
Sudah sebulan berlalu dari kejadian Novi meninggalkan rumah. Alam sudah menurunkan egonya menjemput istrinya beberapa kali untuk kembali bersama tapi Novi menolak dengan tegas. Dia bahkan tidak pernah menanyakan tentang keadaan anaknya. Padahal Amina masih memerlukan perhatian Ibunya. Tapi Novi seperti tidak ada perasaan bersalah sedikitpun pada anaknya. Dia bagaikan wanita single yang bebas kemanapun dia pergi. Novi mulai bekerja dan kabarnya sudah dekat dengan pria baru. Dia juga sudah mengurus surat perceraiannya dengan Alam. Alam juga sudah pasrah, dia tidak akan lagi memohon-mohon pada istrinya untuk kembali bersama setelah melihat sendiri Novi melakukan kencan dengan pacar barunya.
Tak butuh lama perceraian itu pun akhirnya terjadi. Novi sama sekali tidak menuntut hak asuh. Anak-anaknya dengan sukarela dia berikan hak pengasuhannya kepada Alam.
"Lam..biarkan aku saja yang merawat kedua anakmu. Kamu tidak perlu risau bila ingin bekerja ke luar negeri" ucap Raka yang saat ini sedang berada dirumah Ibunya.
Alam memang mendapat tawaran kerja diluar negeri tapi dia bimbang karena tidak tega dengan kedua anaknya.
"Ibu akan aku ajak tinggal bersama. Kamu tidak perlu khawatir" lanjut Raka.
"Terima kasih Kak. Aku sudah banyak merepotkan kakak selama ini" ucap Alam sungkan. Semenjak Novi pergi dari rumah alam sungguh kacau, usaha keluarga yang dikelola selama ini terancam gulung tikar. Untung saja Raka yang membantu mengelolanya. Kini Raka mempekerjakan karyawan yang kompeten untuk mengelola usaha tersebut.
"Kita adalah saudara. Kamu tidak perlu sungkan" sahut Raka kemudian.
Alam menghela nafas beberapa kali. Kini Alam juga tau alasan Novi memutuskan berpisah. Alam bukanlah pria mapan yang dia impikan selama ini. Novi tidak bisa membanggakan Alam pada teman-temannya yang notabenenya wanita-wanita sosialita. Untuk itu Alam bertekad akan membuat dirinya menjadi orang yang lebih bervalue dengan bekerja keluar negeri.
Hari dimana Alam berangkat ke luar negeri pun tiba. Dia akan bekerja di kapal pesiar xx. Di kontrak selama kurang lebih 9 bulan dengan gaji yang cukup besar. Alam sudah bertekad akan menjadi orang yang sukses dan menunjukkan kepada Novi kalau dirinya juga bisa menjadi pria yang mapan.
"Ayah berangkat dulu ya nak" ucap Alam sambil mencium pipi kedua anaknya secara bergantian. Air mata sudah tidak bisa dia bendung lagi.
Setelah berpamitan , Alam segera berlari memasuki bandara. Tidak bisa ditebak seberapa sakitnya hati Alam. Sampai saat ini pun dia tidak menyangka kalau hubungannya dengan Novi akan berakhir seperti ini.
"Nak...Maafkan Ayah ya" ucap Alam sambil menghapus air matanya.
Melihat Alam yang pergi sambil berlari membuat hati Raka pun ikut menjadi sesak.
"Ayo kita pulang nak" ajak Raka sambil menggendong Azka.
Amina yang awalnya digendong Ibu kini diambil alih oleh Ayara. Ibu sudah menangis melepas kepergian putra bungsunya bekerja keluar negeri.
"Al...kenapa begini nasibmu nak" batin sang Ibu.
Mereka berlima kemudian pulang ke rumah kontrakan Raka. Rumah Raka yang di kota sudah dia jual dan uangnya akan dia pergunakan untuk membeli rumah di desa. Raka akan membuka lembaran baru di rumah yang baru bersama istri, Ibu dan kedua keponakannya.
Bersambung...