
...༻♚༺...
Jasmine dan Edward telah sampai di rumah sakit. Keduanya langsung beranjak masuk ke kamar Selene. Kebetulan Nathalie juga ada di sana, dia menyambut Edward dengan ramah dan bersemangat.
"Ini sebuah kehormatan untukku, Yang Mulia..." Nathalie sedikit membungkukkan badan ke arah Edward. Hal yang sama juga dilakukan oleh Selene. Sedangkan Jasmine hanya berdiri tegak di belakang Edward. Dia merasa kesal menyaksikan ibu dan neneknya menghormati sosok lelaki seperti Edward.
"Terima kasih, kalian tidak perlu bersikap berlebihan begitu." Edward merasa tidak nyaman ketika Nathalie dan Selene melakukan pose hormat. Sebenarnya dia memang selalu tidak nyaman jika ada orang tua yang bersikap begitu kepadanya. Apalagi jika di tempat yang ramai.
"Tidak apa-apa, Tuan. Lagi pula tidak ada yang melihat kita di sini. Anggap saja penghormatan kami sebagai rasa terima kasihku atas segala bantuanmu selama ini," tutur Selene dengan ukiran senyuman yang tampak tulus.
"Bagaimana keadaanmu, Selene? Ah benar, aku membawakanmu banyak buah!" ujar Edward sembari menoleh ke arah Jasmine. Saat itulah dirinya tersadar, kalau buah yang ada ditangan Jasmine tidak dibayar olehnya. Edward benar-benar lupa. Semuanya gara-gara insiden pertemuannya dengan Eva dan kawan-kawan.
Jasmine yang mengerti, segera meletakkan buah-buahan ke atas meja. Kemudian memasukkan beberapa ke dalam piring. Raut wajahnya sedari tadi terus cemberut. Intinya Jasmine masih kesal dengan Edward.
"Aku baik-baik saja. Seperti yang terlihat, beginilah aku, Tuan." Selene menjawab pertanyaan Edward. Dia duduk di ujung kasurnya. Dalam keadaan menghadap Edward.
"Bolehkah aku bicara empat mata denganmu? Ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan," ungkap Edward. Masih berbicara kepada Selene.
Jasmine bergegas menggandeng Nathalie. Lalu membawanya keluar dari kamar bersama-sama. "Kami akan menunggu di luar!" imbuh Jasmine. Dia dan Nathalie segera menghilang ditelan oleh pintu.
Kini Jasmine berada di luar kamar. Dia dan Nathalie memilih menikmati seduhan kopi yang tersedia di rumah sakit. Nenek dan cucu tersebut, duduk saling berdampingan di sebuah bangku panjang.
"Lusa kau akan masuk kuliah bukan?" tanya Nathalie, yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Jasmine.
"Apa kau betah dengan pekerjaanmu? Jika tidak, beritahu aku. Sebab aku tahu betapa sulitnya menjadi seorang pelayan di keluarga kerajaan. Dulu ibumu juga sempat mengalami hal sulit." Nathalie memegang tangan Jasmine dengan jari-jemarinya yang sudah keriput. Kulit wanita tua itu terlihat menampakkan garis-garis urat yang menonjol.
"Untuk sekarang, aku pikir baik-baik saja." Jasmine menyahut tanpa membalas tatapan neneknya. Suasana hatinya terasa sangat buruk. Segelas kopi yang ada dalam genggamannya segera dihirupnya melalui mulut.
"Aku harap begitu..." Nathalie mengusap lembut pundak Jasmine.
Terpikir dalam benak Jasmine, untuk mencurahkan kesulitannya. Dia ingin mengatakan bahwa kost-kostannya sama sekali bukan tempat yang nyaman. Namun Jasmine merasa tidak enak mengatakannya. Karena dirinya tahu, Selene pasti sangat bersusah payah untuk menemukan lokasi hunian tersebut untuknya.
Tidak lama kemudian, Edward keluar dari kamar Selene. Dia segera berpamitan kepada Nathalie. Akan tetapi, Edward mengajak Jasmine untuk ikut bersamanya sebentar. Dengan berat hati, Jasmine terpaksa menurut. Gadis itu berjalan dengan malas, seolah membawa beban di kedua kakinya.
"Berapa harga buah yang kau beli tadi?" tanya Edward seraya mengambil dompet dari kantong celana.
"Tuan tidak perlu membayarnya. Toh, aku memberikannya kepada ibuku sendiri," tolak Jasmine dengan dahi yang mengukir garis-garis jelas.
"Tidak! Aku akan membayarnya, karena akulah orang yang membawamu ke super market. Aku tahu harganya tidak murah!" Edward bersikeras. Dia terlihat sudah mengambil beberapa lembar uang dari dompet.
"Aku tidak mau menerimanya!" tegas Jasmine. Mimik wajahnya tambah merengut. Salah satu kakinya menghentak ke tanah. Jasmine sudah lelah terus-terusan mengalah.
"A-apa?!" Edward tercengang. "Berani-beraninya kau membentakku!" lanjutnya, menggeram kesal. Tanpa sengaja dirinya dan Jasmine menarik perhatian banyak orang di sekitar. Dalam sekejap keduanya menjadi bahan tontonan.
Edward memutar bola mata sebal. "Kalau begitu, jangan pernah lagi datang ke rumahku. Aku akan mencari pelayan lain saja!" ucapnya. Kemudian berlalu pergi meninggalkan Jasmine. Wajah putih lelaki itu terlihat memerah. Semua karena amarah yang memuncak dalam dirinya.
