
Chiko terlihat menarik dan mengeluarkan nafasnya dengan cepat. Dia seperti orang yang sangat emosi.
Saat itu juga Astrid masuk ke ruang pemberkasan. Dia memperhatikan kedua raut wajah rekan kerjanya yang terlihat tidak baik-baik saja.
Hem.
Astrid sengaja berdehem agar perhatian orang-orang itu teralihkan padanya.
"Sudah ketemu?" tanya Astrid dengan tersenyum manis. Dia pura-pura tidak menyadari kalau kedua orang di depannya sedang bersitegang.
"Sudah mbak" jawab Ayara sambil menyerahkan beberapa dokumen pada Astrid.
"Ayo kita ke ruang meeting" ajak Astrid sambil merangkul pundak Ayara keluar dari ruangan berkas.
Chiko menghela nafas berat. Cepat atau lambat Ayara memang pasti akan tau semuanya. Tapi jujur saat ini Chiko belum siap bila Ayara marah padanya.
Hampir sepuluh menit Chiko membeku ditempatnya hingga suara teriakan Cindy yang menyuruh Chiko masuk ke ruang meeting menghentikan lamunannya.
Dengan langkah gontai Chiko pun menyusul ke ruangam meeting yang sudah berisi penuh seluruh keryawan kecuali dirinya.
Selama meeting Chiko tidak konsen sama sekali. Pikirannya melayang jauh memikirkan jawaban apa yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan Ayara.
2 Jam kemudian meetingpun berakhir.
Kini Ayara dan Chiko berbicara berdua di cafe yang berada tepat diseberang kantor mereka.
"Aku memang sudah tau kalau Raka memiliki masalah dengan kesehatannya" aku Chiko jujur.
"Kamu tau dari siapa?" tanya Ayara semakin penasaran.
"Aku tau dari Raka sendiri" jawab Chiko kembali jujur.
"Sejak kapan?" tamya Ayara pula.
"Sejak awal" jawab Chiko cepat.
Ayara membelalakkan mata tidak percaya.
"Lalu kenapa kamu tidak pernah memberitahukan Aku Ko? Kenapa kamu diam?" tanya Ayara yang tidak menutupi rasa kecewanya.
"Itu karena Raka sendiri yang meminta begitu" ucap Chiko berbohong.
"Berarti kamu sama saja dengan mbak Cindy" ucap Ayara yang kecewa teman-teman baiknya menutupi fakta darinya.
"Tentu kami berbeda. Cindy melakukan itu karena uang tapi Aku melakukan itu karena mencintaimu. Aku ingin menjagamu" ucap Chiko sejujurnya.
Hah?
Ayara lagi-lagi membelalakkan mata tidak percaya mendengar penjelasan Chiko.
"Kamu gila ya kok?" tanya Ayara karena dia sangat terkejut.
"Apa mencintai seseorang itu gila namanya?" jawab Chiko dengan pertanyaan.
"Tentu saja karena aku wanita bersuami" jawab Ayara tegas.
"Kalau cinta bisa memilih Aku pun tidak mau mencintaimu. Kamu pikir Aku tidak sakit hati mencintai wanita yang begitu mencintai suaminya?" ucap Chiko dengan bibir bergetar.
"Selama bertahun-tahun aku berusaha menutupi perasaanku. Berulang kali aku berusaha untuk menghapus nama kamu dari hati aku tapi aku tidak bisa" lanjutnya.
Ayara terdiam. Jujur dia tidak bisa membalas kata-kata Chiko.
"Bagaimana mereka bisa menolak kalau aku sama sekali tidak pernah membawa calon kepada orang tuaku?".
"Tidak ada yang bisa membuat dadaku berdetak kencang seperti saat aku bersamamu".
"Tidak ada yang membuat aku nyaman ketika aku di dekatmu".
"Tidak ada yang membuatku bersemu merah selain dirimu".
"Aku tau kalau sampai kapanpun kamu tidak akan mencintaiku. Tapi ijinkan aku tetap mencintaimu Ra..." ucap Chiko mengungkapkan semua isi hatinya.
Ayara kembali menggeleng.
"Tidak boleh Chiko. Kamu harus membuka hati kamu untuk orang lain. Aku yakin kamu hanya penasaran padaku karena kamu tidak bisa menjadi milikmu. Tapi percayalah kalau kamu membuka hati untuk orang lain kamu bisa mencintainya. Kamu adalah pria hebat, jangan pernah berpikir kalau aku tidak memilihmu karena kamu jauh dibawah Raka. Jangan biarkan ego membuatmu menutup pintu hati untuk orang lain. Kamu harus menghapus Aku dari hati dan pikiran kamu. Aku yakin kamu bisa Chiko" ucap Ayara panjang lebar.
