If You Leave My World

If You Leave My World
Bertemu Raka



Happy Reading ❤️


.


.


Selesai makan siang, mereka bertiga kembali melanjutkan perjalanan menuju villa. Hari pertama mereka hanya perkenalan saja, besok acara manajemen training baru akan dimulai. Kesempatan itu digunakan Astrid untuk tidur, sedangkan Damar entah kemana. Ayara sendiri meminta ijin untuk keluar menggunakan mobil kantor.


Ayara mengemudikan mobilnya menuju desa dimana Raka tinggal. Jaraknya kurang lebih 30 menit dari villa X.


Hari sudah menjelang malam. Ayara tadi sudah mandi dan mengganti pakaiannya dengan yang lebih santai. Kaos , bawahan jeans dan sneaker. Penampilan yang sederhana. Rambutnya dikuncir dan dia mengenakan topi. Ayara mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang hingga dia sampai di desa tersebut.


Desa wisata yang bisa kita sebut dengan kota. Walau jauh dari pusat kota, tapi fasilitas yang ada di desa ini sangat lengkap. Mulai dari rumah sakit, Mall, Restoran, Sekolah dan lain-lain.


Ayara berhenti di sebuah taman. Taman yang tidak terlalu luas. Di taman itu ada air mancur kursi kursi besi serta yang menjadi ciri khas adalah pedagang kaki lima disepanjang parkiran.


Ayara membeli cilok serta air mineral untuk menemaninya merenung kali ini. Dia ingin memantapkan diri sebelum menghubungi Raka dan mengajak bertemu.


Ayara membuka tasnya dan mengeluarkan kunci rumah mereka dulu.


"Sebentar lagi kamu akan memiliki tuan rumah yang baru. Semoga istri Raka bisa merawatmu dengan baik" guman Ayara pelan.


Rumah itu berisikan kenangan manis selama 3 tahun dia dan Raka menikah. Kenangan yang akan selalu Ayara ingat seumur hidupnya. Walau begitu jadinya, Ayara tidak pernah menyesal mencintai Raka. Raka adalah suami yang baik dan pengertian. Sebelum kejadian ini Raka juga pria yang setia.


Huft.


Ayara menghela nafas panjang. Setelah dirasa dirinya sudah lebih baik. Ayara kemudian mengirim pesan pada Raka.


Bisakah kita bertemu? Aku sedang berada di taman. Tulisnya.


Ayara juga mengirimkan share lokasinya pada Raka.


Saat itu Raka dan Deni sahabatnya dari SMA kebetulan berada tidak jauh dari lokasi. Deni belum tau kalau Raka dan Ayara sudah tidak tinggal bersama. Deni mengira kalau Ayara juga tinggal disini. Tadi mereka janjian di toko buku membicarakan banyak hal. Deni sempat menanyakan tentang Ayara dan Raka menjawab kalau Ayara dirumah sedang ada pekerjaan hingga Deni percaya begitu saja.


"Den, aku harus pergi dulu. Besok kita ketemu lagi ya" ucap Raka mengakhiri pertemuan mereka. Setelah membaca pesan dari Ayara perasaan Raka tiba-tiba saja menjadi tidak enak. Dia merasa sangat cemas. Selain itu yang paling besar adalah rasa rindunya. Raka takut nanti akan reflek memeluk tubuh istrinya.


"Mau kemana buru-buru?"tanya Deni yang merasa aneh dengan gelagat Raka.


"Pulang. Udah ya. Aku balik dulu" ucap Raka dan bergegas pergi.


Deni yang merasa ada yang janggal pun mengikuti Raka dari belakang.


Deni semakin terheran saat Raka berhenti di salah satu taman. Terlihat jelas kalau Raka begitu gugup. Dia menarik dan membuang nafasnya berkali-kali.


Kenapa dia? Batin Deni.


Deni semakin terkejut ketika melihat Ayara duduk di salah satu kursi besi panjang yang ada di taman tersebut. Deni memilih bersembunyi dan mengamati dari jauh.


