Jase Is Mine

Jase Is Mine
Bab 34 - Sahabat Bar-Bar



...༻♚༺...


Joy membawa Jasmine ke sebuah toko baju terlebih dahulu. Masalah uang, Joy tidak mau Jasmine mengkhawatirkannya. Sebab Joy memang berasal dari keluarga yang berada. Jadi, uang di dalam dompetnya bisa terbilang banyak.


"Aku yakin, kau tahu mana pakaian yang bagus untuk dirimu sendiri," ujar Joy.


"Apa perlu kita ke sini?" Jasmine mengerutkan dahi.


"Ya! Bukankan salah satu kesenangan para perempuan adalah belanja. Setidaknya lakukanlah untukku." Joy merangkul pundak Jasmine dengan senyuman girang.


Jasmine lantas menurut saja. Ia segera memilih pakaian yang sesuai dengan minatnya. Gadis itu membeli dress selutut berwarna navy. Jasmine memadukannya dengan jaket berbahan jeans berwarna biru muda.


"Pilihanmu memang bagus, Jase!" puji Joy seraya menilik penampilan Jasmine dari ujung kaki hingga kepala. "Kau tidak perlu bergonta-ganti baju seperti dalam film puluhan kali!" tambahnya lagi.


Jasmine tersenyum sambil geleng-geleng kepala. "Sekarang giliranmu!" dia mendorong Joy masuk ke ruang ganti.


Setelah sekian menit, barulah Joy keluar dengan pakaian barunya. Dia memilih gaun ketat merah di atas lutut. Dibalut dengan jaket kulit berwarna hitam.


"Aku pikir seleramu lebih baik dibandingkanku," komentar Jasmine. Dia menyukai penampilan Joy.


"Aku pikir karena jaketnya! Kau sepertinya juga harus memakai jaket kulit sepertiku." Joy berlari ke tempat jejeran jaket kulit berada. Dia segera mengambil satu buah, lalu menyerahkannya kepada Jasmine.


"Aku tidak mengambilnya karena harganya mahal." Jasmine memberikan alasan.


"Kau tidak perlu memikirkan uang hari ini, Jase. Aku akan membayarkan semuanya untukmu!" sahut Joy.


"Apa? Tidak, Joy! Aku--"


"Jangan membantah! Kalau kau menolak, aku tidak mau lagi berteman denganmu!" ancam Joy. Dia sengaja memotong perkataan Jasmine. Tangan Joy dengan cepat memaksa Jasmine melepas jaket berbahan jeansnya. Kemudian menggantinya dengan jaket kulit.


"Nah! Sekarang kita benar-benar seperti sahabat dekat!" seru Joy. Dia mengajak Jasmine untuk berdiri ke depan cermin.


Jasmine menatap malas Joy. "Apa kau yakin bisa membayar semua ini?" tanya-nya meragu.


"Oh my god, Jase. Sudah kubilang kau tidak perlu cemas." Joy melambaikan tangan ke depan wajah. Menepis keraguan Jasmine terhadapnya. Selanjutnya dia segera membayar semua barang pembeliannya ke meja kasir. Joy memang mampu membayar semuanya hanya dengan sebuah kartu.


"Sebenarnya kau mau mengajakku kemana?" tanya Jasmine. Ia dan Joy melenggang bersamaan di jalanan trotoar.


"Pesta kampus! Aku dengar malam ini ada pesta yang diadakan oleh salah satu kakak senior kita." Joy menjeda sejenak. Lalu mendekatkan mulut ke telinga Jasmine. "Aku mengetahuinya saat tidak sengaja mendengar pembicaraan senior kita di kantin tempo hari..." bisiknya.


"Ayolah, Joy! Sudah jelas kita berdua tidak di undang!" ucap Jasmine sambil mengulurkan kedua tangannya ke depan.


Joy memutar bola mata malas. "Sejak kapan orang yang tidak diundang dilarang datang ke pesta? Itu tidak ada dalam kamusku!" balasnya. Sikunya iseng mengapit leher Jasmine. "Jadi... ikuti saja arahanku, Nona Eden!" Joy berucap nyaring tepat ke depan telinga Jasmine. Ulahnya sukses membuat Jasmine reflek menutup telinga.


Jasmine tidak ingin kalah. Dia segera melakukan pembalasan. Lalu berbicara tepat ke salah satu telinga Joy. "Terserah apa katamu, tukang bolos!" ledeknya. Diteruskan dengan gelak tawa puas.


Sebelum Joy melakukan sesuatu untuk membalas, Jasmine berlari lebih dulu. Kedua sahabat itu melakukan aksi kejar-kejaran di jalanan trotoar. Mereka melakukannya sambil tidak berhenti tertawa kecil.


Jasmine dan Joy terus berlari beriringan. Hingga Joy berteriak untuk menyuruh Jasmine berhenti di depan sebuah salon. Kini dia memaksa Jasmine untuk merias diri ke salon.


Perlu satu jam lebih untuk menata rambut. Jasmine dan Joy sekarang sibuk merias dirinya sendiri. Mereka memakai peralatan make up yang tersedia di salon.