Kini Chiko yang menggeleng.
"Tidak Ra.. Ini bukan ego karena aku tidak bisa memilikimu tapi Aku memang tidak bisa menghapus namamu dari pikiranku" balas Chiko.
"Kamu pasti bisa kalau kamu mencoba. Banyak alasan yang bisa kamu gunakan untuk melupakanku. Lupakan aku Chiko" ucap Ayara dengan penuh penekanan. Ayara tidak ingin Chiko terus-terusan terkubang dengan perasaan yang tidak seharusnya.
"Aku akan berusaha. Tapi bolehkah aku meminta sesuatu?" ucap Chiko akhirnya.
"Apa itu?" tanya Ayara yang tidak mau langsung menjawab iya. Dia harus tau dulu apa permintaan Chiko.
"Aku ingin jangan membenciku seperti apa yang kamu lakukan pada Cindy" ucap Chiko dengqn tatapan memohon.
"Kalau kamu masih mau berteman denganku maka pelan-pelan Aku akan berusaha untuk membuka hati pada wanita lain" jawab Chiko sungguh-sungguh.
"Jangan buat aku semakin tertekan Ra.. Aku tidak bisa mendapat dua penolakan sekaligus. Penolakan cinta dan pertemanan sekaligus. Setidaknya kalau kamu tidak bisa menerima cintaku tetaplah menjadi temanku seperti dulu. Aku ingin kita bertiga kembali hangat seperti sedia kala".
"Kalau kamu bisa berjanji tentang itu maka aku bersedia untuk menghapus nama kamu dari hati dan pikiranku" mohon Chiko.
Ayara pun menganggukkan kepalanya.
Sudah cukup selama ini persahabatan mereka hancur karena kemarahan Ayara pada Cindy. Ayara ingin mereka bertiga kembali bersahabat walau tentu Ayara akan menjaga jarak dengan Chiko. Walau mereka berteman seperti biasa tapi Ayara tidak ingin memberi harapan kalau cintanya akan terbalas. Hubungan mereka hanya sebatas pertemanan saja.
"Terima kasih Ra.. Aku lega sudah bisa mengungkapkan perasaan yang beberapa tahun ini aku pendam." ucap Chiko sambil menundukkan kepalanya.
Bohong bila dia tidak patah hati tapi Chiko sadar cintanya pada Ayara memang salah. Dia tidak boleh mencintai istri orang lain.
Bagaimana jika suatu saat nanti istri Chiko sendiri dicintai seseorang seperti dia mencintai istri orang lain? Tentu saja itu akan sangat menyakitkan. Chiko paham bagaimana perasaan Raka yang tentu merasa tidak baik-baik saja menemukan fakta kalau istrinya berteman baik dengan seseorang yang jelas-jelas mengakui dengan lantang kalau mencintai istri orang tersebut.
"Tapi kamu harus janji membuka hati untuk orang lain. Atau setidaknya berusahalah menerima perjodohanmu Ko. Aku yakin orang tuamu sudah memilihkan pasangan yang tepat untukmu" ucap Ayara.
Chiko menganggukkan kepala.
Dia akan berusaha membuka hati untuk wanita lain tapi tidak dengan calon yang dipilihkan orang tuanya. Dia tidak mungkin menikah dengan wanita itu karena Chiko tidak mungkin bisa menerima masa lalu wanita itu.
Wanita pilihan orang tuanya adalah seorang dokter. Orangnya cantik, baik dan tentu saja pintar. Namanya Kayla. Nama yang cantik seperti orangnya
Tapi Kayla pernah hamil dengan sepupu Chiko sendiri. Itulah kenapa dia tidak bisa menerima perjodohan itu.
Dia tidak siap bila ada kumpul keluarga dan Kayla serta sepupunya akan kembali mengingat masa lalu. Walau sepupu Chiko sendiri sekarang sudah menikah dengan wanita lain.
Bukan Chiko tidak bisa menerima Kayla apa adanya, Hanya saja Chiko tidak bisa menerimanya karena pria yang pernah menghamili Kayla adalah sepupunya sendiri. Andai orang lain maka Chiko pasti menerima perjodohan itu.
Bersambung...