If You Leave My World

If You Leave My World
Ibu



Raka sudah tiba dirumah Ibunya di kampung tepat pukul sepuluh waktu setempat. Dia sudah membeli hadiah untuk keponakannya yang sudah lahir beberapa hari yang lalu. Bayi perempuan yang begitu mirip dengan Alam adik semata wayang Raka.


Setiba di rumah, Raka sudah langsung mencium punggung tangan Ibunya.


"Aya mana nak?" tanya sang Ibu sambil mencari-cari keberadaan menantunya.


"Nanti Aku cerita ya Bu. Aku mau nengok si kecil dulu" jawab Raka yang saat itu juga mencari keberadaa Alam.


Melihat kedatangan Kakaknya langsung saja Alam mencium punggung tangan Kakaknya. Alam kemudian mengajak bayi mungilnya menemui Raka di sofa yang ada di depan kamar Alam.


"Sama Om Raka dulu nak" ucap Alam sambil menyerahkan bayi itu pada Raka.


"Cantiknya. Mirip sekali dengan mu Lam" ucap Raka sambil menggenggam tangan bayi mungil itu.


"Ayo kak Raka sama Kak Aya segera biar punya baby cantik seperti Amina" ucap Novi yang baru keluar dari kamarnya.


Raka hanya tersenyum tipis saja tidak berniat meladeni ucapan Novi. Sedangkan Alam langsung mendelik pada istrinya. Novi memang suka sekali mencari gara-gara.


Setelah cukup puas bermain-main dengan Baby Amina, Raka kemudian masuk ke kamar Ibunya. Disana dia langsung bersimpuh di kaki Ibu dan menangis.


"Kenapa kamu nak? Apa ada masalah? Kamu terlihat sangat kurus" ucap Ibunya khawatir.


"Kami akan bercerai bu" jawab Raka yang sudah terisak saat ini.


"Kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Ibu terkejut. Ibu sangat mengenal sifat putranya dan Ibu yakin juga keduanya saling mencintai.


"Aku memiliki masalah bu sehingga sulit untuk punya anak" jawab Raka memulai ceritanya.


"Ibu tidak yakin Aya meminta cerai karena itu" ucap Ibu menimpali.


Raka kemudian menceritakan semua yang terjadi pada Ibunya tanpa ada yang dia tutupi sama sekali.


Mendengar cerita anaknya membuat Ibu menangis tersedu-sedu.


"Raka...Apa pernah Ibu mengajari kamu berbuat seperti itu pada perempuan? Kenapa kamu begitu tega pada Aya?" ucap Ibu mengungkapkan rasa kecewanya.


"Aku hanya ingin Ayara bahagia bu" jawab Raka.


"Bukan begini caranya nak. Sebagai suami istri kalian harus terbuka. Apa kamu pikir dengan cara seperti ini Aya bahagia? Tidak nak. Dia akan merasa dikhianati, merasa kalau dia tidak layak dicintai. Coba seandainya Aya yang melakukan ini padamu? Apa yang kamu rasakan? Sebelum terlambat, cepat minta maaf sama istrimu atau kamu akan menyesal seumur hidup. Ibu kecewa sama kamu Raka" ucap Ibu dengan kembali terisak.


"Tapi bu, Aya bilang ingin sekali menjadi seorang Ibu. Aku tidak ingin menghancurkan mimpinya" ucap Raka.


Ibu menggeleng.


"Mempunyai anak bukan tujuan pernikahan. Kalian bisa mengadopsi bila menginginkan anak. Kemana Raka yang ibu kenal? Kenapa kamu sekarang seperti ini" ucap Ibu yang begitu kecewa.


"Ibu tidak mau tau, cepat minta maaf pada Aya."


Raka terdiam tidak bisa berkata-kata.


"Ketika nanti kalian sudah berpisah dan Ayara menemukan pria yang lebih segala-galanya dari kamu, saat itu kamu akan menyesal seumur hidupmu" lanjut sang Ibu.


Jangankan nanti, sekarang saja rasanya Raka sudah sangat menyesal.


"Suami istri itu harus saling terbuka, saling menguatkan, saling memahami. Bahagia bukan hanya karena anak. Ingat itu Raka" ucap Ibu yang terlihat sekali begitu kecewa dengan putranya.


Bersambung...