
...༻♚༺...
Jasmine ingin sekali memarahi Eva habis-habisan. Bahkan kalau perlu menampar wajah gadis itu sampai berdarah. Namun semua niat tersebut hanya ada dalam bayangan Jasmine. Sebab Jasmine lebih memilih melakukan tindakan yang paling di inginkannya sejak dulu.
Jasmine mengambil semua barang miliknya. Termasuk alat vinyl-nya yang sudah rusak. Dia memasukkan semuanya ke dalam koper besarnya. Tanpa sepatah kata pun, Jasmine beranjak pergi dari kost-kostan sambil membawa dua kopernya. Wajahnya cemberut. Amarahnya tidak tertahankan lagi. Hal yang paling di inginkan Jasmine sekarang adalah tinggal sejauh mungkin dari Eva.
"Selamat tinggal, Loser! Don't comeback!" pekik Eva. Tertawa puas bersama-sama teman-temannya.
Langkah dilajukan Jasmine saat menyusuri jalanan sendirian. Meskipun dia sangat kesulitan membawa dua kopernya yang berat. Jasmine sudah kehabisan kata-kata untuk menanggapi ejekan Eva. Dia memang tidak ahli mengomeli orang lain. Terutama jika berhadapan secara langsung.
Lagi-lagi Jasmine memilih berhenti di taman bermain kanak-kanak. Hari kebetulan sudah larut malam. Dia berharap dirinya bisa mendapatkan keajaiban lagi, seperti halnya insiden terakhir kali.
Bedanya kali ini Jasmine sama sekali tidak mengantuk. Ia duduk merenung di salah satu ayunan yang ada. Menatap kosong ke arah jalanan beraspal yang ada di depannya.
Jasmine berpikir keras untuk mencari jalan keluar terhadap masalahnya sekarang. Hal paling utama, tidak mungkin Jasmine pergi ke rumah sakit. Dia tentu tidak mau membuat ibu dan neneknya cemas. Jasmine tidak mau menjadi beban. Sebab baginya, sang ibu sudah sangat kesulitan dengan penyakit yang dideritanya.
"Ah benar, Jake!" Jasmine segera meraih ponselnya. Dia merasa hanya Jake satu-satunya orang yang peduli kepadanya. Tetapi sayangnya, Jasmine belum mempunyai nomor telepon Jake. Dia justru terpaku menatap nama Edward di daftar kontak nomor telepon.
"Yang benar saja!" Jasmine memejamkan rapat matanya. Dia mengulum bibir sambil menggeleng beberapa kali. Berupaya menolak opsi gila yang di usulkan oleh otaknya. Meskipun begitu, setelah dipikir-pikir, tidak ada salahnya Jasmine meminta bantuan Edward. Toh, dia juga telah berjanji kepada ibunya, kalau dirinya akan menjaga hubungan baik dengan Edward.
Jasmine sempat berpikir untuk mencari tempat hunian lain. Akan tetapi bagaimana bisa dia menemukannya tanpa bantuan seseorang? Apalagi sekarang waktu sudah hampir tengah malam. Jasmine juga tidak begitu tahu seluk-beluk kota London. Dia tentu tidak tahu dimana tempat yang bagus untuk ditinggali.
Akhirnya jari-jemari Jasmine bergerak. Dia memutuskan menghubungi Edward melalui ponselnya. Panggilan pertama dan kedua sama sekali tidak mendapatkan jawaban. Begitu pun panggilan-panggilan berikutnya.
Jasmine mendengus kasar. Dirinya mengira, Edward pasti marah besar terhadapnya. Alhasil Jasmine kini bergumul dengan papan ketik di ponselnya. Menyusun kalimat permohonan kepada Edward.
...'Tuan, maafkan aku. Tadi aku sudah bersikap tidak sopan kepada anda. Aku benar-benar salah, dan aku berjanji akan melakukan apapun agar Tuan mau memaafkanku. Selain itu, aku juga mau mengucapkan terima kasih kepada anda, karena telah bersedia membiayai semua pengobatan ibuku. Aku harap Tuan bisa menerimaku kembali sebagai pelaya anda...'...
Begitulah pesan yang dikirim Jasmine kepada Edward. Ibu jarinya telah terlanjur memencet tombol kirim. Kini Jasmine hanya tinggal menunggu balasan Edward.
Lima menit, enam menit, hingga tiga puluh menit. Edward sama sekali tidak membalas pesan Jasmine. Padahal menurut tanda pemberitahuan, lelaki tersebut sudah membaca pesannya.
