If You Leave My World

If You Leave My World
Beri Aku Waktu



Beri Aku waktu untuk bisa menerima semua ini. Aku masih bingung harus berbuat apa. Semuanya terlalu mengejutkan buatku.


Kata-kata Ayara terus terngiang-ngiang di kepala Raka. Saat ini Raka berada di rumah sakit untuk konsultasi lebih lanjut tentang penyakit yang dia derita.


Setelah kepulangannya dari rumah sang istri, Raka segera menuju ke rumah sakit. Dia ingin melakukan operasi selama cuti ini. Operasinya memang memakan waktu cukup lama yakni tiga jam, tapi setelahnya pasien bisa langsung rawat jalan atau boleh pulang. Tidak perlu opname.


Selama menunggu namanya dipanggil, Raka meluangkan waktu untuk membalas komentar pengikutnya di sosial media.


Tak sedikit yang menjodohkan dirinya dengan ketiga influencer tersebut padahal jelas-jelas Raka sudah memiliki istri. Begitulah netizen Indonesia senang sekali menjodohkan idolanya dan tidak segan menjelekkan pasangan yang mereka anggap tidak cocok.


Dulu sebelum menjadi influencer Raka sering mengabadikan potretnya dengan sang istri di sosial media tapi lama-lama tak sedikit yang tertarik dengan sang istri hingga membuat Raka cemburu, sejak saat itu dia tidak pernah lagi memposting foto istrinya. Dan untungnya Ayara memang bukan tipe orang yang suka memposting sesuatu di sosmed, jadi Raka tidak terlalu khawatir akan hal itu.


Masih sibuk membalas komen komen pengikutnya, panggilan masuk dari Deni sahabatnya pun menghentikan aktifitas dari Raka. Dia langsung menerima panggilan tersebut.


"Kamu dimana?" tanya Deni saat Raka baru saja mengucap kata Halo. Bukannya memberi salam Deni langsung saja ke intinya.


"Kenapa?" bukannya menjawab Raka malah balik bertanya.


"Tadi pagi aku sempat ke kontrakanmu tapi kamu tidak ada" jawab Deni.


"Oh.. Aku pulang ke rumah. Mumpung cuti" jawab Raka.


"Kamu dimana sekarang? Mumpung Aku juga sudah di kota" jawab Deni. Dia ingin berbicara secara langsung dengan Raka.


"Aku di Rumah sakit international" jawab Raka.


"Siapa yang sakit?" tanya Deni terkejut.


"Aku yang sakit" jawab Raka santai.


"Jangan bercanda" ucap Deni tak percaya.


"Aku serius. Untuk apa aku berbohong" jawab Raka.


"Aku kesana sekarang" ucap Deni dan langsung mengakhiri panggilannya secara sepihak.


Dari dulu Deni memang seperti ini, dia satu-satunya sahabat Raka yang sudah seperti saudaranya sendiri.


Tak berapa lama, Deni pun tiba di rumah sakit. Raka sudah mengabari kalau dia berada di unit mana.


"Ceritakan. Apa ini penyebab kamu memilih bercerai?" tuntut Deni tidak sabaran.


Raka menganggukkan kepala.


"Ya Tuhan...." Deni mengacak rambutnya karena tidak bisa menerima jawaban yang Raka berikan.


"Kenapa kamu bodoh sekali sih Raka? Bodoh itu juga ada batasannya dong ! " Ingin sekali Deni memaki-maki sahabatnya sekarang tapi dia masih ingat tempat kalau mereka sedang ada di rumah sakit.


"Bapak Eshel Raka Admaja".


Suara panggilan bagi Raka untuk memasuki ruangan pemeriksaan menghentikan umpatan dari Deni. Raka kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut disusul oleh Deni. Dia pun ingin mengetahui bagaimana keadaan Raka.


...


Ayara sendiri saat ini tengah berbaring di kamarnya. Memikirkan semua yang Raka katakan.


Kalau benar yang dia katakan kenapa dia bisa mempunyai ide gila seperti itu? Kenapa dia tidak jujur saja? Apa dia pikir aku tidak akan bertahan bila tau kalau dia tidak bisa memberikan keturunan?


Ayara kemudian kembali mengingat-ingat momen saat mereka membicarakan tentang anak.


“Aku ingin sekali punya anak, Aku ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi Ibu. Ingin sekali”.


“Aku ingin nanti kalau kita dikasih kepercayaan untuk memiliki anak, kita ajak anak kita kesini. Duduk lesehan sambil makan jagung pasti seru”.


Air mata Ayara menetes ketika mengingat-ingat kata-katanya yang ingin sekali memiliki anak.


Ya Tuhan... Ternyata Raka terbebani dengan apa yang aku katakan.


Apakah aku harus memaafkan dia?


Apakah dia bisa berjanji untuk tidak menutupi apapun dari ku lagi?


Bersambung...