
Selamat membaca ❤️
.
.
Hari yang dinantipun tiba. Pulang dari mengajar Raka langsung menuju tempat kerja Ayara menggunakan taxi. Dia menunggu di parkir kantor istrinya masih dengan menggunakan seragam mengajarnya. Walau seharian bekerja tapi Raka tetap terlihat tampan. Melihat sang suami sudah menunggu membuat Ayara bahagia luar biasa. Dia tidak malu sedikit berlari menghampiri suaminya. Lebih cocok seperti seorang anak yang baru pulang merantau. Begitulah Ayara bila bersama sang suami akan kembali kekanak-kanakan.
Damar dan Astrid yang melihat tingkah Ayara yang sudah kembali ke settingan awal pun hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Mereka seperti tidak bertemu lama” ucap Damar merasa heran.
“Emang iya, Raka pindah mengajar makanya Ayara belakangan jadi lebih pendiam” jawab Astrid. Baik Damar maupun Astrid tidak mengetahui masalah yang sebenarnya. Cindy dan Chiko bisa menjaga rahasia itu dengan rapat.
“Oalah…pantas saja” ucap Damar kemudian.
Chiko yang baru saja hendak keluar mengurungkan niatnya. Dia tidak mau melihat kemesraan Ayara dengan suaminya. Walau dia sudah belajar melupakan Ayara tapi dia belum siap melihat kemesraan kedua orang itu yang memang terkenal bucin akut.
Dan benar saja Ayara dan Raka tidak malu saling berpelukan di parkiran kantor yang notabenenya banyak terdapat karyawan yang juga sama-sama menuju kendaraan masing-masing.
“Kangen” ucap Ayara sambil membenamkan wajahnya di dada bidang milik suaminya.
“Sama sayang” balas Raka sambil mengelus punggung Ayara.
“Kita langsung ke rumah Ibu?” tanya Ayara sambil melepas pelukannya.
Raka pun menganggukkan kepalanya.
“Kamu sudah bawa baju ganti kan?” tanya Raka memastikan.
Ayara menganggukkan kepalanya. Dia sudah membawa koper yang berisikan beberapa pasang pakaian dirinya juga sang suami. Rencananya mereka menginap sampai minggu siang.
Saat sampai di depan rumah sederhana milik Raka, Ibu sudah menunggu di depan pintu. Beliau langsung memeluk Ayara begitu melihat sang menantu menghampirinya.
Ibu bahkan menangis haru karena tidak menyangka Raka bisa kembali bersama sang menantu.
“Maafkan Raka ya nak. Maafkan Ibu juga” ucap Ibu sambil meneteskan air mata. Melihat itu jatuh juga air mata Ayara. Hampir tujuh menit mereka saling memeluk sambil menangis. Hal itu tentu saja dilihat Novi yang saat itu sedang diruang tamu bersama bayinya.
“Lebay bangeh sih Ibu” gumam Novi dalam hati.
Walau sedikit tidak suka melihat kedekatan antara mertua dan iparnya, tapi seperti biasa dia bisa menyambut kedua iparnya dengan ramah.
Ayara yang paham kalau bayi rentan terkena kuman dan virus langsung mengajak Raka untuk mandi dan ganti baju terlebih dahulu sebelum mengajak bayi yang baru berusia beberapa minggu itu bermain.
Tapi Novi memiliki pemikiran yang berbeda, Dia mengira Ayara sombong karena tidak mau menggendong anaknya. Hanya saja dia tidak mengungkapkannya dan memendamnya seorang diri.
Ayara dan Raka mandi bersama, hanya mandi dan tidak melakukan hal lebih karena masih pantang bagi Raka untuk melakukan hal-hal lainnya. Tiga puluh menit kemudian mereka berdua sudah sama-sama segar. Ayara kemudian meminta pada Novi agar diperbolehkan menggendong keponakannya.
“Uh… lucunya. Cantik banget mirip Alam” ucap Ayara sambil mengelus-elus pipi gembul bayi tersebut.
Awas saja dia menanyakan kapan lagi. Ucap Raka dalam hati.
….
Keesokan harinya Raka sedang mencuci piring di wastafel dapurnya. Wastafel tersebut tepat berada di depan jendela dan Raka sengaja membuka jendela tersebut. Dari jendela Raka bisa melihat halaman rumahnya.
Saat asyik dengan kegiatannya, ada yang memeluk dari belakang. Raka mengira itu adalah Ayara tapi ketika dia melihat keluar jendela ternyata istrinya sedang diluar bersama anak alam yang paling tua. Ayara membelalakkan matanya melihat suaminya dipeluk seseorang. Begitu pula dengan Raka. Dia langsung melepas pelukan itu dan melihat siapa yang dengan berani memeluk dirinya.
“Kamu?” tanya Raka terkejut.
Bersambung...