Jase Is Mine

Jase Is Mine
Bab 41 - Resmi Berpacaran



...༻♚༺...


"A-aku tidak bisa, Tuan. Bukankah anda melarangku untuk masuk ke sana?" ujar Jasmine. Dia tentu enggan masuk ke kamar Edward.


Tidak ada sama sekali jawaban dari Edward. Di saat yang tak terduga, pintu mendadak terbuka. Menyebabkan mata Jasmine sontak terbelalak.


Edward membuka pintu kamarnya lebar-lebar. Mempersilahkan Jasmine agar segera masuk. Akan tetapi Jasmine malah menatap Edward dengan keadaan mata yang mengerjap beberapa kali.


"Kamarku berantakan. Kau harus membersihkannya!" perintah Edward sembari bersandar ke pintu. Baru pertama kalinya dia menyuruh orang lain untuk membersihkan kamar pribadinya. Padahal biasanya Edward sering membersihkan kamarnya sendiri.


Jasmine yang merasa penasaran, mencondongkan sedikit kepalanya ke dalam. Memastikan keadaan kamar Edward. Benar saja, kamar lelaki itu memang agak berantakan. Jasmine lantas menoleh ke arah Edward dahulu.


"Apakah tidak apa-apa aku masuk?" tanya Jasmine memastikan. Edward pun menjawab dengan anggukan kepala.


"Baiklah kalau begitu," ujar Jasmine seraya melangkahkan kaki memasuki kamar Edward. Dia hanya berniat membersihkan barang yang berhamburan, lalu pergi secepat mungkin.


Edward masih diam di tempat. Dia mengamati Jasmine yang mulai sibuk bersih-bersih. Sesekali Jasmine akan menoleh ke arah Edward. Dia tentu merasa risih jika diamati terus menerus.


"Apa Tuan akan diam di sana dan terus memperhatikanku?" tukas Jasmine yang sudah berbalik menghadap Edward.


"Menurutmu? Bukankah aku bebas melakukan apapun di kamarku?" Edward mengangkat kedua bahunya tak peduli. Kemudian melipat tangan di depan dada. Dia sempat bertukar pandang dengan Jasmine dalam sesaat. Jasmine yang merasa canggung, langsung berdalih lebih dulu.


Edward menghampiri Jasmine. Dia memegangi pergelangan tangan gadis itu. Jasmine sontak berbalik lagi.


"Aku ingin kau jujur dengan perasaanmu," ucap Edward. Sorot matanya nampak berisi. Penuh rasa penasaran dan juga kasih.


"Pe-perasaan?" kening Jasmine mengernyit. Dia bersikap seakan tidak mengerti.


"Kau juga menyukaiku bukan? Apa alasan keraguanmu itu karena aku kebetulan seorang Pangeran? Kau mencemaskan perihal status sosial?" timpal Edward. Tangannya bergeming walau Jasmine terus berupaya melepaskan.


Jasmine mendengus kasar. Ia mengumpulkan keberanian untuk menjawab. Lalu menatap Edward secara berhadapan.


"Jika benar, memangnya anda mau apa?" balas Jasmine.


"Bukankah kau sudah tahu? Kalau aku bukanlah tipe orang yang peduli dengan orang lain? Aku tidak peduli kau gadis desa, aku juga tidak masalah dengan keadaanmu sebagai pelayanku. Lagi pula ini bukanlah zaman kerajaan kuno? Orang biasa tidak akan di hukum karena berpacaran dengan anggota kerajaan." Edward menarik Jasmine lebih dekat. "Kau harus tahu satu hal, semuanya berubah saat kau hadir di hidupku, Jase..." sambungnya lirih. Manik birunya menampakkan binar kekaguman terhadap sosok yang ditatapnya.


Ucapan Edward membuat Jasmine terkesiap. Kali ini matanya tidak mengedip. Jujur saja, Jasmine sangat ingin mengatakan kalau dirinya juga menyukai Edward.


"Tidak ada salahnya memulai hubungan lebih dahulu. Setidaknya kau memberikan kesempatan untukku dan juga perasaanmu." Edward menuntut Jasmine untuk menjawab.


Jasmine tertunduk sesaat. Ia merasa enggan menolak. Sebab keinginannya untuk memiliki Edward juga kuat. Setelah berpikir dalam sekian detik, Jasmine akhirnya menganggukkan kepala. Dia berkata, "Baiklah kalau begitu. Aku memang tidak pandai menyembunyikan perasaanku." Jasmine tidak lupa menambahkan senyuman tipis.


Edward membalas dengan senyuman simpul. Ia langsung membawa Jasmine ke dalam pelukan. Kini jantung keduanya saling berdekatan satu sama lain.


"Mulai sekarang, kau tidak perlu menghabiskan terlalu banyak waktu untuk membersihkan rumah. Aku akan carikan pelayan lain," ujar Edward, bersemangat.


"Tidak, Tuan. Biarkan saja aku tetap bekerja." Jasmine menolak seraya melepas dekapannya dari Edward.


