
“Jangan gila kamu, untuk apa Aku melakukan itu padamu?” ucap Raka yang mulai geram.
Ayara menahan lengan suaminya yang sudah mulai naik pitam.
“Aku percaya sama kamu. Aku yakin kamu tidak mungkin melakukan itu” ucap Ayara sambil mengelus-elus lengan suaminya.
Novi tersenyum muak.
“Kakak sendiri yang bilang kalau Kakak mendekatiku karena Kak Aya mandul dan Kakak ingin memiliki anak. Jangan mengelak lagi kak” ucap Novi menggebu-gebu.
Mendengar itu pecah sudah tawa Raka. Dia tertawa sambil mengejek.
Berbeda dengan Ibu yang langsung terduduk di lantai. Ibu sudah menangis.
“Kenapa kamu berbohong Novi?” tanya Ibu dengan terisak.
“Aku tidak bohong bu, Aku berkata jujur” ucap Novi yang kembali menangis seolah-olah dia sangat tersakiti disini.
“Bukan Aya yang tidak bisa memiliki anak, tapi Raka yang sakit nak. Jadi tidak mungkin Raka mengatakan itu padamu. Katakan kenapa kamu berbohong?” ucap Ibu menuntut penjelasan.
Deg.
Mendengar itu kepala Alam semakin pecah rasanya.
Dia mengguncang tubuh sang istri.
“Kenapa kamu seperti ini Nov? Kenapa kamu harus berbohong?”.
Untuk pertama kalinya Alam terlihat terguncang dan ikut menangis seperti sang Ibu.
Ayara sudah berulang kali membangunkan mertuanya tapi Ibu tetap memilih duduk di lantai. Terlihat sekali kalau Ibu kecewa pada Novi.
“Katakan! Kenapa kamu berbohong?” tuntut Alam dengan bentakan keras.
“Ini semua karena kamu. Kamu tidak pernah seperti Kak Raka. Kamu selalu memarahi ku, Kamu tidak pernah membelaku. Aku juga butuh perhatianmu Al” jawab Novi sambil memukul-mukul dada bidang Alam.
Mendengar jawaban istrinya membuat Alam ikut melorotkan tubuhnya di lantai seperti Ibunya. Alam tidak menyangka kalau istri yang begitu dia cintai akan melakukan hal seperti ini.
“Aku ingin mempunyai suami seperti Kak Raka, Dia selalu perhatian pada Kak Aya. Sedangkan kamu? Kamu selalu saja marah-marah dan menyalahkan Aku. Aku juga ingin disayang suamiku” lanjut Novi.
Mendengar itu membuat Alam menutup telinganya. Sakit rasanya mendengar istrinya sendiri membandingkan dirinya dengan Kakaknya sendiri.
Alam sangat mencintai Novi, walau berulang kali Alam menyaksikan sendiri bagaimana Novi mencibir Ayara yang tidak bisa mempunyai anak tapi Alam tidak pernah berniat untuk menceraikan istrinya. Dia lebih baik memberitahu Novi secara langsung kalau tindakannya salah. Siapa sangka Novi malah salah paham akan hal itu. Alam hanya tidak ingin Novi terjebak dalam kubangan iri dan dengki. Alam memberitahu Novi karena Novi adalah tanggung jawabnya. Sudah kewajiban Alam untuk menegur istrinya bila melakukan kesalahan.
“Apa pernah Aku memarahimu di depan umum?” tanya Alam yang sudah tidak bisa menutupi rasa kecewanya.
“Tidak, tapi saat berdua kamu memarahiku habis-habisan. Kamu selalu menganggap Aku salah. Kamu tidak membela Aku” jawab Novi yang masih terus menganggap Alam lah yang salah.
Alam menghela nafas berat. Kekecewaannya sudah begitu menumpuk.
“Aku ingin kamu menggenggam tanganku saat kita jalan bersama, Aku ingin kamu merangkul pundakku saat kita di depan umum. Tapi kamu? Kamu seolah malu bila bersama ku. Jangankan mengharapkan rangkulanmu, genggaman tanganmu pun tak pernah Aku dapatkan” Novi mengungkapkan semua isi hatinya.
“Aku iri pada Kak Aya, dia bisa dapatkan kasih sayang dari Kak Raka. Ibu juga begitu menyayangi Kak Aya. Sedangkan Aku? Jangankan mengharapkan kasih sayang Ibu, kasih sayang suami pun aku tidak mendapatkannya.”
Ibu kembali menangis.
“Ibu tidak pernah membeda-bedakan kasih sayang nak. Ibu menyayangi kalian sama rata” ucap Ibu membalas ucapan menantunya.
“Aku tidak percaya bu. Aku tau Ibu tidak menyukai Aku. Aku tidak bisa seperti Kak Aya yang setiap datang membawakan oleh-oleh dan memberikan uang bulanan untuk Ibu. Mana mungkin Ibu menyukai menantu yang tidak berpenghasilan seperti ku?”.
“Menantu yang datang sebulan sekali dan memberikan uang, memang akan menang dengan menantu yang hanya dirumah saja. Padahal menantu dirumah yang menjaga mertua” ucap Novi menggebu-gebu.
Ayara yang mendengar itu begitu sakit hatinya. Dia tidak menyangka Novi akan memiliki pemikiran seperti itu.
“Oh jadi begitu. Baiklah. Mulai hari ini Ibu akan tinggal bersamaku dan Aya. Kamu tidak akan direpotkan dengan mengurus Ibuku lagi” ucap Raka yang sudah sangat emosi saat ini.
“Tidak perlu karena Aku dan Alam akan bercerai” ucap Novi membalas kata-kata Raka.
Mendengar kata cerai dari istrinya membuat Alam langsung berdiri.
“Kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan Nov?” tanya Alam emosi.
“Sangat sadar. Aku pergi hari ini juga. Aku tidak akan mengajak anak-anak. Kamu uruslah kedua anak kita. Supaya kamu tau kalau mengurus anak itu tidak mudah” jawab Novi yang seperti tidak ada raut menyesal di wajahnya.
Alam sungguh sudah kehabisan kata-kata.
“Kamu bukan Novi yang aku kenal. Silahkan kalau kamu mau pergi” ucap Alam sambil menunjuk pintu.
Tanpa mengambil barang apapun, Novi langsung keluar dari rumah itu.
“Al.. kejar Novi Al. Anakmu masih membutuhkan Ibunya” ucap Ibu yang sudah kembali menangis.
Alam tidak mendengarkan. Dia sudah begitu kecewa dengan istrinya. Alam memilih masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu.
Bersambung...