
Ayara tidur-tiduran di kamarnya seorang diri. Piano dan barang berharga di kontrakan sudah dia pindahkan. Untuk rumah kontrakan itu sudah dia carikan penyewa dan akan mulai menempati rumah itu besok.
Andai dari awal Raka jujur saja mungkin semua ini tidak akan seribet ini. Tapi yang namanya lelaki memang kadang-kadang berpikir diluar expektasi.
Ayara bolak balik tubuhnya seperti ikan pindang. Dia bosan tidak melakukan apapun tapi untuk mengerjakan sesuatu dia juga malas.
Saat itu juga ada panggilan masuk dari Raka. Ayara tidak membuang-buang waktu langsung menerima panggilan tersebut.
Saat tombol hijau sudah digeser wajah tampan Raka sudah memenuhi layar.
Dia tersenyum manis menyapa sang istri.
"Belum tidur?" tanya Raka.
"Belum. Soalnya Pak Suami gak ada menghubungi" jawab Ayara pura-pura merajuk. Padahal tadi Raka sudah mengabarkan kalau dia sedang membuat video pembelajaran.
Raka hanya terkekeh. Tapi melihat wajah istrinya yang masih cemberut kening Raka pun menjadi berkerut.
"Beneran kamu kesal?" tanya Raka mulai khawatir.
Ayara pun menggelengkan kepala.
Huft.
"Tadi Chiko mengatakan suka sama aku" ucap Ayara yang tidak ingin menutupi apapun dari suaminya.
"Lalu?" tanya Raka.
"Lalu apa? Kamu minta aku nerima dia?" tanya Ayara sengaja mengerjai sang suami.
"Coba saja kalau berani" jawab Raka terdengar ketus.
Ayara tentu saja tertawa mendengar jawaban suaminya.
"Bukan masalah berani gak berani. Tapi mau apa enggak sih" balas Ayara pula.
"Hubungan kalau berprinsip tidak akan ada orang ketiga" ucap Raka.
"Iya, makanya aku sedih karena kamu yang berprinsip tiba-tiba memiliki wanita idaman lain" balas Ayara.
"Aku sebenarnya tidak ada niatan untuk menggunakan alasan perselingkuhan. Tapi karena kamu menanyakan apakah aku mempunyai wanita lain aku langsung menjawab iya" ucap Raka merasa bersalah. "Maafkan Aku" lanjutnya.
"Iya, suami istri harus saling memaafkan. Tapi aku mohon jangan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Bisa kan?" pinta Ayara.
Raka dengan cepat menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih istriku yang paling pengertian. Aku sangat beruntung karena kamu mau menerima aku yang tidak sempurna ini".
Raka selalu merasa bersalah bila ingat dia yang memiliki masalah dengan alat reproduksinya.
"Setelah perpisahan kita aku sadar kalau aku tidak bisa hidup tanpamu Raka.. Anak bukanlah segala galanya buatku. Yang terpenting adalah aku masih bersama denganmu" aku Ayara. Matanya sudah berkaca-kaca bila mengingat tentang perpisahannya.
"Aku yang lebih tidak bisa hidup tanpamu sayang... Kamu adalah duniaku. Bagiamana jadinya duniaku bila kamu pergi dari hidupku?" balas Raka.
"Pengen peluk" rengek Ayara kembali dengan mode manjanya.
"Jumat ya kamu bisa peluk aku sepuasnya" balas Raka dengan tersenyum manis.
Ayara kembali merengek.
"Maunya sekarang" jawabnya manja.
"Sabar" ucap Raka sambil menyentuh layar ponselnya seolah dia sedang mengelus wajah manis istrinya.
"Tadi aku sudah coba nyari lowongan di desa N. Adanya back office hotel, gimana yank?" tanya Ayara kemudian.
"Kamu sudah yakin untuk resign?" jawab Raka dengan pertanyaan.
Ayara pun menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah kalau begitu coba saja dulu" ucap Raka kemudian.
Sejujurnya dia tidak tega melihat istrinya harus resign bekerja karena Raka sangat tau Ayara nyaman bekerja disana. Tapi untuk dia pindah pun tentu belum bisa karena dia sudah terlanjur menerima keputusan mutasi tersebut.
Andai Raka tidak berpikiran buntu waktu itu semua ini pasti tidak akan terjadi.
Maafkan Aku Sayang...
Bersambung...