"Satu hal lagi." Edward mengacungkan jari telunjuk ke depan wajah Jasmine. Lalu melanjutkan, "berhentilah memanggilku Tuan!"


"Tuan, tidak perlu--" perkataan Jasmine terhenti saat Edward langsung mempelototinya. Lelaki itu jelas mengkritik panggilan Jasmine yang terdengar masih formal.


"Maksudku..." Jasmine memejamkan rapat matanya sebentar. Ia hanya berusaha menghilangkan perasaan canggungnya. "Aku bisa melakukannya sendiri, Ed!" ucapnya. Memaksakan diri untuk berbicara informal.


Edward menggubris Jasmine dengan tawa kecil. Dia masih saja sibuk merapikan beberapa barang yang berhamburan di kamarnya.


Jasmine yang tadinya hanya berniat ingin membersihkan, sekarang baru saja memperhatikan penampilan kamar Edward. Suasananya terlihat klasik. Terdapat juga beberapa barang antik yang langka. Tempat lilin yang pernah dibelikan Jasmine juga terpajang di atas nakas. Tetapi yang paling menarik perhatian Jasmine adalah miniatur rumah buatan Edward. Miniatur tersebut tampak belum selesai.


"Kau sepertinya memang sangat menyukai seni dan arsitek," komentar Jasmine sambil mengamati miniatur rumah buatan Edward.


"Itulah alasan utamaku berkuliah di jurusan yang aku geluti sekarang," tanggap Edward. Dia menyandarkan pinggulnya ke nakas.


"Apa anda... eh, maksudku... apa kau pernah pergi ke Paris atau Roma? Kenapa tidak kuliah di sana saja? Bukankah bangunan-bangunan di sana luar biasa?" tanya Jasmine. Memandang Edward lewat ekor matanya. Setelah mengungkapkan perasaannya, Jasmine sedikit lega. Entah kenapa dirinya merasa lebih nyaman mengobrol bersama Edward. Apalagi dengan cara bicara informal.


"Aku pikir... aku tidak bisa terlalu lama jauh dari London," ungkap Edward. Kemudian melangkah lebih dekat dengan Jasmine. Kini dia menatap miniatur rumah buatannya. "Tapi, bukan berarti aku tidak pernah bermimpi ingin pergi ke sana. Dari lubuk hatiku yang terdalam, aku ingin sekali mengelilingi kota Paris. Paling tidak selama tiga hari," tambahnya.


"Aku juga... Di sana adalah surganya fashion. Aku bermimpi--"


Ponsel Edward mendadak berdering. Tanpa sengaja memotong ucapan Jasmine. Edward otomatis mengangkat panggilan yang ternyata dari Ratu Evelyn itu.


"Yes, Granny?" sapa Edward. Dia berjalan keluar. Meninggalkan Jasmine sendiran di dalam kamar.


"Kau harus datang ke istana besok. Banyak persiapan yang harus dilakukan. Tahun ini kau harus menghadiri perayaan ulang tahunku, kau dengar itu kan?" timpal Evelyn dari seberang telepon.


"Tapi--"


"Kau harus datang, Ed. Jika tidak, aku tidak akan mengirimkan uang dan fasilitas apapun lagi untukmu!" ancam Evelyn. Lalu mengakhiri panggilan lebih dulu.


Nafas dihela cukup panjang oleh Edward. Satu-satunya alasan dia masih bertahan di keluarga kerajaan, karena dirinya masih bergantung dengan fasilitas yang ada. Edward belum siap untuk lepas dari keluarga kerajaan. Dia tidak pandai hidup mandiri.


Edward menyandarkan tubuhnya ke tembok. Dia benar-benar malas datang ke istana.


'Andai Jasmine bisa ikut denganku...' harap Edward sambil menutup rapat kelopak matanya. Hingga terlintaslah ide brilian dalam benaknya. Ide tersebut menyebabkan Edward membuka lebar matanya. Tanpa pikir panjang, dia langsung berlari menghampiri Jasmine.


"Jase, maukah kau ikut denganku pergi ke istana?" ujar Edward sembari memegang halus pundak Jasmine.


Jasmine melotot tak percaya. Edward mengajaknya ke istana! Apa dia bermimpi? Bagaimana bisa orang rendahan sepertinya bisa mendapatkan tawaran begitu? Jasmine tentu masih merasa tidak pantas. Menerima pernyataan cinta Edward saja sudah sulit baginya.


"A-apa? Jangan bercanda!" balas Jasmine, membantah.


Edward memutar bola mata dan menjawab, "Aku tidak bercanda. Kau bisa datang ke istana bersamaku!"


"Tidak, Ed. Aku tidak bisa!" Jasmine menggeleng tegas


"Ya sudah, kalau begitu aku juga tidak akan pergi." Edward menyatakan keputusan akhirnya. "Kau bisa keluar dari sini sekarang. Aku mau istirahat!" ucapnya lagi. Raut wajah Edward terlihat merengut.