
Ayara dan Raka sudah kembali berbaring di ranjang mereka. Ayara masih merasakan pusing tapi di tempat kerjanya ini dia tidak bisa segampang dulu dalam mencari ijin.
"Ke dokter aja yuk? Biar kamu bisa istirahat hari ini"pinta Raka pada istrinya.
Bila ada surat keterangan sakit maka ijin Ayara baru bisa keluar.
"Kita ke klinik 24 jam" ucap Raka kembali mendesak istrinya.
Ayara yang memang begitu pusing dan mual menuruti saja ucapan suaminya. Saat itu juga mereka langsung menuju klinik yang memang buka 24 jam tak jauh dari rumah mereka.
10 Menit saja mereka sudah sampai di klinik tersebut.
Ayara mulai melakukan pemeriksaan.
"Perutnya sedikit kembung" ucap dokter tersebut. Dokter jaga yang usianya terbilang muda.
"Kapan terakhir datang bulan?" tanya dokter tersebut pula.
Ayara meminta Raka mengambil ponselnya dan mengecek di aplikasi kapan terakhir kali dia datang bulan.
Sudah 19 hari ternyata dia terlambat datang bulan.
Untuk sementara dokter belum bisa memastikan apakah Ayara hamil atau tidak. Dokter menyarankan untuk datang lagi nanti jam 9 untuk pemeriksaan dengan dokter kandungan. Dokter juga menyarankan Ayara untuk menggunakan test pack terlebih dahulu.
Tangan Ayara bergetar hebat, dia baru saja selesai menggunakan pregnancy test miliknya.
"Gimana hasilnya sayang?" tanya Raka penasaran.
Ayara langsung menunjukkan testpack miliknya. Telihat dua garis merah dengan begitu jelasnya.
"Kamu hamil?" tanya Raka tidak percaya.
Ayara pun menganggukkan kepalanya. Akhirnya setelah hampir 5 tahun mengarungi mahligai rumah tangga, Tuhan memberikan kepercayaan pada Ayara untuk menjadi seorang Ibu.
Ciuman bertubi Raka berikan pada istrinya, tak bisa diungkapka dengan kata-kata bagaimana bahagianya Raka saat ini. Dia yang tidak terlalu berharap dan hanya bisa pasrah kini buah kesabarannya bisa dia rasakan.
"Terima kasih ya Tuhan..." Tak henti-hentinya Raka berucap syukur atas anugrah yang sudah Tuhan berikan.
...
Raka dan Ayara sudah pulang dari pemeriksaan dengan dokter kandungan. Usia kandungan Ayara sudah memasuki minggu ke 7. Ayara sebenarnya sudah dari sejak lama merasa sedikit kembung tapi dia tidak pernah menyangka kalau rasa mualnya selama ini adalah karena dia sedang mengandung.
Saat menginjakkan kaki di rumah, tangisan Amina yang sudah begitu kencang terdengar. Ayara sedikit berlari mendekati putrinya.
"Sayang...jangan lari-lari" tegur Raka pada sang istri. Karena panik dia sampai lupa kalau saat ini sedang mengandung. Ayara terpaksa memelankan langkahnya.
Semakin dekat dengan Amina suara tangisannya semakin kencang. Di ruang tamu, Alam dan Ibu terlihat menenangkan Amina.
"Amina sayang, sini sama Mama" ucap Ayara sambil mengambil Amina dari gendongan Ibu.
"Ma ma" ucap Amina dengan sesenggukan. Rupanya Amina merindukan Mamanya alias Ayara.
"Amina kenapa nangis?" tanya Ayara sambil menepuk-nepuk punggung Amina pelan.
"Mau Ma ma" jawab Amina dengan ciri khas anak berusia 15 bulan.
"Maaf ya nak, tadi Mama ada urusan sama Papa" ucap Ayara menjelaskan.
Melihat interaksi Ayara dan anaknya membuat Alam terharu. Alam begitu berterima kasih karena Ayara mau menganggap Amina layaknya anak sendiri.
Tak berapa lama Amina pun tertidur di gendongan Ayara.
Raka mengambil Amina yang sudah tertidur dari istrinya. Raka tidak ingin Ayara terlalu lelah nantinya.
Bersambung...