"Lihat lipstik ini. Harum dan warnanya seperti buah cherry," ungkap Joy. Dia melepas penutup lipstik yang dipegangnya. Kemudian mencoba mempolesnya ke bibir Jasmine.


"Ah! Tentu saja tidak. Lipstik ini malah akan sangat membantumu saat sedang mencium seseorang," jelas Joy. Menyebabkan pipi Jasmine otomatis memerah malu. Jasmine langsung menepuk kuat pundak Joy.


"Aku sedang tidak berniat mencium siapapun!" pungkas Jasmine seraya mengedarkan bola matanya ke kiri dan kanan.


"Kalau begitu, untuk berjaga-jaga saja." Joy akhirnya berhasil mempoles bibir Jasmine dengan lipstik. Warna lipstik tersebut tipis dan sedikit mengkilap. Sangat cocok untuk bibir Jasmine.


"Bagaimana?" Joy menyuruh Jasmine memeriksa tampilannya ke depan cermin.


Jasmine tersenyum. Tangannya sibuk memainkan rambut hazelnya yang sudah di atur bergelombang oleh tukang salon. Perlahan Jasmine melirik ke arah Joy yang sibuk memakai lipstik merah menyala.


"Itu agak tebal, Joy!" tegur Jasmine.


"Aku tahu. Aku memang sengaja memakai lipstik ini. Menandakan kalau aku sedang butuh perhatian, bukankah begitu konsep warna dalam psikologi?" Joy menerangkan dengan asal.


Jasmine mendengus kasar. Apalagi ketika mengingat dirinya akan pergi ke pesta. Jasmine tidak sesuka itu terhadap acara besar seperti halnya pesta.


"Bukankah tujuanmu membawaku bersamamu untuk mengajarkan sesuatu?" Jasmine mendadak bertanya.


"Benar! Sekarang kita melakukannya, Jase. Kita masih dalam tahap permulaan. Kau tidak sabaran sekali! Apa kau begitu bersemangat ingin memberikan ciuman terbaik kepada orang yang kau suka?" timpal Joy, yang lekas direspon Jasmine dengan gelengan kepala.


"Ah, benar! Kau belum memberitahuku mengenai lelaki itu. Dia siapa?" Joy telah selesai merias dirinya. Ia segera memutar badan ke hadapan Jasmine.


"Kau mengenalnya. Dia--"


"Pasti Jake kan! Memangnya kapan dia menciummu?" tebak Joy. Dia tidak sengaja menyambar omongan Jasmine.


Jasmine meliarkan bola matanya. Ia masih merasa enggan memberitahu Joy, kalau lelaki yang kini membuatnya tertarik adalah Edward.


"Lupakan! Ayo kita pergi saja. Lagi pula hari sudah malam!" Jasmine sengaja mengubah topik pembicaraan. Dia menyeret Joy keluar dari salon.


Jasmine dan Joy kali ini menaiki taksi. Keduanya asyik berbincang mengenai banyak hal. Sesekali mereka akan saling tertawa bersama karena satu cerita yang lucu.


"Jase, sekarang ayo kita membicarakan perihal ciuman!" kata Joy.


"Tapi..." Jasmine menunjuk sopir taksi dengan gerakan bola mata.


"Kenapa kau peduli? Sejak tadi sopirnya hanya diam!" Joy mengangkat kedua bahunya sembari sedikit memajukan bibir bawahnya. "Lagi pula, aku akan berbicara dengan pelan saja," bisiknya. Joy tampak bersiap untuk menjelaskan.


"Pertama-tama, jika pria itu tiba-tiba menciummu, hal paling utama yang harus kau lakukan adalah berusaha tenang. Aku tahu dia melakukannya dengan tiba-tiba, tapi itulah strategi kebanyakan para pria." Belum Jasmine sempat mengiyakan. Joy sudah masuk ke dalam topik obrolan yang di inginkannya. Anehnya Jasmine begitu tertarik dengan penjelasan serius dari Joy.


"Lalu setelah merasa nyaman," ujar Joy seraya duduk menghadap Jasmine. "Barulah kau perlahan membuka bibirmu, lalu membiarkan lidahnya memasuki area mulutmu." Joy mulai memperagakan dengan mulutnya. Mengharuskan dahi Jasmine sontak berkerut.


"Jika kau sudah merasa sangat, sangat, sangat nyaman. Ciuman liar bisa terjadi dalam sekejap. Lidahmu akan bermain ganas seperti ular yang menggila!" Joy menjelaskan dengan cara berlebihan. Dia menggerakkan tangannya kesana kemari, hanya demi memperagakan gerakan ular yang meliar.


Jasmine mulai tidak nyaman dengan celotehan Joy. Apalagi ketika dia memergoki sopir taksi yang tiba-tiba menoleh ke belakang. Jasmine bergegas menutup mulut Joy rapat-rapat. Menghentikan pembicaraan gila dari sahabat bar-barnya tersebut.


"Stop it! Aku pikir, aku sudah mengerti caranya!" ungkap Jasmine, mencoba meyakinkan. Tangannya masih membekap mulut Joy.


Joy lantas mengacungkan jempolnya untuk Jasmine. Pembicaraan mereka berakhir disitu. Taksi sudah berhenti di tempat tujuan. Suara musik gaduh pesta terdengar menggema.