
Selamat membaca ❤️
.
“Kamu?” tanya Raka terkejut
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Raka yang tidak bisa menutupi amarahnya.
Wajah Novi sudah pucat pasi mendengar bentakan Raka.
“Ma maaf Kak. Aku kira Alam” jawab Novi dengan terbata.
Raka menghentikan aktivitas mencuci piringnya. Raka mengeringkan tangannya dengan tisu dan berjalan mendekati istrinya yang masih diam mematung.
Dengan setengah berlari dia mendekati sang istri.
“Sayang… itu tidak seperti yang kamu pikirkan” ucap Raka sambil memegang kedua pundak istrinya.
Ayara masih membeku. Tepatnya bingung. Sungguh dia tidak menyangka kalau Novi akan memeluk suaminya seperti itu.
“Dia bilang salah mengira kalau aku ini Alam” ucap Raka kembali menjelaskan.
Ayara pandangi wajah suaminya. Raka memang terlihat sungguh-sungguh. Tapi bagaimana mungkin Novi bisa salah mengenali suaminya sendiri? Dari postur tubuh saja sudah berbeda. Rambut apa lagi. Alam memiliki rambut bergelombang dan sedikit lebih panjang. Kalau Raka rambutnya lurus dan tentu saja potongan rambut khas guru kebanyakan. Tidak mungkin Novi bisa salah mengenali suami sendiri kecuali dia memang sengaja melakukannya.
“Sayang….” Raka kembali membujuk sang istri. Baru saja dia berbaikan dengan Ayara dan Raka tidak ingin dia dan sang istri kembali memiliki jarak.
“Aku berani sumpah” ucap Raka pula.
Ayara pun menganggukkan kepala walau dia masih syok. Siapa coba yang tidak syok suaminya dipeluk adik ipar sendiri? Apalagi sekarang sedang jamannya seperti itu. Jangankan dengan ipar? Dengan mertua pun ada.
Raka merangkul istrinya dan mengajak keluar rumah untuk menghilangkan syok yang masih terlihat jelas di wajah Ayara. Dia pun turut serta mengajak sang keponakan.
….
Novi mengatur denyut jantungnya yang seperti menggila. Dia sangat ketakutan mendengar bentakan Raka.
Novi pun menggelengkan kepalanya.
“Tadi katanya mau makan? gak jadi?” tanya Alam terheran. Sebelum dia ke kamar mandi, Novi minta ijin Alam untuk menjaga anaknya sebentar karena dia ingin makan, tapi belum ada lima menit istrinya sudah kembali.
Novi menggelengkan kepala sekali lagi.
“Pengen makan Sop daging. Di dapur adanya masakan kesukaan Kaka Raka saja” jawab Novi beralasan.
“Ya sudah aku belikan dulu sop dagingnya ya” ucap Alam kemudian. Keinginan Ibu menyusui harus dituruti agar asinya keluar dengan lancar. Itulah prinsip yang Alam tanamkan selama ini.
Novi pun menganggukkan kepalanya.
Melihat itu Alam langsung mengambil kunci motor dan juga dompetnya. Dia akan membeli sop daging kesukaan Novi.
Saat di perjalanan, dia melihat Raka menggendong putranya dengan satu tangannya menggenggam tangan sang istri sedang berjalan-jalan di kebun mereka.
“Nak.. mau ikut sama Ayah?” tanya Alam menghampiri putranya.
Bocah itu pun memberontak di gendongan Raka ingin ikut dengan Ayahnya.
“Mau kemana?” tanya Raka pada adiknya.
“Novi minta dibelikan sop daging. Tadi katanya pengen makan itu” jawab Alam sambil mengambil anaknya dari gendongan Raka.
Dalam hati Raka bertanya-tanya.
Bukannya Ibu memasak sop daging tadi?
Raka pun memperhatikan penampilan adiknya yang jauh berbeda dengan dirinya. Alam lebih berisi walau tinggi mereka hampir sama. Kulit Alam juga jauh lebih gelap karena memang dia suka berpetualang dari dulu. Alam juga senang berselancar, tak heran kulitnya menjadi gelap. Tapi tetap saja dia terlihat tampan. Raka juga perhatikan rambut panjang Alam yang diberikan tergerai. Dia perhatikan punggung adiknya yang berjalan menuju motornya.
“Apa mungkin Novi tidak bisa membedakan suami sendiri?” ucapnya dalam hati,
Bersambung...