...


Setelah dirasa dirinya lumayan tenang. Raka mendekat pada Ayara.


"Aya..." panggil Raka pelan. Panggilan yanh sangat jarang Raka gunakan karena Raka lebih suka memanggil dengan sebutan sayang.


Ayara mendongakkan wajahnya karena saat ini Raka sedang berdiri di depannya.


Deg.


Deg.


Deg.


Melihat Raka secara langsung membuat Ayara menahan sesak di dadanya. Benar memang Raka terlihat tidak baik-baik saja.


"Baik" jawab Raka kemudian duduk di sebelah Ayara. Mereka mengambil jarak cukup jauh. Tidak seperti biasanya yang begitu menempel. Hal itu pun tak luput dari perhatian Deni.


"Kamu sendiri apa kabar?" tanya Raka. Tapi dia tidak berani menatap mata Ayara. Dia memilih menatap lurus ke depan.


"Aku juga baik" jawab Ayara.


"Syukurlah kalau begitu" ucap Raka pula.


Ayara pikir dirinya akan menangis dan meraung-raung dan menuntut penjelasan Raka. Tapi ternyata dirinya sudah bisa bersikap lebih dewasa. Dia bisa seolah-olah biasa-biasa saja padahal saat ini dia ingin menangis dan menuntut penjelasan.


Ayara membuka dompet dan mengeluarkan kartu ATM Raka yang selama ini dia bawa.


"Ini ATM sama kunci rumahmu. Aku kembalikan" ucap Ayara sambil tersenyum.


Raka menjauhkan tangannya.


"Tidak, Itu memang untuk mu Aya. Aku tidak mau menerimanya" tolak Raka tegas.


"Tidak bisa Raka. Sudah bukan hak ku untuk memiliki ini. Bukankah kita akan berpisah?" ucap Ayara.


Mendengar kata berpisah menyadarkan Raka kalau sebentar lagi dirinya dan Ayara akan berpisah.


"Maaf, Aku sangat sibuk mengurus kepindahanku. Hingga belum bisa mengurus perceraian kita" ucap Raka.


Tapi bukan itu alasan yang sebenarnya. Alasannya karena Aku belum siap berpisah darimu Sayang. Ucap Raka dalam hati.


"Tidak apa. Aku sudah mengurusnya. Segera pengacaraku akan mengirimkan surat gugatan itu padamu" ucap Ayara lagi-lagi tersenyum.


Hebat kamu Ayara...Kamu bisa berpura-pura tersenyum. Ucap Ayara dalam hati.


Deg.


Mendengar Ayara sudah mengurus perpisahan mereka membuat Raka seperti tertusuk pisau tajam. Sakit sekali rasanya.


Bukankah ini yang kamu inginkan? Kamu harus bisa menerima semua konsekuensi atas apa yang sudah kamu perbuat Raka.


Raka seperti memarahi dirinya sendiri dalam hati.


"Ah..Iya . Maafkan Aku karena belum sempat" ucap Raka pula.


Kedua orang itu sama-sama berperang dengan hatinya masing-masing. Bertahan untuk tidak sampai menangis.


"Tidak apa-apa" jawab Ayara masih mencoba tersenyum.


"Apa kamu bahagia Aya?" tanya Raka tiba-tiba.


Ayara pun berbohong dengan menganggukkan kepalanya


"Kamu sendiri?" Ayara balik bertanya.


"Asal kamu bahagia itu sudah cukup" jawab Raka sambil tersenyum tipis. Lebih tepat memaksakan sekali untuk tersenyum.


"Kalau begitu Aku balik dulu ya" ucap Raka tanpa melihat ke arah Ayara dan langsung pergi dari sana.


Raka sudah tidak kuat. Dia merasakan sesak di dadanya.


Tahan Raka..Jangan luapkan kesedihanmu sekarang. Ucap Raka menyemangati dirinya sendiri.


Bersambung...