
"Kamu pilih siapa nak? Ibu atau Ayah?" tanya Novi sambil terus berusaha melepaskan Azka dari gendongan Alam.
Hick..
Azka begitu kebingungan. Bukannya memilih antara Ayah dan Ibunya, dia malah memanggil-manggil Mamanya.
"Mama...Mama..." rengek Azka sambil meraih tangan Ayara.
Ayara dengan cepat mengambil Azka dari gendongan Alam.
Deg.
Ini adalah patah hati terdalam yang Novi rasakan. Ditolak anak kandung sendiri yang sembilan bulan dia kandung. Dia besarkan dengan kasih sayang dan kini menolaknya.
Air mata Novi sudah jatuh bercucuran. Apalagi melihat Azka yang begitu erat memeluk Ayara seolah Ayaralah Ibu kandungnya. Hati Ibu mana yang tidak sedih melihat anaknya lebih dekat dengan orang lain?.
Raka merangkul Ayara dengan satu tangannya, sedangkan tangan satunya masih menggendong Amina. Dia menjaga istrinya agar Novi tidak bisa berbuat macam-macam.
Saat itulah Ibu sebagai yang paling tua mendekati Novi.
"Kenapa harus seperti ini Nov? Bukankah dari awal kamu yang menyerahkan anakmu pada Alam? Lalu kenapa tiba-tiba datang dan ingin merebut? Kenapa tidak datang baik-baik?" tuntut Ibu pada Novi.
Novi tidak berkata-kata. Awalnya memang dia ingin bebas, tapi ternyata kebebasan itu bukanlah yang dia cari.
Novi tidak menjawab pertanyaan Ibu, yang dia lakukan hanya menangis.
Tetangga Novi yang kebetulan ada di pantai yang sama dan mengamati dari jauh langsung mendekat. Dia mengajak Novi untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Tetangga Novi yang berusia kurang lebih 50 tahunan itu cukup tau masalah yang Novi hadapi.
Setelah Novi dibawa pergi oleh tetangganya, Ibu kemudian menuntun Alam yang nampak masih emosi menuju mobil mereka disusul Raka dan juga Ayara.
Azka masih menangis dipelukan Ayara. Amina yang sekarang dipangku Ibu juga ikut menangis. Dia juga ingin dipangku Ayara. Kedua bocah itu ingin dimanja mamanya.
"Amina sama nenek dulu ya? Mama kan lagi sama Kak Azka. Kak Azka masih sedih" ucap Ibu berusaha membujuk cucunya. Mereka sekeluarga sudah dalam perjalanan pulang.
Raka menyetir disebelahnya Alam. Dikursi penumpang ada Ayara dan Ibu.
"Sama Mama" rengek Amina yang tidak mau mendengar ucapan neneknya.
"Tidak apa-apa bu" ucap Ayara sambil mengambil Amina dari gendongan Ibu. Jadilah Ayara memangku kedua anaknya.
Alam beberapa kali menghela nafasnya kasar. Dia kesal sekali dengan mantan istrinya. Untung saja dia tidak tinggal di kampung lagi jadinya dia tidak perlu takut kalau Novi tiba-tiba datang.
Mereka tidak membahas lagi tentang Novi. Suasana sudah tidak baik dan membicarakan Novi akan menambah aura ketegangan.
Sesampainya dirumah, Kedua anak Alam sudah tertidur. Alam mengambil Azka dari pangkuan Ayara, sedangkan Ibu mengambil Amina dan mengajaknya ke kamar Alam.
"Bu... " panggil Alam saat Ibu hendak keluar dari kamarnya.
"Kita bicara diluar saja, nanti anak-anakmu bangun" ucap Ibu yang seolah bisa membaca apa yang anakanya ingin katakan.
Alam mengangguk dan menyusul Ibunya keluar dari kamar. Mereka kemudian duduk di ruang tamu bersama Raka juga. Ayara sendiri memilih di kamar karena mendadak mual-mual.
"Apa yang harus aku lakukan bu? Bagaimana kalau Novi nekad mengambil anak-anakku lagi?" tanya Alam dengan kecemasannya.
Ibu menepuk-nepuk pundak Alam.
"Bukannya sudah jelas hak asuh anak jatuh padamu? Jadi jangan khawatir. Tapi saran Ibu, bicaralah berdua dengannya. Tanyakan baik-baik kenapa dia melakulan ini? Bukankah perpisahan dan penyerahan hal asuh anak adalah keinginannya sendiri? Lalu kenapa sekarang berubah pikiran" ucap Ibu memenangkan putranya.
Alam sedikit lega. Kalau memang Novi ingin merebut hak asuh anak karena dia bekerja ke kapal pesiar, Alam rela untuk berhenti bekerja. Tidak ada yang lebih penting dari anak walau dia harus mencari pekerjaan disini.
Bersambung...