If You Leave My World

If You Leave My World
Bimbang



Amina terbangun di tengah malam dan menangis cukup kencang. Alam sudah membuatkan susu dan berusah menidurkan anaknya kembali tapi tidak bisa.


Ayara dan Raka yang mendengar suara tangisan anak mereka pun mengetuk pintu Alam.


Saat membukakan pintu Alam terlihat sedang menggendong Amina.


"Mama...Mama...Mama" Amina mengguncang tubuhnya ketika melihat Ayara di depan pintu.


Dengan setengah hati Alam pun terpaksa memberikan putrinya pada Kakak iparnya.


Alam semakin galau untuk kembali ke kapal pesiar. Bila dia bekerja ke luar negeri lagi dia harus siap bila anaknya semakin jauh dengannya.


Amina yang awalnya menagis langsung anteng saat berada dalam gendongan Ayara. Raut wajah Alam menyiratkan kesedihan dan Raka sangat memahaminya.


Baik istri maupun adiknya sama-sama menyayangi balita tersebut.


...


Pagi menyapa, Ayara senang sekali karena bisa tidur sambil memeluk bayi mungilnya kembali, tapi Ayara sadar dia tidak boleh egois karena biar bagaimanapun Alam adalah Ayah kandung dari Amina.


Raka sang suami masih tertidur dengan lelapnya saat ini.


Ayara mencium puncak kepala Aminya lalu bangkit dari tidurnya. Dia letakkan bantal disebelah anaknya berjaga-jaga bila Amina tidurnya gelisah.


Seperti biasa pagi-pagi sebelum berangkat kerja Ayara akan membuat sarapan ditemani Ibu. Saat sampai di dapur Ibu terlihat belum ada disana.


Ayara membuka lemari pendingin dan mengeluarkan bahan-bahan makanan yang akan dia masak hari ini.


Ayara akan membuat telur balado, bihun goreng dan Ayam ungkep yang sudah dibuat kemarin dan tinggal di goreng saja. Tidak lupa Ayara membuat sambal tomat sebagai teman ayam gorengnya.


Untuk Azka dan Amina Ayara sudah menyiapkan nuget dan bakso yang dia buat sendiri dan di stock sebagai frozen food. Untuk sayurnya Ayara akan membuatkan sup wortel dan kentang yang ditaburi bawang goreng yang banyak.


Raka sudah siap dengan seragam berwarna coklatnya dengan Amina di gendongannya. Amina terlihat baru saja terbangun.


Ayara menghadiahi ciuman di pipi Amina kemudian dia bergegas untuk mandi dan bersiap ke hotel.


...


Alam dan Raka kini sedang duduk di ruang tamu. Hari sudah menunjukkan pukul lima sore dan sebentar lagi Ayara pulang dari bekerja.


"Kenapa Lam?" tanya Raka yang bisa melihat jelas raut wajah gelisah Alam.


Alam terlihat menghela nafas berkali-kali.


"Aku sebenarnya bingung kak" jawab Alam memulai ceritanya.


"Kenapa? Kamu bisa cerita sama kakak" ucap Raka sambil menepuk pundak adiknya.


"Aku bingung akan kembali ke kapal pesiar atau tidak. Kakak lihat sendiri anakku tidak begitu dekat denganku. Aku tidak ingin gara-gara Aku mengejar karir aku sampai kehilangan momen bersama kedua anakku. Tapi kalau Aku bekerja disini tentu saja penghasilanku tidak bisa sebanyak di kapal pesiar." Aku Alam sejujurnya.


Raka pun memahami apa yang Alam rasakan.


"Aku merasa sedih ketika Amina tidak mau bersama denganku dan lebih nyaman berada disisi Kak Aya. Aku merasa gagal menjadi seorang Ayah" lanjutnya.


Raka pun mengangguk paham. Dia mengerti bagaimana perasaan adiknya. Bila dibalik posisinya mungkin Raka juga akan merasakan hal yang sama.


Ayara yang baru saja sampai dirumah mendengar curhatan adik iparnya. Ayara merasa bersalah karena sudah egois dengan menganbil Amina dari gendongan Alam kemarin padahal Alam masih sangat merindukan anaknya.


Bersambung...