
Setelah Alam dan keluarga kecilnya keluar dari showroom, Novi keluar dari tempat persembunyiannya dan menghampiri temannya yang melayani Alam tadi.
"Gimana?" tanya Novi pada temannya.
"Gimana apanya?" tanya teman Novi yang bernama Ayu.
"Yang tadi beli mobil" jawab Novi.
"Oh... Tunai. Baru balik dari kapal pesiar. Ganteng banget beruntung istrinya" ucap Ayu memberi penjelasan.
"Sudah menikah ya?" tanya Novi yang mengira Alam sudah menikah lagi.
Ternyata dia kerja ke kapal pesiar, pantas saja Kak Raka yang merawat anak-anak.
"Anaknya lho sudah dua, eh tapi aku coba lihat KTP nya dulu bisa jadi duda hahaha" jawab Ayu cengengesan.
Novi menghela nafas berkali-kali. Kini hanya penyesalan yang meliputi dirinya.
"Al..Aku menyesal. Maafkan Aku Al" ucap Novi dalam hati.
....
Malam telah tiba, Alam meminta untuk tidur dengan kedua anaknya. Ayara yang terbiasa tidur berempat kini merasa kehilangan.
Dia tidak bisa tidur dan begitu gelisah. Raka pun menyadari kegelisahan istrinya. Dia mendekatkan tubuhnya kemudian memeluk dari belakang.
"Kenapa sayang?" tanya Raka sambil mencuri kecup di pipi istrinya.
Ayara membalik tubuhnya menghadap ke sang suami. Matanya sudah berkaca-kaca.
"Rasanya ada yang hilang" jawab Ayara sejujurnya. Dia yang sudah menganggap Amina dan Azka seperti anak sendiri merasakan ada yang hilang bila tidak lagi tidur bersama.
Raka mengelus puncak kepala istrinya dengan sayang dan memberi ciuman mesra disana.
"Kita tidak boleh egois, bagaimanapin Amina dan Azka adalah anak Alam" ucap Raka memberi pengertian.
"Iya Aku tau, tapi tetap saja aku merasa kehilangan" ucap Ayara sejujurnya.
Cup.
Raka kembali memberikan ciuman pada kening istrinya.
Ayara pun menganggukkan kepalanya.
"Setidaknya malam ini kita tidak perlu terburu-buru seperti biasanya" ucap Raka sambil menaik turunkan alisnya penuh maksud.
Ayara mencubit dada bidang suaminya.
Disaat seperti ini pikirannya malah ke arah itu terus.
Raka terkekeh kemudian semakin merapatkan diri. Dia cium bibir istrinya penuh perasaan. Mereka saling bertukar saliva hingga adegan selanjutnya pun terjadi.
....
Raka meraba-raba sisi tempat tidurnya, biasanya sang istri akan berada disampingnya. Tapi pagi ini sisi tempat tidurnya sudah kosong.
Raka melihat jam di dinding kamarnya yang masih menunjukkan pukul empat pagi.
"Kemana dia ya?" tanya Raka pada dirinya sendiri.
Pertanyaannya terjawab saat terdengar suara muntah-muntah dari dalam kamar mandi.
Raka langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri sang istri.
"Sayang...kamu kenapa?" tanya Raka khawatir. Dia memegang tengkuk istrinya yang masih muntah-muntah.
"Kamu hamil?" tanya Raka dengan wajah berbinar.
Ayara menggeleng.
"Enggak lah yank... Malah aku takut Demam berdarah lagi" ucap Ayara saat selesai membasuh mulutnya.
Raka nampak mengingat ingat sesuatu.
"Tapi bisa jadi kan kamu hamil? Bukannya sudah hampir dua bulan kita tidak pernah absen?" tanya Raka pula. Dia ingat selama hampir dua bulan ini tidak absen ber cin ta walau sering diganggu kedua anak mereka.
Ayara nampak mengingat ingat kapan terakhir dia datang bulan dan memang sepertinya sudah cukup lama memang. Tapi Ayara takut terkena prank lagi, tahun ini dia sudah kena prank dua kali dan Ayara tidak mau menjadi yang ketiga kalinya.
Bersambung...