If You Leave My World

If You Leave My World
Kenapa?



Happy Reading ❤️


Astrid merasakan pusing dikepalanya setelah turun dari mobil karena Chiko mengemudikan mobilnya dengan begitu kencangnya. Dia jadi tidak bisa mengobrol dengan Ayara saking tegangnya. Mungkin memang Chiko sengaja melakukan itu. Dia tidak ingin mereka membicarakan tentang Raka lagi. Raka sudah memberikan dirinya kesempatan untuk mendekati Ayara, maka dia akan menggunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Chiko tidak akan membiarkan orang lain merusak kesempatan yang dia miliki. Bila Astrid bisa meracuni pikiran Ayara tentang keadaan Raka yang sakit mungkin Ayara akan mencari tau yang sebenarnya dan Chiko tidak ingin itu sampai terjadi. Dia tidak akan melepaskan Ayara sampai kapan pun.


“Breng sek memang si Chiko.” umpat Astrid kesal. Ayara menepuk-nepuk punggung Astrid karena Astrid terlihat ingin muntah.


“Lusa kita manajemen training ke villa X aku gak mau ngajak Chiko. Titik pokoknya. Aku bakalan usul sama si Boss” ucap Astrid bersungut-sungut.


Chiko cuek saja. Dia mendahului masuk ke dalam villa.


Melihat Astrid dan Chiko yang seperti anjing dan kucing  membuat Ayara sejenak melupakan tentang Raka yang dari tadi menghantui dirinya.


Saat istirahat makan siang. Diam-diam Ayara menonton video konten terbaru yang Raka buat. Dia sengaja tidak menyalakan suaranya agar Chiko dan Astrid tidak mengetahui apa yang dia tonton.


Ingin rasanya Ayara menangis. Walau dia sudah berusaha melupakan tentang Raka tapi tetap saja dia sangat merindukan pria yang masih menjadi suaminya itu. Raka terlihat sangat kurus. Benar kata Astrid kalau Raka seperti orang sakit.


Raka… Kamu sakit? Kamu sakit apa? Kenapa kamu bisa sakit?.


Tak terasa air mata Ayara menetes saat menonton video suaminya. Chiko yang menyadari itu lalu menyerahkan selembar tisu pada Ayara. Chiko tidak ingin Astrid tau kalau Ayara sedang menangis.


“Terima kasih” ucap Ayara dengan gerakan bibir tanpa bersuara. Dengan cepat dia menghapus air matanya agar Astrid dan orang-orang yang ada di restoran tidak melihat dirinya menangis.


Lagi Ayara menonton video yang Raka bagikan. 


Aku rindu Raka… Sangat Rindu… Apakah sedikitpun kamu tidak rindu padaku? Apa kamu lupa kalau kita masih suami istri?.


Huft.


Ayara menghela nafasnya berkali-kali. Rasanya sekarang dia benar-benar sesak.


“Makan” titah Chiko terdengar ketus.


“Kan sudah” jawab Astrid tak kalah ketus.


Ayara yang tau kalau perintah itu untuk dirinya kemudian meletakkan ponselnya dan kembali melanjutkan makannya.


Melihat Ayara sudah kembali makan membuat Chiko pun ikut melanjutkan makannya. Seharian bekerja di luar kota membuat Ayara cukup lelah. Saat memasuki rumahnya dia langsung merebahkan diri di sofa ruang tamu. Ayara kembali memutar video yang Raka buat.


“Tiga hari lagi aku ada manajemen training di villa X, lokasinya tidak jauh dengan tempat mengajar Raka yang baru. Sebaiknya Aku memang harus segera bertemu dengan Raka. Aku juga harus mengembalikan kunci rumah dan kartu atm milik Raka” guman Ayara pelan. Ayara tidak ingin lagi menggantung hubungan mereka. Sudah jelas baginya kalau Raka memilih wanita lain daripada dirinya jadi untuk apa dipertahankan?.


Ditempat yang berbeda, Raka saat ini juga sedang merebahkan diri di sofa ruang tamu yang ada di kontrakannya. Raka merasa hampa. Dulu bila pulang bekerja dia akan sangat semangat menunggu sang istri pulang bekerja. Tapi kini hanya kesepian yang menemaninya. Malam-malamnya sekarang hanya diisi dengan kesendirian. Tidak ada guling hidup yang bisa dia peluk. Raka sangat merindukan semuanya.


