang bak ditelan oleh bumi.


"Kemana dia? Apa kau melihatnya pergi?" Joy celingak-celingukan untuk mencari Jasmine. Hal serupa juga dilakukan oleh Jake.