
Ayara terus mengguncang tubuh Deni dengan air mata yang sudah bercucuran.
"Dimana Raka Deni?" ucap Ayara nyaris tak terdengar karena isakannya begitu kencang
Deni mematung ditempatnya. Dia membiarkan Ayara terus mengguncang tubuhnya.
Hick
Hick
Hick
Isakan Ayara terdengar begitu pilu.
"Raka kenapa Den? Jawab! Dimana dia?" Ayara bahkan sedikit membentak.
Tangan Ayara yang sedang menggenggam erat pundak Deni ditarik seseorang ke dalam pelukan orang tersebut.
"Aku disini sayang" jawab Raka sambil mengelus punggung Ayara yang saat ini membeku ditempatnya.
"Operasinya berjalan lancar dan aku sudah bisa pulang" jawab Raka pula.
Setelah sekian detik terdiam kini Ayara kembali menangis. Dia sudah sangat sesenggukan.
"Kenapa kamu gak bilang kalau operasi hari ini?" tanya Ayara dengan tersedu-sedu.
"Maaf ya" jawab Raka setengah berbisik.
Dia semakin mengeratkan pelukannya pada sang istri dan mengucapkan kata maaf berulang kali karena Ayara terus saja menangis.
"Kita pulang ya? Pulang ke rumah kita" ucap Raka saat tangisan Ayara mulai reda.
Ayara pun menganggukkan kepalanya.
Jujur Ayara sebenarnya tidak bisa terlalu lama marah pada sang suami. Walau satu sisi dia masih ingin menguji Raka, tapi sisi lainnya terus mendesak untuk memaafkan sang suami.
Ya begitulah cinta, masih terus saja ada kata maaf atas kesalahan yang mungkin sulit dimaafkan.
"Terima kasih ya sayang kamu mau ikut pulang bersamaku" ucap Raka sambil memeluk erat tubuh Ayara. Saat ini mereka sudah berbaring diranjang yang dulu mereka gunakan untuk bergumul mesra.
Ayara menganggukkan kepalanya.
Berada di dekat Raka dan memeluk tubuhnya membuat Ayara semakin yakin kalau perpisahan mereka sangat berpengaruh pada sang suami. Raka tidak baik-baik saja. Tubuhnya terlihat lebih kurus dari biasanya.
"Kamu kenapa bisa sekurus ini?" tanya Ayara yang tidak bisa membendung air matanya.
"Makanan tidak enak dimulut semenjak kita tidak tinggal bersama" jawab Raka sambil mengusap pipi istrinya.
"Bisakah selanjutnya kamu berjanji padaku?" tuntut Ayara.
Raka pun menganggukkan kepalanya.
"Aku ingin kalau ada apa-apa kamu jujur sama Aku. Kita suami istri harus saling terbuka"ucap Ayara tegas. Dia tidak ingin Raka kembali melakukan hal bodoh dan merugikan mereka berdua.
"Iya maafkan Aku ya. Maafkan suamimu ini" ucap Raka lalu memberikan ciuman di kening istrinya cukup lama.
Mata Ayara sudah kembali memburam. Dia mengingat bagaimana hancurnya dirinya saat Raka pergi dari dunianya.
"Aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku sangat hancur saat kamu pergi dari hidupku"ucap Ayara sambil menehan laju air matanya tapi tetap saja tidak bisa. Ayara memang sangat cengeng setiap berurusan dengan Raka.
"Aku pun sama sayang. Kamu adalah duniaku dan ketika kamu tidak bersama denganmu maka duniaku pun menghilang" balas Raka.
Mereka saling berpandangan dalam waktu yang lama. Entah siapa yang memulai lebih dulu tau-tau saja lidah mereka sudah membelit satu sama lain. Mereka berciuman dengan begitu panas seolah mencurahkan rasa rindu yang sudah sekian lama mereka tahan.
Raka hampir menyentuh benda kenyal milik istrinya hingga dia tersadar kalau selama satu hingga dua minggu kedepan dia tidak boleh menyentuh istrinya. Jangankan berhubungan suami istri, untuk buang air saja dia harus berhati-hati.
Raka terpaksa menghentikan ciumannya. Wajahnya sudah memerah menahan hasrat.
Sabar Raka...Sabar... Ucap Raka dalam hati.
Bersambung...