Jasmine mengepalkan tinju di kedua tangannya. Dari lubuk hatinya, sebenarnya dia merasa lega Edward memilih memecatnya. Alhasil Jasmine membiarkan Edward pergi. Ia bahkan tidak mencoba mengejar lelaki tersebut untuk melakukan sebuah bujukan.
Jasmine berjalan menghentak cepat, menuju kamar Selene. Rasa kesal dalam hatinya masih belumlah hilang. Hingga perasaan itu seketika pudar tatkala dirinya masuk ke kamar ibunya. Selene dan Nathalie terdengar membicarakan perihal kemurahan hati Edward.
"Pangeran sudah tahu kalau bantuannya selama ini tidak mencukupi. Dia tadi mengatakan, kalau sekarang, dialah yang akan mengurus masalah biaya pengobatan. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi untuk membalas kebaikannya." Selene menitikkan cairan bening melalui sudut matanya. Dia lekas-lekas mengusap cairan itu dengan punggung tangannya. Atensinya perlahan teralih kepada Jasmine.
"Kemarilah, Jase." Selene merentangkan kedua tangan. Menyuruh Jasmine untuk segera masuk ke dalam pelukannya. Tanpa pikir panjang, Jasmine langsung mendekapnya.
"Bagaimana menurutmu? Apa kau betah bekerja bersama Pangeran?" tanya Selene sambil melepas pelan pelukannya. Menatap Jasmine dengan rasa penasaran.
Jasmine terpaku dalam sekian detik. Matanya mengedip beberapa kali. Akhirnya gadis itu memilih berbohong. Dia menganggukkan kepalanya satu kali.
"Syukurlah... aku harap kita bisa selalu punya hubungan baik dengannya. Jujur, saat pertama kali aku mengurus Edward, diriku sudah menganggapnya seperti anak sendiri." Selene memberitahu.
"Apa Pangeran pernah memperlakukan ibu dengan kasar? Seperti memarahimu, misalnya?" tanya Jasmine. Dia tidak tahu pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutnya.
Selene menatap heran Jasmine, lalu berkata, "Tentu saja tidak. Dia sangat baik, Jase. Bagiku, Pangeran adalah sosok yang tertutup dan pendiam. Aku ingat dahulu dia tidak mau sedikit pun bersekolah di tempat umum. Tetapi sekarang aku senang, Pangeran dapat membuang hal buruk dalam dirinya sedikit demi sedikit. Dia bahkan kuliah dan memiliki banyak teman." Selene terdiam sejenak. Dia mendadak mengkhawatirkan putrinya. "Tunggu, apa Pangeran sering memarahimu? Atau dia pernah berlaku kasar kepadamu?" timpalnya.
"Tentu saja tidak." Jasmine lekas menggeleng. Dia terpaksa berbohong, karena tidak mau memupuskan harapan ibunya.
Jasmine memaksakan dirinya tersenyum. Dia tentu bingung dengan pernyataan sang ibu. Bagaimana bisa sosok lelaki seperti Edward dibilang sebagai orang yang pendiam? Dia mungkin memang agak tertutup. Namun bagi Jasmine, Edward sangat cerewet. Dan itulah hal paling menyebalkan dari seorang Edward.
Setelah menemani ibunya melakukan beberapa proses pengobatan, Jasmine dipaksa pulang oleh Nathalie dan Selene. Kedua orang tua tersebut ingin Jasmine fokus memperbaiki kehidupan sosialnya.
"Jangan cemaskan aku. Ibu akan baik-baik saja bersama nenekmu," imbuh Selene dengan senyuman tulus. Tatapan teduhnya sukses meluruhkan hati Jasmine. Dia lantas mematuhi keinginan ibunya.
Jasmine tahu, dirinya tidak punya tempat tujuan selain kost-kostannya. Dia akan memberi kesempatan satu kali lagi untuk tinggal di sana. Lagi pula, semua barangnya masih berada di sana.
Ketika Jasmine masuk melalui pintu depan kostnya, semua pasang mata langsung tertuju ke arahnya. Beberapa penghuni kost yang sedang berkumpul di ruang tamu, melemparkan tatapan sinisnya secara bersamaan. Dua di antara mereka bahkan terlihat saling berbisik. Jasmine dapat menduga, kalau mereka pasti membicarakan dirinya.
Jasmine mencoba tidak peduli. Dia berjalan memasuki kamarnya. Matanya langsung membulat sempurna, saat menyaksikan Eva tidur bersama seorang lelaki di kasurnya. Parahnya Eva terlihat hanya mengenakan tanktop, sementara sang lelaki bertelanjang dada. Setengah badan mereka tertutupi oleh selimut.
"EVA!!!" pitam Jasmine otomatis memuncak. Dia memanggil nama Eva dengan suara nyaring.
Eva dan lelaki yang tidur bersamanya sontak terbangun. Keduanya langsung mengubah posisi menjadi duduk. Merespon santai teriakan amarah dari Jasmine.
"Ah, lihat. Pemilik kasur yang asli ternyata kembali. Jasmine, Aku kira kau sudah tidak tinggal lagi di sini. Jadi aku..." Eva perlahan berdiri. Berbicara dengan ekspresi seolah menyesal. Tetapi Jasmine tahu betul, kalau Eva sekarang sedang mengejek dirinya.