
Ayara sedang duduk di sofa TV mereka dengan Raka tidur dipangkuannya. Udara begitu dingin karena hujan turun dengan derasnya diluar sana. Kesempatan itu Raka gunakan untuk memeluk perut datar istrinya sambil memberikan ciuman gemas disana.
"Besok aku harus kembali ke desa, aku belum bisa untuk meminta pengajuan pindah kesini dulu. Tapi aku tidak mau jauh-jauh dari kamu" ucap Raka sambil mengelus-elus pipi Ayara.
Ayara sendiri belum sempat memikirkan tentang itu. Kini dia pun diliputi perasaan galau.
"Gimana ya baiknya? Apa aku resign?" tanya Ayara pada sang suami.
Mata Raka berbinar mendengar Ayara mengatakan kata resign. Tapi dia juga tidak ingin egois. Ayara pasti tidak kan betah bila berdiam diri dirumah.
"Kamu gak apa-apa kalau resign?" tanya Raka memastikan.
"Mungkin aku akan nyari kerjaan di desa. Disana kan sudah seperti kota. Banyak industri juga. Siapa tau ada pekerjaan yang cocok buatku." jawab Ayara. Dia memang bersedia untuk resign tapi dia tidak mau berdiam diri di rumah. Mungkin nanti kalau Tuhan kasih kepercayaan untuk menjadi seorang Ibu, Ayara tidak akan berpikir panjang untuk menjadi Ibu rumah tangga.
Raka mengelus elus lagi pipi sang istri.
"Maaf ya lagi-lagi kamu yang berkorban" ucap Raka merasa bersalah.
Ayara menggeleng.
"Aku tidak berkorban apa-apa. Sebagai istri sudah seharusnya Aku ikut dimanapun suami ku tinggal asal masih memungkinkan. Berbeda kalau kamu kerja di kapal pesiar" ucap Ayara sambil terkekeh.
Raka pun ikut terkekeh. Dia kemudian kembali membenamkan wajahnya di perut sang istri.
"Oh iya, minggu depan kita ke kampung ya?Novi sudah melahirkan".
"Ibu juga sudah terus menanyakan tentangmu" lanjut Raka.
Tapi Ayara sudah tidak mempedulikan lagi tentang itu. Buatnya yang paling penting adalah selalu bersama Raka. Bila nanti ada anak diantara mereka berarti itu adalah anugrah dari Tuhan.
"Jangan memikirkan tentang omongan Novi lagi. Bilang saja dengan lantang kalau aku yang bermasalah supaya dia tidak ngomong sembarangan lagi." ucap Raka yang seolah paham apa yang dipikirkan istrinya.
"Kau gak mikirin itu kok" ucap Ayara menyangkal perkataan Raka.
"Bohong...Aku tau kamu memikirkan itu" ucap Raka yang tentu tidak percaya dengan ucapan sang istri.
Ayara mencubit gemas pipi Raka karena dia selalu bisa membaca pikirannya. Ayara kemudian membenamkan bibirnya di atas bibir sang suami kemudian memberikan ciuman yang begitu membabukkan.
...
Minggu sore, Raka sudah bersiap dengan barang bawaannya. Dia harus terbang ke desa karena besok sudah harus mengajar kembali. Raka tidak mengendarai mobilnya sendiri melainkan menyewa taxi online. Selama beberapa hari kedepan ini dia harus mengurangi aktifitas berat.
Raka mencium bibir istrinya dengan mesra tepat di depan rumah mereka. Untung saja driver taxi belum datang. Mereka saling bertukar saliva karena akan menjalani Long Distance Relationship selama lima hari ke depan.
Suara mobil berhenti di depan rumah menghentikan aktifitas mereka.
"Hati-hati sayang " ucap Ayara sambil memeluk kembali tubuh sang suami.
Raka membalas pelukan itu sambil mencium puncak kepala Ayara berulang kali.
"Kamu juga jaga diri di rumah. Aku pergi dulu ya" pamit Raka kemudian kembali menghadiahi ciuman singkat di bibir sang istri.
Bersambung...