
Raka baru saja keluar dari restoran dengan Maysarah mengikuti dari belakang.
"Mas Raka" panggil Maysarah sengaja memanggil Raka untuk menghentikan langkah Raka. Chiko mengabarkan kalau dia sudah berada di depan restoran.
Mendengar namanya dipanggil Raka pun membalik tubuhnya.
Chiko dan Ayara masih berada di dalam mobil karena baru saja sampai.
"Eh.. Itu bukannya Raka? Sama siapa ya dia?" ucap Chiko menunjuk Raka dengan ekor matanya. Reflek Ayara langsung melihat ke arah yang dimaksud oleh Chiko.
Deg.
Saat itu juga Ayara melihat Raka berpelukan dengan seorang wanita. Mata Ayara langsung memburam melihat adegan itu.
Chiko yang merasa rencananya berhasil kemudian melanjutkan rencana selanjutnya.
"Ya Tuhan.. Jadi itu selingkuhan Raka?" ucap Chiko berpura-pura terkejut.
Ayara tidak berani melihat ke arah Raka. Dia memalingkan wajahnya karena tidak kuat melihat pemandangan di depan sana.
Ternyata apa yang Deni ucapkan tidak benar. Kamu memang sudah tidak mencintaiku. Kamu memiliki wanita idaman lain. Aku tidak akan lagi menunda perpisahan kita. Kini aku sudah sangat yakin untuk berpisah.
"Ko, bisakah kita pergi dari sini?" ucap Ayara penuh mohon. Dia mengatupkan tangan di depan dada memohon dengan sangat pada Chiko agar mereka segera pergi dari sana.
Ayara sudah tidak bisa menahan air matanya. Hatinya sakit sekali saat ini. Berkali-kali lipat lebih sakit dari sebelumnya karena kini dia melihat sendiri Raka berpelukan dengan wanita lain.
Dalam hati Chiko sangat merasa bersalah pada Ayara, tapi Chiko ingin egois. Chiko ingin memiliki Ayara. Chiko tidak ingin bertepuk sebelah tangan lagi.
Tanpa berkata sepatah katapun Chiko meninggalkan tempat itu dengan dua perasaan. Perasaan senang karena rencananya berhasil serta perasaan sedih karena merasa bersalah pada wanita yang begitu dia cintai.
Dan yang sebenarnya terjadi pada Raka dan Maysarah adalah hanya kesalahpahaman.
Saat May menghampiri Raka, dia sengaja berpura-pura terpeleset hingga jatuh kepelukan Raka. Sesuatu yang basi untuk dilakukan tapi cukup berhasil. Padahal kejadian itu tidak berlangsung lama karena Raka segera menjauhkan tubuhnya. Tapi sayangnya Ayara tidak melihat adegan itu sampai selesai, dia sudah terlanjur salah paham dan juga sakit hati.
...
Kini, Ayara dan juga Chiko sedang duduk berdua di danau buatan. Tempat yang beberapa waktu lalu Chiko gunakan untuk meluapkan kekesalannya.
Ayara menangis sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
Sudah hampir tiga puluh menit Ayara menangis tapi tidak ada tanda-tanda kalau dia akan berhenti menangis.
Inginnya Chiko memberi pelukan untuk Ayara tapi dia harus bisa menahan keinginannya itu. Ayara pasti akan menjauhkan tubuhnya bila Chiko nekad memeluknya. Jadi yang bisa Chiko lakulan hanya menepuk-nepuk pundak Ayara.
"Gak apa-apa menangis. Menangis bukan berarti lemah tetapi menangis bisa jadi awal kamu untuk melupakan Raka dari hidupmu. Walau tidak bisa melupakan setidaknya kamu bisa mencari orang untuk menggantikan posisi Raka dihatimu" ucap Chiko berusaha menguatkan Ayara.
Ayara tidak bisa berkata-kata. Bahunya sudah naik turun pertanda dia sudah menangis dengan begitu hebatnya.
Maafkan Aku Ayara... Sungguh Aku sebenarnya tidak ingin membuatmu seperti ini, Aku terpaksa. Kalau Aku tidak melakukan ini maka Aku akan kehilanganmu dan Aku tidak mau itu terjadi. Ucap Chiko dalam hati.
Raka... Aku sudah ikhlas, Aku benar-benar sudah mantap untuk berpisah. Semoga kamy bahagia Raka. Ucap Ayara meyakinkan dirinya kalau dia harus bisa menghapus nama Raka dari hati dan pikirannya.
Bersambung...