
Raka sudah kembali ke kontrakannya. Kini dia sudah sangat yakin untuk menceritakan semuanya pada Ayara. Raka berharap Ayara bisa memaafkan dirinya serta menerima segala kekurangan yang ada pada dirinya.
Tuhan sepertinya berpihak pada Raka saat ini, kebetulan tanggal dua satu, dua dua, dan dua tiga ada libur panjang dan tanggal dua empatnya hari minggu. Selama empat hari dia bisa tinggal di kota.
Raka akan menebus dosa-dosanya pada Ayara. Raka berharap Ayara bisa memaafkan semua kesalahannya.
Surat gugatan perceraian sudah Raka terima. Tapi Raka sama sekali tidak mau menandatangainya. Raka tidak mau berpisah dengan Ayara. Raka sangat menyesal telah berbuat seperti ini pada wanita yang begitu dia cintai.
Hari yang dinanti telah tiba. Sepulang mengajar ditanggal dua puluh , Raka sengaja datang menjemput Ayara di kantornya.
Astrid yang keluar paling pertama begitu terkejut melihat kedatangan Raka.
"Wah... Apa kabar Raka? Lama tidak bertemu" ucap Astrid sambil menjabat tangan Raka.
"Baik mbak. Iya soalnya saya pindah mengajar ke desa N" jawab Raka tersenyum.
"Oalah...pantesan Ayara ngelamun terus belakangan ini. LDR toh alasannya" ucap Astrid sambil terkekeh.
"Oh iya, boleh minta tanda tangan kamu gak buat sepupu Aku? Waktu ini minta ke Ayara ada aja alasannya" lanjutnya sambil menyerahkan buku agenda dan pulpen pada Raka.
"Iya mbak tentu saja" jawab Raka sambil menerima kertas dan pulpen tersebut.
"Siapa namanya mbak?" tanya Raka menanyakan nama sepupu Astrid.
"Felicia Wijaya" jawab Astrid cepat.
Raka kemudian menorehkan tanda tangan serta kata-kata motivasi untuk Felicia Wijaya yang katanya merupakan penggemar Rakam
Astrid tersenyum lebar. Akhirnya dia tidak akan diteror lagi oleh sepupunya itu.
"Thanks a lot ya, Raka. Bentar lagi Ayara selesai kok" setelah mengucapkan terima kasih Astrid pun berpamitan dan meninggalkan Raka menunggu Ayara selesai dengan pekerjaannya.
Melihat interaksi antara istrinya dengan Chiko membuat Raka begitu cemburu. Saat itu juga mata mereka saling bertemu.
Deg.
Senyum Ayara langsung redup.
"Sayang..." panggil Raka seraya mendekati sang istri.
Sayang? Gumam Ayara jengah.
"Ayo kita pulang" ucap Raka sambil meraih tangan Ayara.
Ayara menepis tangan Raka dan meninggalkannua begitu saja.
Raka yang ingin mengejar Ayara langsung ditahan Chiko. Chiko pegang erat lengan Raka agar tidak bergerak.
"Maksud mu apa datang lagi? Jangan jadi lelaki plin plan. Kalau kamu lelaki sejati harusnya kamu komitmen dan tidak mendekati Ayara lagi" ucap Chiko penuh penekanan.
"Ayara masih istriku. Aku berhak mempertahankan rumah tangga kami" ucap Raka tegas lalu menghempas cekalan tangan Chiko.
"Dasar plin plan. Kamu cocoknya jadi wanita saja" ucap Chiko berusaha memanasi Raka.
"Aku tau maksud kamu mengatakan ini. Tapi maaf itu tidak akan mempan" ucap Raka dan berlalu meninggalkan Chiko yang saat ini wajahnya sudah memerah menahan marah.
Sialan Raka. Jangan harap setelah semua yang sudah aku rencanakan dan korbankan lalu aku akan menyerah begitu saja. Itu tidak akan mungkin. Kita lihat siapa yang akan menang.
Chiko mengepalkan tangannya. Dia sudah sampai sejauh ini dan sampai kapanpun dia tidak akan menyerah. Chiko akan melawan Raka sampai titik darah penghabisan.
Bersambung...