
Baik Raka maupun Ayara merasa sangat aneh dengan sikap Novi. Mereka berdua sama-sama tidak mempercayai apa yang novi ucapkan tapi keduanya sama-sama berusaha menutup kejadian tersebut. Raka tidak ingin Alam kembali memarahi istrinya. Apalagi Ibu yang baru melahirkan cenderung sensitif. Raka hanya tidak ingin terjadi pertengkaran dalam rumah tangga adiknya.
Raka dan Ayara tidak jadi menginap sampai minggu. Hari sabtu sore mereka sudah kembali ke kota.
Kini keduanya sudah berbaring diranjang mereka.
"Sebenarnya sudah dari kemarin aku ingin mengatakan ini padamu" ucap Ayara tanpa melihat pada suaminya. Dia menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih bersih itu. Raka membalik tubuhnya menghadap sang istri.
"Mengatakan apa?" tanya Raka penasaran.
"Aku merasa Novi memang sengaja memelukmu" jawab Ayara masih tetap tidak melihat ke arah sang suami.
Raka merapatkan tubuhnya.
"Apa kamu tidak percaya padaku?" tanya Raka khawatir.
Ayara menggelengkan kepalanya.
"Bukan begitu, hanya saja aku merasa alasannya tidak masuk akal. Penampilanmu dengan Alam sangat jauh berbeda. Dari jarak jauh pun aku bisa membedakan mana kamu dan mana alam." jelas Ayara.
"Kita berpikir positif saja, semoga dia tidak sengaja melakukannya. Kalau sampai dia sengaja aku tidak tau lagi harus bicara apa. Kamu bisa bayangkan bagaimana hubunganku dengan Alam nantinya?".
"Alam tentu akan sangat kecewa. Iya kalau Alam mempercayaimu? Bagaiamana kalau dia berpikir kalau kamu yang merayu istrinya?" ucap Ayara berandai-andai.
"Ya Tuhan.. Aku tidak mungkin merayu ipar ku sendiri. Alam pasti tau bagaimana Kakaknya" ucap Raka membalas pertanyaan istrinya.
"Bagaimana kalau Ibu kita ajak tinggal bersama saja yank? Jadi kita tidak perlu sering-sering kesana" usul Ayara.
"Ibu juga pasti tidak mau meninggalkan rumah. Banyak kenangan Ibu dirumah itu" lanjutnya.
Ayara pun mengangguk paham. Hanya saja dia sangat takut kalau Novi kembali berbuat nekat. Ayara sangat yakin kalau Novi memang sengaja memeluk Raka. Alasan salah mengira menurut Ayara tidak masuk akal.
Semoga saja benar kalau Novi memang salah mengira. Tapi kenapa aku tidak bisa mempercayainya? Batin Ayara.
Diam-diam Raka pun kembali memikirkan apa yang istrinya ucapkan karena jujur dari awal Raka pun tidak percaya dengan apa yang Novi ucapkan.
Tapi kenapa? Apa alasan dia melakukan ini? Apa dia ingin aku dan Ayara berpisah? Atau apa? Jujur aku tidak tau jawabannya. Batin Raka pula.
"Dua hari lagi aku interview yank, semoga aku keterima ya" ucap Ayara memecahkan lamunan suaminya.
"Pasti..Aku yakin kamu pasti diterima. Pengalaman kamu sudah banyak." ucap Raka sambil mengelus rambut istrinya. Dia dekatkan wajahnya pada sang istri kemudian mencium pipi Ayara secara bertubi hingga Ayara kegelian dibuatnya.
"Aku tidak sabar kita kembali serumah" ucap Raka tepat dibibir sang istri.
"Ini kan kita sudah serumah" jawab Ayara sambil terkekeh.
"Iya tapi serumah hanya sabtu minggu" balas Raka ikut terkekeh.
Raka semakin mendekatkan wajahnya pada sang istri hingga bibir mereka sudah menyatu. Pelan-pelan Raka mencium istrinya penuh perasaan. Ayara pun melakukan hal yang sama. Dia membalas ciuman suaminya dengan penuh cinta. Lama mereka berciuman dan saling bertukar saliva hingga Raka terpaksa harus melepaskan ciumannya karena khawatir tidak akan bisa menahan has rat nya sendiri.
Bersambung...