If You Leave My World

If You Leave My World
Memohon



Selamat Membaca ❤️


.


.


Setelah kepulangan Deni, Ayara masih setia duduk di teras rumahnya. Pikiran kosong. Ingin dia mempercayai apa yang Deni katakan tapi ketakutan kalau Raka memiliki selingkuhan jauh lebih besar. Kalau Ayara mempercayai apa yang Deni ucapkan berarti ada alasan lain kenapa Raka ingin berpisah dan Ayara sama sekali tidak menemukan jawabannya.


Huft.


Ayara menghela nafas berkali-kali.


Saat itu juga Chiko datang dan memarkir mobil di depan rumah Ayara.


“Ra..” panggil Chiko saat memasuki halaman rumah Chiko.


“Kamu sudah pulang kerja?” tanya Ayara terheran. Ini belum jam lima sore tapi cecunguk itu sudah berada di rumahnya.


“Iya, Aku ada urusan penting. Kamu bisa antar aku tidak?” jawab Chiko dengan tatapan memohon. Baru pertama kali Ayara melihat Chiko seperti ini. Sangat aneh menurutnya.


“Memangnya mau kemana?” tanya Ayara akhirnya.


“Ke Mall XX. Aku harus mencari beberapa buku tentang saham. Kamu lebih memahami tentang itu daripada Aku. Makanya Aku meminta bantuanmu. Please” ucap Chiko kembali memohon.


Mengingat Chiko sudah banyak membantunya, Ayara pun mengangguk setuju.


“Tunggu sebentar. Aku ganti baju dulu” ucap Ayara lalu bergegas masuk ke dalam rumah untuk mengganti pakaiannya lebih rapi.


10 Menit kemudian Ayara sudah siap dengan penampilan yang begitu sederhana. Bila dibandingkan dengan Maysarah yang berpenampilan sosialita dengan barang-barang mewah dan harga fantastis serta riasan tebal, Ayara jauhlah berbeda. Ayara hanya wanita sederhana yang memakai riasan tipis. Tapi Ayara memiliki kulit yang bersih dan bercahaya. Walau riasannya sederhana tapi kecantikannya sudah terpancar karena dia memiliki aura yang sangat bersinar.


“Kamu cantik sekali” ucap Chiko mengagumi penampilan Ayara. Padahal dia hanya mengenakan Pluffy Blouse bawahan Flare pants dan white heels. Wajahnya pun hanya memakai riasan tipis sekali. Tapi karena wajahnya memang sudah cantik, walau mengenakan riasan sederhana saja dia sudah terlihat cantik.


“Terima kasih” ucap Ayara seadanya.


“Ayo” ajak Ayara pula karena Chiko masih mematung di tempatnya.


Chiko mengangguk kemudian berjalan beriringan menuju dimana mobilnya terparkir.


“Kenapa tidak saat pulang kerja saja? Kenapa harus bolos?” tanya Ayara tak habis pikir dengan tingkah laku temannya ini.


Chiko hanya cengengesan saja. Tidak mungkin kan dia mengatakan alasan yang sebenarnya kalau dia ingin menjebak Raka?. Cari mati namanya.


“Kamu itu sudah waktunya serius Ko. Bukannya seperti ini terus. Tidak dewasa-dewasa. Mbak Astrid lho sampai kesal begitu sama kamu” ucap Ayara memperingatkan.


“Iya..iya.. Aku akan berubah” ucap Chiko berjanji.


Ayara hanya geleng-geleng kepala. Usia memang tidak bisa menjamin kedewasaan seseorang. Buktinya Chiko yang lebih dewasa darinya malah kekanak-kanakan seperti ini. 


Sangat berbeda dengan Raka. Raka lagi.. Raka lagi… ucap Ayara dalam hati.


Bersambung...