If You Leave My World

If You Leave My World
Pengakuan



Hari demi hari berlalu, kini sudah hampir tiga bulan Ayara tinggal di desa. Dia juga sudah mulai nyaman dengan pekerjaannya yang baru. Walau memang sedikit lebih hectic dari ditempat yang lama tapi Ayara cukup menyukainya. Kalau dulu jam kerja Ayara lebih flexible, ditempat yang baru ini jam kerja Ayara lebih banyak. Dia bekerja dari senin sampai dengan sabtu. Hanya saja hari sabtu kerjanya hanya sampai jam dua belas siang saja.


Hari ini sabtu, Ayara kerja hanya setengah hari. Dia dan Raka akan pulang kampung sorenya dan menginap sehari. Jujur Ayara masih trauma untuk pulang ke rumah mertuanya tapi tidak ada yang bisa dia lakukan karena saudara ada yang menikah besok dan tidak mungkin mereka tidak datang.


Ayara terlihat memasukkan beberapa baju ke dalam koper kecil miliknya. Walau cuma sehari tapi cukup banyak barang yang Ayara bawa mulai dari catokan, makeup dam pernak pernik rambut untuk menghadiri pernikahan saudaranya besok.


"Sudah siap?" tanya Raka menghampiri istrinya. Raka memang selalu tampan padahal penampilannya sangat sederhana. Hanya kaos dan jeans. Tapi memang dasarnya tampan apa saja yang dia pakai selalu saja menawan.


"Sudah" jawab Ayara sambil menarik kopernya.


Raka kemudian mengambil alih koper tersebut dan tangan yang tidak terpakai dia gunakan untuk merangkul sang istri.


Satu jam perjalanan mereka akhirnya tiba di kediaman Ibu.


Seperti biasa, Ibu menyambut mereka berdua di depan pintu.


"Ayo makan dulu. Ibu masak udang saos padang kesukaan Ayara" ucap Ibu sambil merangkul pundak menantunya memasuki rumah. Melihat kedekatan antara mertua dan iparnya kembali membuat Novi merasa iri.


Mereka sekeluarga kemudian makan bersama di meja makan. Ada Alam dan putranya juga. Kecuali Novi yang baru saja memasuki kamar karena putrinya sudah mengantuk.


Mereka makan siang menuju sore dengan sesekali mengobrol santai. Kini Alam sudah memangkas rambutnya. Tapi walau begitu style rambut keduanya sangat jauh berbeda. Semoga nanti Novi tidak mempunyai niatan untuk memeluk Raka dengan alasan salah mengira lagi. Ayara sangat tidak percaya dengan itu.


Sekitar jam tujuh malam, Raka duduk di teras rumahnya seorang diri. Ayara dan Ibu sedang ke rumah tetangga karena ada urusan sedikit. Sedangkan Alam dan kekuarga kecilnya sudah memasuki kamar. Saat ini Raka sedang menyeruput kopi panasnya sambil melihat pemandangan yang masih sangat asri tersebut.


Saat itu juga Novi datang dan duduk disebelah Raka. Reflek Raka menjauhkan tubuhnya.


"Aku ingin nemenin Kak Raka" jawab Novi diluar dugaan.


"Hah?" tanya Raka saking terkejutnya.


"Aku serius Kak. Aku mau nememin Kakak disini" jawab Novi dengan tersenyum.


Dasar gila! Batin Raka kesal.


"Kamu stress ya Nov? Atau otakmu geser? Temani anak dan suamimu sana" ucap Raka sambil menunjuk pintu dentan tangannya.


"Iya, Aku memang stress Kak. Karena Aku menyukai Kakak iparku sendiri" jawab Novi mengungkapan perasannya.


"Gila kamu Nov !!!" pekik Raka cukup kencang.


"Iya Aku memang gila. Aku sangat gila." sahut Novi.


"Aku mencintai Kak Raka. Daripada Kak Raka bersama Kak Aya mending Kakak sama Aku. Aku bisa kasih keturunan buat Kakak" ucap Novi dengan tidak tau malunya.


"Pergi dari sini atau Aku akan adukan kamu sama Alam" bentak Raka keras.


Bersambung...