
Maysarah yang baru saja selesai pemotretan dia akan menuju ke tempat yang orang suruhannya beritahu. Orang suruhan May , kita sebut saja namanya Dimas mengatakan kalau rencana mereka berhasil. Rasanya hari ini May begitu bahagia luar biasa. Dia tidak menyangka akan semudah ini untuk menyingkirkan Ayara. Dimas juga mengirimkan beberapa foto yang menampilkan bagaimana wajah Raka yang memerah menahan amarah.
“Akhirnya May… tidak sia-sia semua uang yang sudah kamu gelontorkan untuk rencana ini May” ucapnya pada diri sendiri.
Saking bahagianya dia sampai menyapa semua yang ada di lokasi pemotretan.
“Kenapa kamu?” tanya Aurel rekan kerjanya sesama model iklan.
May hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
“Habis ini kita mau makan siang bareng, kamu ikut kan?” tanya Aurel pula.
May kembali menggelengkan kepalanya.
“Kenapa? Biasanya kamu yang paling semangat. Habis makan kita akan karaokean. Kita happy happy” ucap Aurel berusaha membujuk May untuk ikut.
May hanya tersenyum. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dimas dan mengetahui kondisi terkini tentang Ayara.
May kembali mengingat pesan Dimas saat ditelepon.
“Mbak, langsung kesini ya. Di daerah XX. Korban pingsan. Tadi suaminya langsung pergi begitu saja. Saya tidak mungkin membawa ke rumah sakit. Jadi saya bawa kesini” ucap Dimas saat menghubungi Maysarah via telepon. Dimas juga mengirimkan titik lokasi dimana dia berada.
Bukan main senangnya Maysarah. Dia sampai bernyanyi saking bahagianya dia saat ini.
“Bagus juga suaraku. Sepertinya Aku bisa menjadi penyanyi setelah ini” gumam Maysarah.
“Raka…harusnya kamu bersyukur, wanita cantik seperti aku ini begitu menyukaimu. Dibandingkan dengan istrimu yang biasa-biasa saja tentu aku jauh di atasnya. Semua pria ingin menjadi suamiku dan kamu harus bersyukur akan hal itu.”
“Semoga saja wanita itu keguguran dan tidak ada lagi pengikat kalian berdua”.
May melihat jam di pergelangan tangannya. Lokasi yang Dimas kirim jaraknya lumayan jauh. Jalanan juga lumayan macet. May terpaksa memencet klakson berkali-kali karena kendaraan didepannya mengendara dengan begitu lambat seperti siput.
“Heran lambat amat naik mobilnya, belum punya sim kali itu ya” umpat Maysarah sedikit kesal.
“Kamu harus berterima kasih sama aku Ko. Kalau bukan karena aku mana mungkin kamu bisa mempunyai kesempatan untuk dekat dengan wanita itu”.
“Lagian apa bagusnya sih dia? Sampai-sampai Chiko mencintainya sebegitu dalam. Pakai ngancam jeblosin ke penjara segala lagi! Enak saja mau jeblosin May ke penjara dia lupa apa siapa bekingan Maysarah selama ini. Walau kamu anak konglomerat pun sekarang tidak akan menang melawan May ko. Kamu salah memilih lawan”.
Maysarah kembali menekan-nekan klaksonnya karena sudah semakin kesal karena kendaraan di depannya tidak kunjung bergerak.
Tin
Tin
Tin
Habis sudah kesabaran Maysarah.
Dimas pun sudah kembali menghubungi Maysarah.
“Sudah dimana mbak?” tanya Dimas dengan suara yang tidak biasa.
“Macet, dia masih pingsan?” jawab May.
“Masih mbak” jawab Dimas pula.
“Tunggu sebentar lagi aku sampai” ucap May kemudian mematikan panggilan tersebut.
45 menit kemudian May akhirnya sampai di titik lokasi yang Dimas kirimkan.
May keluar dari mobilnya dan memperhatikan sekeliling.
“Kenapa disini?” gumam May dalam hati. May mengira kalau pasti Dimas salah mengirimkan lokasi. Saat May hendak pergi dari sana. Seseorang menahan lengannya. May begitu terkejut melihat pria berbaju coklat yang kini mencengkram lengannya dengan kuat.
Bersambung...