“Aku merindukanmu sayang… Sangat merindukanmu” guman Raka pelan. Raka kemudian memutar video Ayara bermain piano. Selama sebulan ini bila dia rindu dengan sang istri maka Raka akan mengulang-ulang memutar video istrinya.


Raka membuka akun sosial medianya yang dari tadi tidak berhenti berbunyi. Banyak notifikasi setelah dia absen selama sebulan.


Raka membaca salah satu komenan dari penggemarnya yang menanyakan apakah dia sakit.


"Apa sejelas itu ya terlihat?" Ucap Raka dalam hati.


Raka berdiri dan menuju cermin. Dia lihat pantulan dirinya di cermin. Bobot tubuhnya memang berkurang beberapa kilo.


"Ini karena aku sudah sebulan tidak makan enak. Masakan Ayara adalah makanan terenak yang pernah aku makan."


"Sayang... Aku sangat merindukanmu..."


...


"Sudah pas" ucap Ayara saat mencicipi masakam terakhirnya. Ayara kemudian menyiapkan semua makanan tersebut di atas meja.


"Sayang....makan dulu...." panggil Ayara.


"Sayang...." panggilnya sekali lagi.


Deg.


Deg.


Deg.


Ayara lupa kalau sekarang dia sudah tidak tinggal bersama Raka lagi. Tanpa sadar dia memasak makanan kesukaan Raka saat melihat tubuh Raka berubah kurus.


Ayara mendudukkan tubuhnya di kursi makan tersebut. Matanya sudah memburam.


Dia tutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis dengan hebatnya.


"Kenapa susah sekali melupakan kamu dari hidupku Raka? Hu...Hu...Hu...." Ayara menangis dengan tersedu-sedu. Dia telungkupkan wajahnya di meja makan dan lagi-lagi menangis.


"Lemah dasar lemah!" Ayara memaki dirinya sendiri. Hanya dengan melihat videonya saja sudah membuat Ayara sekacau ini. Ayara takut nanti kalau dia bertemu Raka dia akan kembali mempermalukan dirinya.


"Aku belum siap...Aku belum siap bertemu dia" ucap Ayara sambil tersedu-sedu.


"Bagaimana kalau saat bertemu dia malah mengajak kekasihnya? Akan seperti apa hancurnya aku? Hu...hu....".


"Aku tidak akan sanggup . Tak akan pernah sanggup".


Chiko yang baru saja masuk ke rumah Ayara seketika mematung melihat Ayara menangis seperti itu.


Ada bagian hatinya yang begitu terluka melihat Ayara bersedih sehingga inginnya dia memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi.


Tapi sisi lainnya ingin bersikap egois, dia ingin memiliki Ayara karena bila Chiko memberitahukan yang sebenarnya, Dia yakin Ayara akan kembali pada Raka.


Maaf Ra...Aku tidak bisa memberitahukanmu yang sebenarnya terjadi ... Aku ingin memilikimu. Maafkan aku Ra... Ucap Chiko dalam hati.


Chiko kemudian mendekati Ayara,


"Ra..kamu kenapa?" tanya Chiko sambil memegang kedua pundak Ayara. Mendengar suara Chiko saat itu juga Ayara mengangkat wajahnya dari meja.


Bersusah payah dia menghentikan air matanya.


"Chiko..ada apa kamu kesini malam-malam?" tanya Ayara berusaha se normal mungkin.


"Aku hanya ingin numpang makan. Tapi Aku begitu terkejut melihatmu seperti ini. Kamu kenapa? Ingat Rala lagi?" tanya Chiko terdengar khawatir.


Ayara menganggukkan kepalanya.


"Aku ingin berbicara dengannya tapi Aku takut bertemu dia, aku takut menjadi orang bodoh bila bertemu dengannya. Aku juga belum siap bila dia mengenalkan kekasihnya padaku" Aku Ayara.


Chiko menghela nafas berat.


"Aku tau bagaimana cara yang terbaik" ucap Chiko terjeda.


Bersambung...