
Suara ketukan sepatu milik Ayara memenuhi lorong di salah satu perusahaan yang menjadi tempatnya melakukan interview. Ayara berpenampilan begitu cantik pagi ini.
Ayara memakai kemeja putih dengan garis abu serta luaran blazer yang berwarna abu. Celana bahan berbentuk cutbray berwarna hitam, white shoes dan handbag berwarna hitam. Makeup tipis tapi tetap dapat menonjolkan wajah cantiknya. Memang benar kata Raka kalau Ayara begitu cantik.
Ayara di interview langsung oleh owner hotel tersebut. Pria muda yang mungkin usianya masih tiga puluh tahunan. Tampan dengan wajah kebarat-baratan. Di name tag tertera namanya Keenan Prawira.
Ayara dengan percaya diri menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Keenan. Selama interview tidak ada suasana tegang karena ownernya sendiri begitu ramah dan bersahaja. Satu jam saja proses interview selesai dan hasilnya langsung Ayara dapatkan.
"Selamat ya.. Mulai besok kamu sudah bisa bekerja disini" ucap Keenan sambil menyalami Ayara.
"Terima kasih Pak" ucap Ayara senang sekali.
Ayara sudah tidak sabar memberitahukan pada suaminya. Tapi sekarang dia belum bisa ke tempat Raka karena harus mengajukan resign secara resmi ke kantornya yang lama. Secara lisan dia memang sudah menyampaikan keinginan resignnya. Walau tidak diterima Ayara memang tetap akan resign tapi ternyata Tuhan begitu baik karena dia bisa langsung diterima di tempat yang baru.
Ditempat kerja yang lama seperti perpisahan pada umumnya terjadilah drama tangis-tangisan. Tiga tahun menjadi partner kerja mereka termasuk team yang solid karena jarang yang keluar masuk perusahaan dengan alasan ketidaknyamanan. Selain Salary yang lumayan, sistem kerja disini juga sangat flexible hingga semua karyawan nyaman bekerja disana.
Tapi yang namanya prioritas pasti ada, walau sudah sangat nyaman tapi Ayara tentu harus memilih keluarga atau karir dan Ayara lebih memilih keluarganya.
"Ra.. Maafin Aku ya" ucap Cindy pada Ayara. Saat ini Cindy, ayara dan Chiko berada di cafe di dekat kantor mereka.
"Iya mbak, aku juga minta maaf ya kalau sudah membuat kita tidak nyaman" ucap Ayara yang juga turut meminta maaf.
Cindy kemudian memeluk sahabat baiknya itu.
"Jangan lupain Aku ya Ra... Sering-sering main kesini" ucap Cindy sambil menepuk-nepuk punggung Ayara.
"Mbak juga ya, jangan lupain Aku" balas Ayara.
Ayara dan Cindy cukup lama berpelukan sambil menangis Sudah cukup lama mereka tidak seperti ini.
Setelah cukup puas saling mengucapkan kata maaf , kini giliran Chiko yang meminta maaf pada Ayara.
"Maafkan keegoisan Aku ya Ra... Harusnya kalian bisa menyelesaikan masalah dari awal kalau aku jujur padamu" ucap Chiko merasa bersalah.
Ayara pun menganggukkan kepalanya. Dia tidak ingin menyisakan dendam dan kekecewaan. Semuanya sudah terlanjur terjadi.
"Apa?" tanya Ayara penasaran
Cindy yang baru mengetahui fakta ini juga tidak kalah kepo. Cindy tidak menyangka kalau Chiko malah lebih banyak tau dari dirinya.
"Maysarah itu adalah ideku. Aku yang memberitahu Maysarah untuk kolaburasi dengan Raka. Semua ide idenya aku yang susun termasuk saat kamu melihat mereka berpelukan" Aku Chiko sejujurnya.
Ayara membulatkan mata tidak percaya. Begitu pula Cindy.
"Maafkan Aku. Aku terlalu terobsesi padamu" ucap Chiko merasa bersalah.
Bukan Ayara yang kesal melainkan Cindy.
"Gila kamu Ko...Dasar Gila..." ucap Cindy sambil memukul mukul punggung Chiko.
"Sudah Mbak... Aku sudah bisa menerima ini semua kok. Aku tidak ingin menyimpan amarah. Terima kasih karena kamu sudah mau jujur sama Aku ya Ko" ucap Ayara sambil tersenyum tipis.
Melihat Ayara yang tidak marah padanya membuat Chiko semakin merasa bersalah.
" Aku minta maaf Ra.. Aku sangat menyesal"Chiko terus mengulang-ulang permohonan maafnya.
Ayara menganggukkan kepalanya. Dia menepuk-nepuk pundak Chiko.
"Aku mohon Kamu bisa berubah menjadi lebih dewasa lagi. Kamu sudah tua ko" ucap Ayara sambil terkekeh.
Cindy yang awalnya masih kesal ikut tertawa mendengar kata tua yang ayara lontarkan.
"Iya, kamu sudah tua. Sudah mau kepala tiga. Cari pacar sana" goda Cindy pula.
Chiko mendengus sebal. Tapi dia cukup senang karena Ayara mau memaafkannya.
Bersambung...