
...༻♚༺...
Jasmine bingung harus memberi alasan kepada Jake. Dia juga tidak mau menyetujui alasan dari Edward. Jasmine tidak mau dikenal sebagai seorang pemabuk.
"Jase?" Jake memanggil. Sebab Jasmine tidak kunjung menanggapi ucapannya.
"Em... ini tidak seperti yang kau pikirkan. Ed hanya berusaha membantuku tadi malam. Begitulah... tidak ada sesuatu yang spesial terjadi kepada kami. Aku yakin itu," jelas Jasmine. Memasang raut wajah yang meyakinkan.
"Oke, baiklah kalau begitu." Jake mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali. Dia dan Jasmine terdiam selang sekian menit.
"Bolehkan aku bertanya?" ujar Jasmine. Dia terpikir untuk memberitahukan perihal insiden tidur berjalannya tadi malam. Jasmine hendak mendengar pendapat orang lain selain Edward.
"Yes?" Jake menghentikan mobilnya pelan. Karena lampu merah tampak menyala. Beberapa orang terlihat menyeberang melalui zebra cross.
"Apakah mungkin tidur berjalan bisa dilakukan dalam jarak beratus-ratus meter lebih? Itu tidak mungkin bukan?" tutur Jasmine meragu.
Jake yang mendengar terkekeh geli. Salah satu tangannya nampak menutupi mulutnya yang masih tergelak kecil. "Entahlah, aku tidak pernah mendengar ada orang yang bisa melakukannya." ungkapnya sembari menoleh ke arah Jasmine.
"Benar bukan. Jelas itu tidak mungkin." Jasmine memegang bagian bawah bibirnya. Dia kini semakin yakin kalau Edward-lah orang yang membawanya tadi malam. Tetapi kenapa lelaki tersebut tidak mau mengakuinya? Apa sebenarnya niat Edward. Jasmine tidak mengerti. Ia nanti akan menanyakannya sekali lagi kepada Edward.
"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan ini?" tanya Jake. Menatap Jasmine dengan sudut matanya. Dia kembali menjalankan mobil, saat lampu hijau sudah menyala.
"Aku hanya... penasaran," jawab Jasmine.
Tidak lama kemudian, Jake dan Jasmine tiba di kost-kostan. Jasmine terkesiap tatkala menyaksikan keadaan huniannya. Sebab tempat tersebut terlihat benar-benar berantakan. Lebih porak-poranda dibanding rumah kosong yang ditinggalkan bertahun-tahun.
Tisu toilet tampak berhamburan dimana-mana. Melilit tiang rumah serta pepohonan yang ada. Selain itu, gelas-gelas kertas berwarna merah juga memenuhi pekarangan depan. Semuanya dikarenakan pesta yang diadakan tadi malam.
"Benar-benar berantakan bukan? Tapi aku yakin Eva dan yang lain akan bertanggung jawab. Kau tenang saja, Jase!" ujar Jake. Terkesan santai.
Jasmine tersenyum masam. Dia lekas keluar dari mobil sambil mengucapkan terima kasih. Dirinya tidak punya pilihan, karena sudah terlanjur sampai di kost-kostan. Lagi pula Jasmine juga tidak mau membuat Jake kerepotan.
"Kau tidak mau mampir dulu?" tawar Jasmine. Berusaha bersikap ramah.
"Tidak, Jase. Aku hampir semalaman berada di sana. Aku harus pulang sekarang. Sampai jumpa!" Jake tersenyum tipis sembari melambaikan satu tangannya kepada Jasmine. Lelaki itu segera melaju dengan mobilnya.
Jasmine melangkahkan kaki memasuki pintu depan kost-kostan. Sampah di dalam rumah terlihat lebih banyak dibanding di pekarangan. Jasmine menggeleng tegas. Dia yang merasa tidak terlibat terhadap kekacauan, tak mau ambil pusing. Jasmine segera beranjak menuju kamar.
Betapa terkejutnya Jasmine, ketika melihat keadaan kamarnya. Kasur dan barang-barangnya tampak berantakan. Dia lantas bergegas merapikan semuanya. Memastikan apa yang dimilikinya masih utuh.
Mata Jasmine langsung berkaca-kaca, tatkala menyaksikan alat vinyl-nya rusak. Dia segera menoleh kesal ke arah Eva. Kebetulan Eva terlihat tertidur pulas di kasurnya. Gadis tersebut hanya mengenakan tanktop dan celana jeans-nya.
"Eva! Katakan kepadaku, siapa yang harus bertanggung jawab dengan semua kekacauan ini!" geram Jasmine. Nafasnya mulai ngos-ngosan akibat dirundung perasaan marah yang kian memuncak.
"Hmmmh... apa kau bilang..." Eva menjawab malas. Ia bahkan tidak membuka matanya.
