
Saat Amina dipindah dari gendongan Ayara ke gendongan Raka, si kecil itu kembali terbangun dan merengek minta Mamanya.
"Mama" Amina merengek memanggil Ayara.
Ayara kembali mengambil Amina dari gendongan Raka dan menggoyangkan tubuh mungil itu agar kembali tertidur.
Alam tidak bisa berkata-kata, dia begitu terharu karena ada yang begitu menyayangi putrinya seperti anak sendiri.
"Sambil duduk aja yuk" pinta Raka sambil menuntun Ayara ke sofa.
"Nanti kamu kecapean" imbuhnya.
"Ayara sakit nak?" tanya Ibu khawatir. Dia baru ingat kalau Raka dan Ayara baru datang dari klinik.
Raka menggeleng. Dia mendekat pada Ibunya lalu berlutut di kaki wanita yang melahirkannya.
"Ayara hamil bu, Aku akan jadi Ayah" ucap Raka yang masih bersimpuh di kaki Ibu.
Ibu menutup mulutnya , dia sangat bahagia saat ini. Dia membangunkan Raka dan memeluknya.
"Selamat ya nak, akhirnya setelah penantianmu selama ini membuahkan hasil. Tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan umat-Nya." ucap Ibu sambil memeluk Raka erat lalu beralih memeluk Ayara.
Alam pun melakukan hal yang sama. Dia memeluk kakaknya dan mengucapkan selamat. Kita memang tidak pernah tau rencana Tuhan itu seperti apa. Dulu Novi sering menjelek-jelakkan Kakak dan Kakak iparnya yang belum juga memiliki anak, tapi kini akhirnya Tuhan mengabulkan doa mereka. Novi sendiri yang sudah diberikan kepercayaan menjadi seorang Ibu malah menelantarkan anaknya sendiri. Bila Alam mengingat bagaimana kata-kata jahat yang keluar dari mulut mantan istrinya pada Kakak dan Kakak iparnya, Alam akan semakin membenci mantan istrinya.
Mungkin perceraian ini adalah yang terbaik untuk ku. Novi bukanlah wanita yang terbaik untukku. Batin Alam.
Sore harinya, Ibu langsung mengadakan syukuran atas kehamilan menantunya. Ibu juga membagikan nasi kotak pada panti Asuhan Kasih Ibu yang letakknya tidak terlalu jauh dari rumah Raka. Ibu merasa Tuhan begitu baik, disaat semua anggota keluarga berkumpul saat itu juga Tuhan menghadiahkan anggota keluarga baru pada mereka.
"Pak... Sebentar lagi kita akan memiliki anggota keluarga baru. Anak pertama kita akan menjadi seorang Ayah" ucap Ibu seolah berbicara dengan mendiang suaminya.
Ayara pun demikian, saat dia sudah pasrah dan tidak pernah membicarakan tentang anak lagi, Tuhan malah mengabulkan doanya.
Ayara pandangi wajah Amina yang sedang tertidur dipangkuannya.
"Mama, kata Papa Aku akan punya adik ya?" tanya Azka yang baru saja duduk disebelah Ayara.
Ayara menganggukkan kepalanya.
"Azka seneng gak nambah adik lagi?" tanya Ayara pada putranya.
Azka pun menganggukkan kepala antusias.
"Seneng banget Mama" jawab Azka yang tidak bisa menutupi rasa bahagianya.
Ayara mengelus puncak kepala Azka dengan sayang sambil tersenyum.
"Nanti Azka jaga dan lindungi andik-adik ya. Azka sayangi mereka berdua" ucap Ayara sambil terus mengelus rambut Azka dengan sayang.
Azka kembali menganggukkan kepalanya.
"Adiknya cowok ya Mama, biar Azka punya teman main" ucap Azka pula.
Ayara hanya terkekeh saja menimpali. Dia tidak mau menjanjikan sesuatu yang belum tentu bisa dia tepati.
Raka ikut bergabung dengan istri dan anaknya.
"Sini Amina sama Papa" ucap Raka meminta Amina dipindah kepangkuannya.
"Boboin di kamar aja ya?" ucap Raka pula. Setelah dari panti asuhan Amina kembali tertidur di pangkuan Ayara dan tidak mau dipindahkan. Setiap Raka atau Alam yang menggendong pasti terbangun lagi. Dia sudah sangat nyaman berada di gendongan Ayara.
Ayara menganggukkan kepalanya. Kasihan juga kalau Amina kelamaan digendong.
Mereka berempat kemudian masuk ke dalam kamar. Nanti bila Amina terbangun Ayara bisa langsung menidurkan kembali.
Bersambung...