
Orang tua Novi membiarkan anak dan mantan menantunya untuk berbicara berdua menyelesaikan masalah mereka. Sebenarnya Maria sudah beberapa kali menegur putrinya. Dia mengetahui apa yang terjadi dari tetangga yang mengantar Novi pulang setelah kejadian saling memperebutkan anak tersebut dan tentu saja Maria marah besar pada putrinya. Novi sudah sangat bersalah karena menelantarkan anaknya sendiri, tapi setelah melihat anaknya menangis dalam penyesalan membuat maria pun tidak tega.
“Apa kabar Al?” tanya Novi memulai pembicaraan.
“Baik, kamu sendiri bagaimana?” jawab Alam basa basi.
“Aku tidak baik-baik saja” jawab Novi sambil menunduk.
“Aku sangat menyesal Al. Maafkan Aku. Aku sudah sangat jahat pada kalian” ucap Novi sambil terus menunduk. Dia sudah berkaca-kaca saat mengatakannya.
“Tidak bisakah kita kembali bersama?” ucap Novi sambil memandangi wajah Alam. Dia ingin Alam tau kalau dia sudah sangat menyesal.
Alam menggeleng dengan cepat.
“Kenapa?” tuntut Novi atas jawaban Alam.
“Apakah kamu sudah mempunyai kekasih?” lanjutnya.
Alam kembali menggeleng.
“Apa kamu masih belum bisa memaafkan aku?” ucap Novi pula.
“Aku sudah memaafkan kamu, tapi tidak bisa melupakan semua yang sudah kamu lakukan pada kami. Bukankah sudah cukup dengan Aku memaafkanmu?” jawab Alam dengan pertanyaan.
Novi kembali menangis.
“Tidak perlu ada yang disesali. Itu tidak akan bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Lebih baik kita fokus dengan kehidupan masing-masing. Kamu bisa datang kapan saja menemui kedua anak kita. Kamu juga boleh sesekali mengajaknya pergi asal mereka mau.” ucap Alam dengan sangat tenang. Dia memang sangat dewasa dan berbanding terbalik dengan Novi.
Novi menangis kembali. Hanya ada penyesalan yang meliputi hatinya saat ini. Pertemuan keduanya kali ini akhirnya bisa membuka hati dan pikiran Novi. Berulang kali dia meminta maaf pada Alam atas apa yang sudah dia lakukan selama ini. Penyesalan memang selalu datangnya belakangan.
….
Sama seperti Alam yang berbicara berdua dengan Novi untuk menyelesaikan masalah mereka. Raka dan Ayara pun demikian. Mereka berdua mendatangi studio Maysarah dan berbicara dari hati kehati disana.
Raka tidak ingin kesalahpahaman terus berlarut-larut terjadi diantara mereka hingga setelah mengatur jadwal pertemuan dengan Maysarah akhirnya hari ini mereka bisa bertemu.
May sangat senang ketika manajernya mengatakan kalau Raka ingin bertemu, Dia tidak menyangka kalau Raka malah mengajak istrinya ikut bersama.
Senyum May yang awalnya secerah mentari langsung berubah mendung ketika melihat Raka menggandeng tangan istrinya. Walau terkesan sederhana tapi tidak bisa dipungkiri kalau Ayara begitu cantik.
“Silahkan duduk” ucap Maysarah mempersikahkan kedua tamunya untuk duduk.
Raka menarikkan kursi untuk istrinya baru setelahnya menarik kursi untuk dirinya sendiri. Melihat bagaimana perhatiannya Raka pada istrinya membuat Maysarah begitu mendidih. Apalagi setelah mengetahui tujuan kedua orang ini datang berkunjung. Harga diri Maysarah rasanya diinjak-injak. Tidak ada yang pernah menolaknya seperti apa yang Raka lakukan saat ini.
“Kalian tenang saja, maksud aku mengirim pesan itu bukan tentang urusan pribadi kok. Itu murni tentang pekerjaan. Aku sangat merindukan kembali kerjasama seperti yang dulu pernah kita lakukan. Dan mengenai mengungkapkan perasaan itu maksudku adalah perasaan senang antara partner kerja. Tidak mungkinlah Aku ada maksud lain. Apalagi Mas Raka sudah memiliki istri kan?” ucap Maysarah sambil tersenyum sangat manis walau dalam hati dia sangat geram saat ini.
Ayara sejujurnya tidak percaya dengan apa yang Maysarah ucapkan. Tapi dia tidak ingin memperpanjang masalah. Cukuplah sampai disini saja, yang terpenting Raka tidak akan berpaling pada wanita lain walau itu Maysarah sekalipun.
Bersambung…