Eva menarik paksa tangannya dari cengkeraman Jasmine. Dia mengusap-usap area matanya terlebih dahulu. Kemudian berkacak pinggang untuk menghadapi gadis yang sedang mengomelinya.
"Apa kau bilang tadi?! Maksudmu, kau ingin aku bertanggung jawab?!" pungkas Eva dengan keadaan mata yang melotot tajam.
"Tentu saja! Lihat, kau merusak barang berhargaku!" Jasmine memperlihatkan alat vinyl-nya yang rusak. Benda kesayangannya tersebut telah patah.
"Pffffft!" bukannya panik, Eva malah mentertawakan Jasmine. "Kau bilang itu barang berharga?! Ayolah, kau bahkan bisa menemukannya di toko barang berkas!" pungkasnya, santai.
"Aku tidak bicara mengenai barang ini bisa didapat dimana, tetapi aku bicara tentang pentingnya benda ini untukku. Kau harus tahu!!" tegas Jasmine seraya menghentakkan salah satu kakinya dua kali.
"Oh... ternyata gadis desa juga bisa marah. Ya sudah, maafkan aku. Itu yang kau mau kan? Permintaan maaf dariku?" ujar Eva sambil melingus begitu saja melewati Jasmine. Lalu keluar dari kamar seakan tidak peduli.
Jasmine merasa sangat kesal. Sangat kesal! Dia tak mampu membendung air matanya lagi. Jasmine mendudukkan dirinya di ujung kasur. Kemudian menutupi wajahnya yang telah dilinangi air mata. Sungguh, Jasmine ingin kembali saja ke desa Devory. Kota London tidak seperti yang dia duga selama ini.
Drrrt...
Drrrt...
Ponsel Jasmine tiba-tiba bergetar. Dia awalnya memilih untuk mengabaikan. Namun karena ponselnya tak kunjung berhenti bergetar, alhasil Jasmine terpaksa memeriksanya. Keningnya mengernyit saat melihat nomor tidak dikenal tengah melakukan panggilan. Jasmine segera mengangkatnya tanpa pikir panjang.
"Jasmine, apa kau sudah selesai? Rumah ini membutuhkanmu. Jika kau mau berhenti bekerja, katakan saja kepadaku. Aku tidak mau kau berbuat sesuka hati begini. Lebih baik aku cari saja pelayan yang menjanjikan dari pada dirimu!" suara Edward terdengar dari seberang telepon. Menyebabkan mata Jasmine reflek membola.
"Edward? Bagaimana kau bisa punya nomor teleponku?" sahut Jasmine. Dia berbicara tanpa berpikir terlebih dahulu.
"Apa?! Berani sekali kau menyebut namaku dengan santainya!" respon Edward yang tak terima.
"Maaf, tapi bukankah kau bilang jika aku sedang berada di luar rumahmu, aku harus menganggapmu seperti orang biasa?" balas Jasmine. Ucapannya sukses membuat Edward terdiam dalam sesaat.
"Pokoknya cepat kemari! Kalau tidak, aku akan katakan kepada ibumu, bahwa kau tidak sanggup lagi menggantikannya untuk bekerja!" ungkap Edward. Dia langsung mematikan panggilan secara sepihak.
Jasmine terperangah. Dia menatap tajam ke arah layar ponselnya. Gadis itu kini hanya bisa mengacak-acak rambutnya frustasi. Meskipun begitu, dia tetap bersiap untuk pergi lagi.
Setelah merapikan kamar dan membersihkan diri, barulah Jamine beranjak keluar dari kost-kostan. Dia berjalan dengan santai melalui teman-temannya yang tengah sibuk membersihkan rumah. Jasmine benar-benar tidak mau peduli.
Jasmine melangkah tambah jauh dari kost-kostannya. Dia tidak tahu, di belakangnya, teman-teman satu kostnya tengah bergerombol menggosipkan dirinya. Eva memanfaatkan kesempatan itu untuk menyebar kebenciannya terhadap Jasmine.
'Mungkin berada di rumah Edward lebih baik dari pada di kost-kostan. Meskipun Edward sangat menyebalkan, setidaknya rumahnya membuatku merasa lebih tenang," batin Jasmine. Dia sudah berada di dalam bus. Melamun sambil menatap keluar jendela.
Sesampainya di rumah Edward. Jasmine langsung melangkah laju menuju dapur. Ketika sudah di dapur, atensi Jasmine terfokus ke arah halaman belakang. Dia menyaksikan Edward sedang berdiri bersama seorang lelaki misterius. Ronald terlihat mengeluarkan kuda yang ada di kandang. Kemudian membawanya ke hadapan Edward dan si lelaki misterius.
'Mungkinkah itu ayahnya Edward?' gumam Jasmine dalam hati. Dia mendekat ke jendela, agar dapat melihat semuanya lebih jelas.