Jasmine menghela nafas panjang. Dia menangkup wajahnya dengan perasaan putus asa. Gadis itu ingin menangis, tetapi anehnya tidak bisa.
Drrt...
Drrt...
Ponsel Jasmine tiba-tiba bergetar. Dia lekas-lekas mengangkat panggilan tersebut. Pupil matanya membesar ketika melihat nama Edward di layar ponselnya.
"Halo, Tuan?" sahut Jasmine.
"Apa dirimu bersungguh-sungguh dengan pesan yang kau kirim tadi?" tanya Edward dari seberang telepon.
"Tentu saja. Aku benar-benar minta maaf. Anda akan memaafkanku bukan?" balas Jasmine.
"Aku menerimamu kembali bekerja. Tapi bukan berarti aku memaafkanmu. Ya sudah--"
"Apa?" respon Edward.
"Aku baru saja pergi dari kost-kostanku. Dan aku tidak tahu harus tinggal dimana. Satu-satunya orang yang bisa kuhubungi adalah anda. Bisakah Tuan membiarkan aku bermalam di rumah anda malam ini?" ujar Jasmine, dengan penjelasan panjang lebar.
"Kenapa kau tidak mendatangi ibu dan nenekmu saja?" jawab Edward. Tidak mengerti.
"Aku tidak bisa..." lirih Jasmine. Dia masih belum berkenan memberikan alasannya. "Sekarang aku masih berada di lingkungan sekitar kost-kostanku. Aku benar-benar bingung," tambahnya lagi.
Tut...
Tut...
Tut...
Bukannya merespon, Edward malah mematikan panggilan telepon secara sepihak. Apa yang dilakukan lelaki tersebut berhasil membuat Jasmine menangis. Air mata yang tadinya tidak mampu keluar, kini menetes dengan leluasa melalui kedua pipinya.
Entah berapa lama Jasmine menangis. Hanya kegelapan dan kesunyian tengah malam yang menemaninya. Jasmine benar-benar terjebak dalam keadaan.
Beberapa saat kemudian, suara mesin mobil terdengar mendekat. Menyebabkan atensi Jasmine perlahan tertuju ke arah sumber suara.
Jasmine mematung saat menyaksikan sebuah mobil berhenti di hadapannya. Sosok lelaki berambut pirang yang dia kenal tampak keluar dari mobil. Dialah Edward, yang turun tangan sendiri untuk menjemput Jasmine. Lelaki itu segera berjalan menghampiri.
Melihat kedatangan Edward, Jasmine merasa terenyuh. Bukannya tersenyum girang, Jasmine malah kembali menangis.
"Hei! Kau kenapa menangis?" Edward sontak dirundung perasaan panik. Dia bukan orang yang ahli menenangkan seseorang yang sedang menangis. Edward hanya bisa meliarkan pandangannya ke segala arah. Sebab dia tidak tahu harus berbuat apa.
"Te-terima kasih, Tuan... hiks... hiks... terima kasih..." ungkap Jasmine disela-sela tangisnya.
"Ayolah, Jasmine. Berhentilah menangis. Kau mau aku pergi saja?" ucap Edward. Dia benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa kepada Jasmine.
"Tidak!" Jasmine lekas berdiri. Dia langsung meraih dua kopernya, lalu menyeretnya untuk ikut bersamanya. Sedangkan Edward, sekarang bisa mendengus lega. Dia segera membukakan bagasi mobil untuk Jasmine.
Jasmine menyerahkan dua kopernya kepada Edward. Berharap lelaki tersebut mau mengangkatkan barang bawaannya ke dalam bagasi.
"Apa-apaan, angkatlah sendiri. Kedatanganku ke sini hanya berniat menjemputmu saja. Bukannya memberikan pelayanan secara maksimal!" pungkas Edward sembari meninggalkan Jasmine di depan bagasi mobil.
Jasmine menghapus cairan bening yang membekas dipipinya. Dia lantas mengangkat kopernya sendiri masuk ke dalam bagasi. Dirinya sama sekali tidak kesal dengan ucapan Edward tadi. Kemungkinan Jasmine sudah terbiasa dengan celotehan dingin Edward.
Setelah memasukkan kedua kopernya ke dalam bagasi, Jasmine bergegas masuk ke mobil. Duduk tepat di sebelah Edward.
"Aku berjanji, akan segera menemukan tempat tinggal baru secepatnya," tutur Jasmine seraya menatap Edward dengan sudut matanya.
Edward mengangguk. "Ya, aku tahu. Tapi aku ingin menegaskan kepadamu, kalau aku belum memaafkanmu," imbuhnya dengan nada bicara yang terdengar begitu dingin.